Dapatkan Industri Nasional Bangkit Menjadi Penggerak Inovasi dan Pertumbuhan Ekonomi ?

Jusman Syafii Djamal

Kini kita hidup dalam era “Akselerasi Teknologi”. Tumbuh kembangnya teknologi mengalami percepatan. Sebelum tahun 2005 pertumbuhan teknologi selalu ikuti rumus sederhana : 10 tahun R&D, Riset Pengembangan dan 10 tahun berikutnya Meledak jadi kekuatan produksi dan pertumbuhan ekonomi suatu wilayah.

Ambil contoh bagaimana pada 1 januari 1954, NBC sebuah stasiun TV menyiarkan laporan pandangan mata pertama tentang Parade Bunga. Siaran pertama TV bewarna dalam layar sempit. Yang sempat melihat nya amat takjub sebab dapat mengamati dari rumah sebuah parade pameran bunga yang seolah liwat didepan jendela. Penuh warna. New York Times menyebutnya sebagai :”a veritable bevy of hues and depth”, untuk menjelaskan keindahan penyajian warna warni dalam layar tv yang ketika itu dominan hitam putih dalam skala layar yang kecil.

Akan tetapi program tv bewarna baru muncul kemudian jadi trend hampir sepuluh tahun sesudahnya. Di awal tahun 60 an. Dan masyarakat luas baru bisa menikmatinya setelah munculnya VCR dan tvi kabel diakhir 1970 an, itupun di Amerika. Diperlukan waktu 10 tahun sebuah inovasi mengendap dilaboratorium, diuji coba diamati feasibilitasnya dan kemudian dihitung untung ruginya untuk diproduksi secara massal.

Inovasi baru disebut perubah cara produksi jika temuan dimaksud baik berupa proses maupun produk mampu didorong menjadi unggul dalam persaingan di pasar. Tanpa keuntungan dan dampak di “market share” inovasi kalah sebelum bertanding.

Begitu juga ditengah era 80 an sejumlah pimpinan media terkenal dan ceo perusahan pengembang teknologi telah menjali kerjasama dengan para politisi pengambil keputusan untuk mentransformasi cara kerja “broadcasting”. Kualitas video ditingkatkan menjadi apa yang saat ini dikenal sebagai High Definition TV.

Akan tetapi ide ini baru terwujut dalam kenyataan setelah perusahaan boradcasting Raleigh di North Carolina yang merupakan perusahaan afiliasi CBS memunculkan nya dalam program tv di tgl 23 bulan Juli 1996.

Sepuluh tahun diperlukan untuk maju mundur dalam proses debat tentang benefit cost ratio diantara para engineer yang mendorong kemajuan teknologi dan para akuntan yang menghitung tiap cent keuntungan ekonomis serta dampak sosial yang terjadi, jika HDTV ini diluncurkan. Akan tetapi HDTV baru manjadi fenomena tahun 2001 setelah lima tahun kemudian.

Dengan kata lain dari dua contoh pengembangan inovasi berbasis teknologi tersebut Rule 10-10 berlaku. Diperlukan waktu 10 tahun untuk melakukan Riset dan Pengembangan Produk Baru, dan diperlukan waktu 10 tahun lagi tambahan agar sebuah inovasi menjadi fenomena baru dilpasar.

Costly. Sebuah perjalanan panjang penuh resiko dan biaya. Karenanya tak mudah sebuah karya disebut sebagai inovasi. Tak mudah orang menyandang gelar Inovator.

Atau seperti kata Steven Johnson dalam bukunya :”Where Good Ideas Come From : The seven Patterns of innovation”, ia bilang begini :” HDTV story suggest that …… we need a decade to build the new platform and decade for it to find a mass audience “, we called it the 10/10 Rules,

Begitu juga rule ini dapat dijejaki dari kemajuan penggunaan Amplitude Modulated Radio yang dikenal dengan istilah AM/FM. Stasion radio AM mulai broadcast diawal era 20 an, dan baru diakhir era 20 an ia menjadi siaran dirumah tangga America.

Sony meng inaugural “video cassette recorder tahun 1969, tetapi baru tujuh tahun kemudian produksi Betamax hingga tengah tahun 80an dan VCR menjadi phenomena.Dan baru tahun 2006 DVD mengganti peran VCR.

