Oleh: Ustadz Tatang Muttaqin
Penulis adalah alumni Pesantren Persatuan Islam Tarogong Garut dan saat ini menekuni kajian Pendidikan di Departemen Sosiologi, University of Groningen, Belanda.

SEBULAN lalu saya dapat undangan salah satu guru di sekolah anak-anak untuk menghadiri Seminar Keorangtuaan (parenting) dengan menghadirkan pakar dari Kanada, Eric Lauzon yang dikenal sebagai pakar dalam “the art of learning.” Sekalipun ada beberapa tenggat draft paper namun sayang jika undangan ini tak dihadiri, setidaknya ini kesempatan untuk terus-menerus belajar menjadi orang tua.

Singkat cerita, saya hadir sekitar 10 menit sebelum acara dimulai dan ruangan sudah mulai cukup padat dengan orang tua siswa yang nampak bergairah untuk menyimak Seminar ini. Dalam presentasinya yang sering diselingi praktik dan gerakan bersama untuk mendinamisasikan suasana, Eric Lauzon mengupas pendampingan orang tua untuk pembelajaran yang efektif dengan memperkenalkan tiga kata kunci: efikasi, agensi dan aksi.

Secara ringkasnya, efikasi adalah keyakinan untuk berhasil di dalam peluang pembelajaran yang sukses. Untuk memastikan siswa, guru dan orang tua agar anak-anaknya sukses dalam belajar beragam cara bisa dilakukan, semisal lewat keteladanan. Untuk menemukan teladan sebagai role model, cerita biografi, kisah perjuangan dan kebertahanan dan ikhtiar yang tanpa putus dilakukan para tokoh bisa menginspirasi anak.

Dengan menyelami perjalanan perjuangan orang-orang yang patut diteladani, maka anak-anak tertarik untuk melakukan dan menginternalisasi kebiasan-kebiasan tokoh tersebut dan jika ada berhasil menjadi kebiasaan akan mampu menumbuhkembangkan kepercayaan diri.

Dalam masyarakat Belanda, selalu ada pengukur tinggi dan berat badan untuk anak-anak kecil karena dengan membiasakan mengukur tinggi badan akan mengecek pertumbuhan sehingga melahirkan kepercayaan diri bahwa anak-anak tersebut tumbuh.

Semua anak punya kekurangan dan kelebihan sebagai wujud keunikannya, kepercayaan diri ini akan mampu memoles kelebihan dan menyadari tanpa harus bersedih dengan kekurangan yang berpotensi membenci diri sendiri. Ini tentu tak baik untuk pertumbuhan kecerdasan emosional anak-anak.

Ketika anak-anak berusaha menunjukkan potensinya, seberapa kecil potensi dan keunikannya patut diapresiasi sehingga mampu menumbuhsuburkan self-esteem anak yang sangat vital dalam memetakan jati dirinya. Salah satu kunci menumbuhkembangkan dan merawat self-esteem adalah orang dewasa perlu menghargai semua anak sebagaimana adanya dengan segala plus minusnya.

Untuk memastikan self-esteem terus berkembang, guru dan orang tua perlu bereaksi secara tepat dan bijak utamanya saat anak-anak menghadapi tantangan dan kesulitan. Cara yang paling tepat adalah membantunya untuk “move on” dari tak bisa menjadi belum bisa dan yakinkan suatu saat akan bisa.

Agensi adalah keterampilan, teknik dan strategi pembelajaran yang efektif. Untuk memastikan agensi berfungsi secara utuh, dibutuhkan keterampilan kognitif dan metakognitif. Secara lugas indikatornya adalah: (1) ketika anak membaca, pastikan juga mereka mampu menjelaskan apa yang telah dibaca; (2) membuat catatan di dalam kelas dengan menggunakan bahasa sendiri bukan “memindahkan kalimat guru atau buku”; (3) membuat kata kunci dalam meringkas dan mampu menjelaskannya secara lengkap dengan bahasa sendiri; (4) pemahamanan dengan longterm results dan retensi informasi; (5) belajar bagaimana cara belajar yang efektif dengan menhasilkan hasil yang stabil dan berdimensi jangka panjang.

