Berfikir dan Bertimbang Rasa..

Elly Risman-Full
October 31, 2016

Berfikir dan Bertimbang Rasa..

Saya menduga, sekali dalam hidup anda pasti pernah merasakan atau menghadapi seseorang yang bertingkah laku seolah tak memikirkan apa yang ia lakukan dan tidak perduli akan perasaan orang lain…. Bener bener cuek bebek..
Ambillah sebuah contoh yang sangat lazim: Anda sedang berkendara (Motorkah atau mobil), melaju dijalur kiri atau tengah. Tiba tiba sekali, ada kendaraan lain dengan kecepatan tinggi memotong dari arah paling kanan untuk belok ke kiri!.
Anda sangat terkejut, untung masih bisa injak rem. Tapi apa yang anda katakan pada pengendara yang memotong jalan itu ?: Astagfirullah!, Konyol!, Gak mikir!, Sinting nih orang! Dan mungkin puluhan ..kata dan umpatan lainnya yg otomatis keluar.
Umumnya kata atau umpatan itu tidak terkendali karena kaget dan kesal luar biasa. Jadi tak sempat terpikirkan sebelum diucapkan. Dengan kata lain kata kata tersebut keluar sesuai perasaan kita saja. Kita sebut lah itu sebagai Aksi yang berdasarkan pada Perasaan atau Emosi.

Seharusnya sebagai orang dewasa, kita ber-Aksi berdasarkan Emosi atau Pikiran ? ya! Benar Pikiran!. Jadi seharusnya rumusnya menjadi seperti ini bukan? : E – P – A . Emosi – Pikir dulu – baru ber Aksi . Kenyataannya sebagai orang dewasa kita sering menunjukan reaksi seperti diatas: E –A- P !
Siapa yang biasanya atau yang sepantasnya ber Aksi berdasarkan pola EAP? Betul! : anak anak!! . Karena pusat pusat di otak mereka belum sempurna terbentuk atau bersambungan.
Ternyata berapa sering kita sebagai orang dewasa bertindak atau bertingkah laku sehari hari masih dengan pola EAP?.

Kehidupan yang tergesa gesa setiap hari membuat kita semakin kurang mempunyai kesempatan untuk merenung, termasuk merenungkan apa yang dipelajari anak anak kita kalau orang tuanya seringkali bertindak berdasarkan EAP. Bagaimana pula lah mereka bertingkah laku ketika mereka dewasa, kalau yang tauladannya sehari hari seperti itu?.

Umumnya pola reaksi EAP diikuti dengan kurangnya kemampuan untuk menimbang perasaan orang lain. Karena tidak ada kesempatan untuk berfikir sama sekali.. Orang orang yang menerima perlakuannya pasti akan komentar : “ Ya Allaaah , bener benar nih orang, gak punya perasaan!” atau “Bener bener gak peduli perasaan orang lain!” – “Asal ngomong/keluar aja!”

Semua bermula dari rumah.

Bayangkanlah kalau orangtua keseringan menunjukkan tingkah laku yang EAP, dan kemudian mengabaikan perasaan pasangan dan anak anaknya?!. Pernah terbayangkan bagaimana terbentuknya kemampuan berfikir dan kehidupan emosi anggota keluarga tersebut?.
Bayangkan kalau anak itu berada dalam situasi sosial lain, seperti lingkungan bermain, sekolah dan bila bertamu kerumah orang atau dalam suatu kegiatan bersama?. Bayangkan pula kalau kebiasaan tak terbiasa berfikir dan bertimbang rasa ini terbawa bawa dalam kehidupan nanti ketika dia dewasa di dunia kerja. Bayangkan pula kalau anak tersebut karena satu dan lain hal jadi pemimpin di suatu perusahaan atau disuatu daerah? Apa jadinya bawahannya atau masayarakat yang dipimpinnya?.

Perasaan, adalah salah satu yang sangat penting bagi manusia. Bila perasaannya diterima, orang tersebut akan merasa seluruh dirinya diterima. Tapi bila perasaan tidak diterima seluruh dirinya menjadi tidak berharga.

Oleh sebab itu, marilah kita sebagai orang tua era digital ini, betapapun kita tergesa gesa dan waktu terserap oleh gagdget , tidak kehilangan kesempatan untuk merenung, menyelam kedalam diri dan mengembara kemasa lalu kita untuk mampu menemukan hakikat diri kita sebagai orang tua.
Yuk temukan, apakah kita tipe orang tua yang bertindak dalam keseharian kita menggunakan pola EAP atau EPA?. Apa yang menyebabkan kita melakukannya?. Apa yang membuat jejaring kebiasaan diotak kita sehingga kita begitu otomatis melakukannya?. Apa yang sudah dipelajari oleh anak anak kita selama ini?. Sudahkah kebiasaan kita bereaksi itu kini merupakan pula kebiasaannya? . Kalau jawabannya YA, maka pertanyaan berikutnya adalah : Apa yang bisa kita lakukan untuk merubahnya?.