Cell phones, personal computers, peralatan Navigasi GPS juga ikuti time frame yang sama 10 tahun berada dilaboratorium sebagai embryo, diubah jadi prototype, uji marketing baru kemudian 10 tahun merangkak dalam persaingan menjadi unggul. Hal yang sama pernah saya alami. Tahun 1989 Prof.BJ.Habibie selaku President Direktur IPTN mampir blusukan keruang kerja saya. Sambil menepuk bahu beliau bilang :”Jusman , saya ingin kamu baca hasil Riset tentang airfoil supercritical ini. Beliau memberi sebuah buku hasil uji terowongan angin terbaru. Kemudian beliau membuat sketsa , layout. Dari inspirasi dan hasil Riset airfoil itu sy menemukan pilihan konfigurasi sayap yg sesuai misi nya.

Awal tahun 1989 Lahirlah embryo pesawat N250 dimeja kerja saya. melalui tulisan tangan beliau. Saya bersama para engineer lainnya bekerja siang malam, melakukan analisa, mengitung semua kemungkinan asitektur struktur design dan system kendali terbang, mengujinya dilaboratorium dan merubah gambar teknis menjadi komponen dan mewujutkan nya menjadi 2 prototype. Tahun 1995, enam tahun kemudian N250 prototype terbang perdana. tahun 1997 Pesawat N250 sebagai inovasi dibawa terbang ke Paris Airshow, diperkenalkan.

Perlu waktu hampir 10 tahun untuk lahirkan produk”. Sayang ketika produk baru itu sedang ada dalam uji terbang dengan 800 jam terbang, krisis ekonomi asia terjadi. Produk tak jadi inovasi perubah pasar.

Dengan kata lain Inovasi Teknologi dimasa lalu selalu ikuti rumus 10/10. Sepuluh tahun dierami dan menetas sebagai benih.Sepuluh tahun diperkenalkan dipasar dan merangkak untuk jadi unggul dan pembangkit pertumbuhan ekonomi perusahaan.

Akan tetapi rumus inovasi 10/10 ini berubah ketika Chad Hurley, Steve Chan dan Jawed Karim bekerjasama melakukan Riset dan menemukan produk “Paypal” diawal tahun 2005.

Mereka berkata bahwa Web dan Internet telah jukup masak untuk dijadikan platform merubah tatacara kita mengolah informasi melalui suara dan video, mereka me “launch You Tube”. Sebuah “website” yang kemudian mampu mentranformasikan tatacara informasi video diunggah dan dinikmati.

Dalam tempo enambulan , inovasi ini telah membuat penonton mengunggah video milik mereka sendiri 50 juta perhari. Dalam tempo dua tahun You Tube menjadi “the top ten most visited sites on the web”.

Kini kemajuan teknologi telah menyebabkan orang biasa menemukan wahana untuk secara efektip menampilkan gambar dan video milik pribadi untuk dinikmati banyak kalangan. Tiap orang ditiap rumah seolah bisa menjadi pemilik studio tv nya sendiri. Membroadcast apa yang diinginkan.

Disebut Netizen Journalism. Baik melalui You Tube, Facebook maupun Google dan Appstore IOS. Rumus 10/10 dalam inovasi seolah berubah drastis dari 10/10. sepuluh tahun di laboratorium dan di pusat riset, menjadi 1/1. Satu tahun sebagai embryo dan kemudian satu tahun kemudian dilepas di pasar untuk menjadi unggul.

Percepatan Inovasi menjadi tak terelakkan. Karenanya semua Industri kini sedang dalam persimpangan jalan. Yang terus menggenggam Rumus masa lalu 10/10 akan terus tertinggal dengan mereka yang terus berlari kencang dengan Rumus 1/1. Tiap tahun lahir produk baru, tiap tahun muncul pesaing baru.

Akan kah kita terus terlena dengan konsep lama dan terus menerus meratapi mengapa Daya Saing terus merosot ?

Kunci Daya Saing adalah Manusia Bersumber Daya Iptek yang diberi peran lebih besar untuk berkiprah. Daya saing hanya mungkin meningkat jika Industri di Indonesia di Revitalisasi.

Dalam debat Presiden Amerika antara Hilary Clinton dan Donald Trump tampak jelas spektrum policy yang mereka perbincangkan ditengah akselerasi kemajuan teknologi yang telah dikuasai Bangsa Amerika. Yang menurut hemat saya juga kita hadapi saat ini. Kemana kita hnedak melangkah. Donald Trump dan Hilary Clinton sama sama melihat bahwa problem masa depan yang mereka hadapi sebagai bangsa adalah “Job Creation- Lapangan Kerja” dan “Kesenjangan Ekonomi — In Equality”.