Setelah kognisi dan metakognisi, agensi juga perlu memastikan keterampilan afektif atau semacam penanamaan karakter. Keterampilan afektif ini ditandai dengan motivasi diri, daya juang dan daya tahan, keberanian dan keuletan. Dan tak kalah penting, dalam konteks agensi, memupuk jiwa dan keterampilan kewirausahaan menjadi tak terelakkan. Keterampilan kewirausahaan dapat dikembangkan melalui bagaimana memahami analisis demografi, mengembangkan gagasan, mengembangkan produk, keuangan dan tata kelola.

Aksi adalah melakukan dan menjalani kesalahan namun terjungkal dengan baik secara singkatnya terangkum dalam ungkapan bahwa all the high achievers had learned how to fail well sedangkan all the underachievers were failing badly Bagaimana terjunggal atau gagal dengan baik? Hal mendasar adalah menyadari kekeliruan, mengambil tanggung jawab atas tindakan, memetakan apa yang telah dilakukan secara keliru, melakukan perubahan dan mengulang untuk berhasil.

Berbeda dengan yang mampu beraksi untuk gagal dengan baik, gagal dengan buruk ditandai dengan menyalahkan sistem atau dalam konteks pembelajaran sekolah atau orang lain sehingga berpretensi tak pernah salah alias “merasa paling benar” dengan menambahkan drama kegagalan untuk menghindarinya atau menghindari aktivitas yang memungkinkan salah.

Selanjutnya dalam kontek yang lebih praktikal keseharian, orang tua senantiasa perlu memastikan anak-anaknya ketika untuk selalu membawa hal paling esensial ketika pergi ke sekolah. Pertama, air minum sehingga anak tidak mengalami kekurangan cairan yang akan berdampak buruk untuk perkembangan tubuhnya. Ketersediaan cairan dalam tubuh yang memadai merupakan hal yang sangat vital.

Kedua, pastikan anak-anak bisa menghirup oksigen dengan baik. Artinya sekalipun padat dalam kelas, tetap perlu ada jeda untuk menghirup udara yang segar agar sehat karena anak yang kurang sehat akan sulit belajar dengan baik. Ketiga, selalu membawa buah-buahan karena merupakan sumber energi paling mudah diserap dan menyehatkan.

Dalam menapaki pembelajaran sehari-hari, ada beberapa teknik untuk belajar gagal dengan baik yang perlu dipraktikkan, misalnya dimulai dengan senantiasa mendorong untuk mengambil tantangan baru dan memanfaatkan setiap kegagalan sebagai feedback. Lalu membuat catatan kegagalannya dengan strategi untuk keluar dari adversity” atau berbaliknya harapan dengan kenyataan.

Orang tua perlu menghargai untuk setiap capaian dari setiap usaha anak-anak dari sekedar kemampuan baru yang sederhana sekalipun dan senantiasa membantu mereka untuk fokus pada yang bisa mereka kontrol dengan usaha dan belajar strategi untuk memanfaatkannya sebagai cara untuk meraih pencapaian terbaik. Di era internet yang masif, orang tua juga perlu membantu anak-anaknya menggunakan internet sebagai sumber informasi dengan baiksebagai salah satu sumber pembelajaran.

Dalam hal yang lebih strategis, perlu membantu untuk mengembangkan kebiasaan baik dalam belajar dengan membuat skala prioritas aktivitas, termasuk dalam menggunakan beragam fasilitas elektronik sebagai reward bukan sekedar pengisi waktu. Mengingat apa yang baru dipelajari di sekolahjuga sangat penting, misalnya dengan cara setiap malam sempatkan membaca apa yang telah dipelajari dan beri kesempatan untuk mengajarkan kepada kita apa yang telah mereka pelajari serta belajar berusaha untuk meniru yang baik.

Belajar sendiri tentu baik namun belajar bersama juga sangat bermanfaat sehingga ijinkan anak-anak untuk belajar bersama temannya karena ide keberhasilan biasanya lewat belajar dengan mengambil contoh dari yang lain (imitasi) dan juga perlu mengembangkan suasana keluarga dengan budaya belajar.

Teknik pendampingan tersebut juga laik bersinergi dengan pendidikan karakter terkait bagaimana mendapatkan apa yang mereka peroleh, mengorganisasikan kehidupannya sendiri, belajar ambil tanggung jawab atas yang dilakukannya, berjuang dengan medan perannya sendiri, belajar mengambil keputusan sendiri dan tanggung jawab, serta berhasil atau belajar gagal dengan cara yang baik. Semoga bisa dipraktikkan. [***]

http://politik.rmol.co/…/264…/Seni-Belajar-Menjadi-Orangtua-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s