Dimana ada kemauan disitu ada jalan.

Pepatah lama ini menunjukkan pada kita: tidak ada yang tidak mungkin dibawah matahari, kalau kita mau berusaha dan meminta pertolongan Allah.
Berikut beberapa hal yang dapat saya sarankan.
1.Kenali diri dan sumber dari semua kebiasaan reaksi EAP tersebut.
2.Sadari bahwa kebiasaan buruk tak ada gunanya. Bukankah Rasulullah saw mewariskan pada kita agar hari ini lebih baik dari kemarin? Maka berniatlah untuk memutuskannya, buang, untuk kemudian diganti dan dibentuk sambungan kebiasaan baru yang lebih baik.
3.Latihlah diri untuk merenung, memikirkan ulang apa yang telah kita lakukan. Bila salah jangan segan untuk minta maaf. Kalau anda orang tua, harus sadari sepenuhnya bahwa meminta maaf tidak merendahkan derajat anda sebagai orang tua, bahkan
menaikkannya. Permintaan maaf, menurunkan emosi yang tinggi, dan yang lebih penting lagi anak belajar :”Oh kalau salah minta maaf ya?”. Insha Allah ia akan melakukan nanti terhadap pasangannya, anaknya, orang disekitarnya, bawahannya atau masyarakat yang dipimpinnya. Kita harus yakin anak kita insha Allah akan jadi pemimpin yang baik. Minimal di keluarganya sendiri.
4.Mudahlah pula untuk meMAAFkan. Dalam ilmu psikologi, tindakan seseorang itu ada alasan /motif dan ada tujuannya. Sebagai manusia, kita ini penuh keterbatasan. Kita tidak selamanya mampu untuk tahu apa motif seseorang dan apa tujuan tingkah lakunya. Maka MAAF kan saja lah! Memaafkan itu perintah Allah dan Memaafkan itu pekerjaan mulia.
5.Pikir dahulu pendapatan, pikir kemudian tidak ada gunanya. Pepatah ini juga mengajarkan kita untuk bertimbang timbang sebelum melakukan sesuatu. Maka dengan anak anak kita perlu banyak dialog. Ajarkan anak untuk bertimbang dalam melakukan
sesuatu. Caranya sangat mudah gunakanlah lebih banyak kalimat bertanya. Kalimat bertanya akan membuat anak atau siapa saja yang kita tanyai untuk berfikir sebelum memberikan jawaban,kemudian akan menengok kedalam dirinya dan timbullah kesadaran diri. Inilah yang terpenting dari penggunaan kalimat bertanya: KESADARAN DIRI.
6.Dengan dialog dan menggunakan kesadaran diri, kita bisa melatih anak kita untuk berfikir alternatif. Bagaimana kalau begini dan bagaimana kalau begitu.. Apa akibat yang akan muncul bila kita begini dan bila kita begitu..Bila kita pake baju ini atau pake baju itu, bila ambil jurusan ini atau jurusan itu, bila pilih pasangan yang
begini atau pasangan yang begitu…
7.Berfikir alternatif akan menghasilkan kemungkinan pilihan pada anak : Plan A,Plan B, Plan C dst berikut konsekuensi yang minimal sudah diperhitungkan dan dipertimbangakan sebelumnya, untuk kemudian harus berani menanggungkan akibat yang
ditimbulkannya. ..
8.Proses ini lah yang insha Allah melahirkan anak yang cerdas dan BIJAKSANA!

Semoga dengan berupaya melatih anak kita agar mampu mengendalikan untuk tidak mengedepankan perasaan dalam bertingkah laku dan pandai menimbang rasa orang lain, kedepan kita terhindar dari peliknya masalah seperti yang kita hadapi sebagai bangsa sekarang ini, karena pemimpin yang bicara lebih banyak berdasarkan perasaanya dan tak pandai menimbang perasaan rakyatnya.. Amin.

Satu hal lagi yang tidak banyak dibicarakan apalagi dibahas orang adalah : Apa yang dipelajari oleh anak dan pemuda Indonesia dan apa dampaknya bagi mereka kemasa depan,bila pemimpinnya seperti ini???.

Penuh Prihatin, Bekasi 30 Oktober 2016

Elly Risman

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s