Ustadz Surya Firdaus
———————————-
Guru Kelas Iman Qonuni Ikhwan Kuttab Al Fatih Pusat

Sangat lumrah jika ayah atau suami sibuk bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Penat dan padatnya aktivitas bekerja dijalani agar istri dan anaknya dapat hidup bahagia dan tercukupi. Bahkan seluruh anggota merasa wajar dan memang sudah seharusnya ayah sibuk sehingga jarang berada di rumah. Maka momentum kebersamaan keluarga khususnya lengkap dengan ayah pun merupakan kepuasan tersendiri.

Puncak kebahagiaan sempurna yang digambarkan dalam Al Quran saat rumah terbaik sudah tersedia, fasilitas penunjang pun lengkap, makanan dan minuman lezat selalu mencukupi kebutuhan, pelayan dan perkakas sempurna keindahannya. Semua itu belum utuh dan lengkap tanpa kehadiran anak-anak. Inilah harapan keluarga yang lebih sempurna kebahagiaannya. Begitupun kesempurnaan kebahagiaan para hamba Allah di surga kelak.

Allah SWT berfirman:

وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِاِيْمَانٍ اَلْحَـقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَاۤ اَلَـتْنٰهُمْ مِّنْ عَمَلِهِمْ مِّنْ شَيْءٍ ؕ كُلُّ امْرِیءٍۢ بِمَا كَسَبَ رَهِيْنٌ
“Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. At-Tur: Ayat 21)

Dibalik kesempurnaan dan kenikmatan surgawi pada surah diatas, Allah subhanahu wata’ala mendahulukan kebahagiaan terbesar yakni kehadiran anak dan keluarga. Sehingga hal ini didahulukan sebelum kenikmatan lain yang juga sempurna. Allah mempertemukan dan mengangkat anak cucu orang mukmin menjadi sederajat dengannya agar keberadaan mereka menjadikan hatinya senang. Walau kedudukan ayah dan bapak mereka lebih tinggi daripada mereka, mereka tetap dihubungkan dengan ayah-ayah mereka. Mampukah manusia menikmati kebahagiaan dengan utuh dan sempurna tanpa anak dan keluarga di sisinya?

Salah satu sebab kebahagiaan sejati itu hadir ialah mereka (anak cucu) mengikuti keimanan ayah mereka. Kebersamaan mereka di dunia dalam visi keimanan yang menghubungkan kebersamaan abadi di surga kelak. Allah subhanahu wata’ala menggambarkan keadaan keluarga itu saling bertegur sapa. Mereka bercerita bahwa mereka merasa takut dengan azab Allah saat berada di tengah-tengah keluarga (di dunia).

Bagaimana anak dan keluarga kita dapat mengikuti keimanan ayah mereka? Mengikuti tentu menjadi teladan. Bukan sekadar sama-sama beriman. Bahkan kebersamaan iman di tengah-tengah keluarga memunculkan perasaan takut kepada azab Allah (yang bersifat tetap dan selamanya). Anak-anak membutuhkan figur yang menjadi teladan khususnya dalam keluarga.

Hal ini yang menjadikan penting dan besarnya tanggungjawab ayah. Perintah menjaga diri dan keluarga dari siksa api neraka (Qs. At Tahrim ayat 6) serta menggapai surga bersama merupakan salah satu visi besar kelurga beriman. Saat ilmu dan iman yang dimiliki ayah memandu interaksi dengan keluarga maka keteladanan dan kebersamaan pun menjadi waktu yang berkualitas (quality time). Jangan sampai kita merasa telah berbuat dan bekerja mati-matian mengumpulkan harta demi anak istri tapi kita mengabaikan jiwa mereka yang haus sosok ayah dan qowam. Pemberi teladan dan ruh kebahagiaan hakiki yang dinantikan oleh keluarga setiap pulang kerja. Atau di waktu senggang dan waktu liburnya. Semangat meraih kebahagiaan sejati ini harusnya membuat para ayah dan suami senantiasa meningkatkan iman dan ilmu agar keluarga ini menggapai bahagia sempurna hingga jannah-Nya. Karena kelak anak dan keluarga mengikuti keimanan ayah mereka. Kemudian berkumpul bersama di surga-Nya.

Bahkan saat anak dewasa dan mampu memilih jalan hidupnya sendiri, ia dapat kehilangan sosok teladan saat mencari jalan di belantara kehidupan. Sosok ayah pun perlu hadir. Hal ini seperti kisah Nabi Nuh ‘alaihi salam dengan anaknya. Di saat anaknya memiliki prinsip dan pilihan hidup yang salah, ia tetap berusaha mengajaknya agar ikut bersamanya. Bahkan sosok ayah terus hadir dalam situasi menegangkan dan penting dalam hidup sang anak.

Agar anak dapat membersamai iman ayahnya. Bersama menuju Surga-Nya.

Semoga bermanfaat!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s