Agama dan Budaya..

Erizeli Bandaro
Oct 18, 2016

Ada anak muda yang kalau saya melewati gate stasiun kereta louhu, Shenzhen ( China) dia selalu nampak berdiri sambil memperhatikan setiap orang yang lewat. Kalau ada orang asing maka dia akan bersegera menegur dengan sopan untuk menawarkan jasanya sebagai guide shoping. Dia tahu betul bagaimana mendapatkan barang murah dan berkualitas di sekitar Shenzhen. Tentu dia dapat fee dari penjual.

Walau saya tidak pernah menggunakan jasanya namun dia merasa dekat dengan saya karena saya menganggap dia anak. . ” terimakasih sudah ajak saya makan siang semewah ini. Seumur hidup ini baru pertama kali saya merasakan. Semoga suatu saat saya bisa ajak ibu saya makan direstoran seperti ini ” katanya waktu kali pertama kenalan.

” Kamu yakin kamu akan sukses? Kamu kan tidak lulusan perguruan tinggi”
” Yakin. Yakin sekali.”
” Kenapa?
” Lihatlah keluar.. Tidak semua bernasip sama dengan saya. Banyak yang lebih dari saya bahkan sangat lebih. Artinya saya punya kesempatan dan harapan. Kalau mereka bisa kenapa saya tidak bisa. ” katanya bersemangat.
” Kerena mereka bernasip baik. Tuhan kasih dia rezeki berlebih.
” Ibu saya bilang. Tuhan adil kepada siapa saja.”
” Tapi kenapa nasip berbeda?
” Itu soal pilihan. Tuhan kasih selalu dua yaitu baik dan buruk . Kalau nasip buruk ya karena kita sendiri yang pilih. Kalau nasip baik ya karena kita yang pilih. Semua orang punya kebebasan untuk berbuat apa saja.” Saya bengong bagaiman anak usia 20 tahun punya wawasan hebat ini.
” Kan bisa saja nasip baik dan buruk itu karena Pemerintah tidak adil..”
” Ibu saya bilang.. Tidak ada yang hebat selain Tuhan. Apalah arti Pemerintah dibandingkan Tuhan. Dan lagi kalau memang Pemerintah tidak adil mengapa ada banyak orang kaya. Tidak semua miskin. Saya rasa tidak perlu menyalahkan Tuhan atau Pemerintah. Juga tidak perlu salahkan orang lain.”
” Terus .. Bagaimana dengan kamu ”
” Saya sudah memulai bisnis sejak tamat SMU. Pekerjaan ini saya lakukan sebagai langkah awal saya. Setidaknya saya bisa mandiri dari beban orang tua. Setelah itu saya ingin seperti Anda.. saya akan bekerja keras selalu.. Saya berharap suatu saat saya bisa ajak ibu saya makan direstoran ini.”

Dialogh dengan anak muda itu, dapat di pahami dengan sederhana. Bahwa etos kerja dan passion dia dapat dari keluarga. Cara keluarga menyampaikannya melalui pendekatan agama dan budaya. Memang pendekatan cara ini sangat efektif bagi anak anak. Karena Agama selain bagai elang (águila) yang terbang dengan idealisme spiritual yang tinggi untuk mencapai kesempurnaan pribadi, tetapi juga membumi bagai induk ayam (gallina) yang terlibat secara etis pragmatis dalam keseharian.” Artinya bagaimana pemahaman agama dan budaya bisa melahirkan semangat kemandirian pada anak. Bagaimana mentranformasi dari masyarakat yang nrimo, apatis , pesimis, malas, paranoid, rakus, menjadi masyarakat yang progressive, passion, berikhsan.

Keliatannya sampai sekarang dakwah agama hanya mengajarkan orang menjadi elang dan lupa bagaimana menjadi induk ayam. Makanya masyarakat semakin pintar mencari alasan pembenaran atas kesulitan hidup yang menimpanya, tanpa punya kearifan bagaimana mencari solusi atas masalah yang ada.Yang terdengar sikap menyalahkan siapapun, bahkan agama di bawa bawa untuk menyalahkan keadaan. Padahal kesalahan itu ada pada diri mereka sendiri yang tak ingin berubah menjadi induk ayam..

Pahamkan sayang..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s