Pilihan mereka juga sama yakni Re-Industrialisasi. Revitalisai Industri Nasionalnya. Yang berbeda adalah caranya.

Trump lebih ekstrim ia bilang :”Amerika harus mengisolasi diri, bangun tembok diperbatasannya dengan Mexico, Hindari Immigrant yang hendak merampas lapangan kerja warga negara Amerika, dan Hentikan “outsourcing” atau “offshoring”, memindahkan pabrik dan industri ke China, Vietnam dan Indonesia harus dihentikan. Begitu kata Trump.

Sementara Hillary lebih moderat. Jalan Tengah. Revitalisasi Industri harus tetapi membangun mata rantai proses produksi di Negara lain juga hars diijinkan. Sebab kata Hilary Globalisasi tidak bisa dinafikan.

Dengan kata lain Negara sedigjaya Amerika juga kini sedang berada dipersimpangan jalan ketika menghadapi fenomena “deindustrialization, job creation and inequality”. Hal sama kita lihat ketika warga Inggris memutuskan untuk memilih “Brexit”, keluar dari EU.

Begitu juga kalau kita menyimak tv skynews atau bbc atau membaca tulisan di majalah economist, kita bisa menemukan para politisi Perancis yang sedang menata jalan pemilihan Presiden dimasa depan., juga berada dipersimpangan jalan. Kearah merengkuh globalisasi dan “market liberalization” sepenuhnya atau sedikit mengerem membalik arah mengayomi Kepentingan Nasional untuk menyediakan lapangan kerja lebih banyak dan mengurangi kesenjangan. Memajukan industri dalam negeri atau berubah menjadi negara dagang dan layanan jasa sepenuhnya ?

Ada yang ektrim meniru Trump untuk isolationism dan mengedepankan nationalism seperta Marie Le Pen yang bilang :”kedaulatan Manusia bersumber daya iptek Perancis, untuk berinovasi dan menghasilkan produk sendiri hanya mungkin tercipta jika ada ruang gerak kebebasan yang terlepas dari aturan Uni Europa.

Apa itu berarti juga akan ada “French-Xit, Perancis keluar EU, dimasa depan , entahlah ?

Dengan kata lain percepatan kemajuan teknologi dan percepatan tumbuhnya kekuatan disruptip akibat inovasi platform telah melahirkan sesuatu embryo masa depan yang belum dikenal pasti. Secara samar samar kita menyebutnya sebagai Revolusi Industri keempat, atau Industrialization 4.0, yang berbasis pada teknologi Internet of Things. Bagaimana wujutnya semua ahli masih berselisih pendapat.

Akan tetapi semua berkesimpulan sama. Landskap ekonomi sedang berubah. Stagnasi ekonomi yang terjadi saat ini sepertinya bukan semata mata petanda krisis akan muncul. Melainkan sebuah harapan baru akan struktur dan postur industri yang lebih sehat sebagai pembangkit pertumbuhan ekonomi. Fenomena yang seperti dialami seorang ibu yang sedang akan melahirkan, ada rasa sakit yang secara bertahap muncul. Itu bukan krisis, melainkan sebuah harapan lahirnya generasi baru yang lebuh cerdas dan sehat. Dengan bantuan bidan dan dokter bersalin yang berpengalaman bayi yang sehat akan lahir dengan menangis, dan disambut tawa sang ibunda.

Karenanya kita berharap program Deregulasi yang sekarang sedang gencar dijalankan oleh Menko Darmin Nasution dkk, bukanlah semata mata Deregulasi yang memudahkan inovasi bangsa lain masuk ke Indonesia. Kita berharap “kemudahan berbisnis, reducing cost of doing business” serta semua paket deregulasi itu dapat dikombinasikan dengan proses Reregulasi, menata ulang kembali ceruk pasar mana yang perlu dibuka mana yang ditutup, serta diikuti oleh deregulasi untuk menurunkan biaya produksi barang dan jasa di Indonesia yang diikuti oleh insentif fiskal agar Manusia Bersumber Daya Iptek Indonesia dapat melahirkan inistiatip untuk memajukan Industri di Negeri Sendiri.

Tanpa kepercayaan pada kemampuan Bangsa Sendiri, tak mungkin kita mampu berdiri diatas kaki sendiri.

Apa benar begitu Wallahu Alam. Mohon Maaf jika keliru. Salam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s