//
you're reading...
Human being, Pendidikan, Renungan

Jual Anak (Seri Fatherman Bag. 11)

Oleh: bendri jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)

Jual anak? Sadis ya? Anak kok dijual? Ayahnya bener-bener tega! Plis jangan sembarang tafsir. Sebab yang mampu memahami makna judul tersebut tentu penulisnya sendiri. Hehe..ini kalimat dari siapa ya kira-kira? You know lah. Maaf nih, jadi sedikit nyindir bahas politik. Emang gak bisa ditolak sih. Hot issue soalnya. Tapi khawatir kebablasan juga. Bukan bidang saya soalnya. Harusnya sih kita bicara sesuai kompetensi aja. Jangan kayak politisi yang berani ngurusin tafsir ayat alquran yang sejatinya wilayah kompetensi ulama. Udah gitu dia merasa dirinya paling benar dan malah menyalah-nyalahkan para ulama. Lah? padahal memahami bahasa arab sebagai syarat mentafsir quran aja mungkin baru bisa sebatas ana, antum, afwan wa syukron. Ini juga belajarnya di puncak pas nemenin orang bertampang arab yang lagi nyari hiburan. Paling banter kosa katanya nambah dikit pas menjelang pilkada yakni fulus. Sebab, katanya, ada fulus urusan bisa jadi mulus. Tul gak?

Oke deh cukup. Teringat petuah kawan “cara mudah menseleksi teman di sosmed adalah dengan memposting soal politik. Dan cara mudah meraih banyak teman, ya bahas seputar pengasuhan”. Kayaknya sih itu bener. Karena itu kali ini kita fokus bahas pengasuhan aja ya. Dan kita kembali bahas tentang super hero yang semoga digandrungi oleh anak-anak zaman sekarang. Siapa lagi kalau bukan Fatherman. Dan sosok Fatherman kali ini punya tugas baru dengan kostum yang beda yakni topi distributor atau promotor. Tugas barunya yakni “menjual” anak. Ya, anak-anak butuh dijual. Maksudnya ia senang jika ayah selalu mempromosikan segala kelebihannya di hadapan orang lain. Kayak orang jualan. Ada bentuk rasa bangga di saat ayah menceritakan hal-hal positif tentang dirinya di depan khalayak. Dan merasa murka serta terhina jika ayah malah menceritakan kekurangan mereka.

Kepiawaian ayah dalam mempromosikan anak sejatinya berbanding lurus dengan seberapa besar pengetahuan ayah tentang anaknya sendiri. Kalau dalam dunia bisnis biasa disebut dengan product knowledge. Jangan sampai ayah salah mempromosikan alias salah memuji akibat tak memahami product knowledge tadi. Sebab, promosi yang tak tepat malah bisa bikin anak salah tingkah campur keki. Misalnya ketika ayah bicara sama temannya,

“Anakku jago banget matematika. Kemaren aja dia menang olimpiade matematika tingkat propinsi”.

Sang kawan berkomentar,

“Wah hebat! Anakmu sekolah dimana?”.

Ayah terdiam sejenak sambil mikir,

“Hmmm di sekolah kebon singkong eh kebon maen maksudnya”. Sang ayah terdengar agak gugup.

Anak yang awalnya bangga atas pujian sang ayah mendadak kecewa dan sedih. Kenapa? Ternyata ayahnya gak tau kalau selama ini anaknya homeschooling. Jegeerr. Si ayah asal ngomong ke kawannya. Kasihan anaknya kan?

Kesimpulannya, ternyata sang ayah tak ‘mengenal’ anaknya. Ini sungguh menyakitkan. Ketidaktahuan ayah akan diri anak inilah kesalahan mendasar dalam promosi. Sebagai promotor ayah sudah gagal. Malah bikin malu. Sebab, mengutip pepatah masyhur “tak kenal maka tak sayang”, Jika sudah sayang silahkan lanjut ke pelaminan. Ups ngaco ngaco. Bukan itu. Maksudnya begini, jika anak merasa tak dikenal oleh ayahnya maka ia merasa tak disayang. Misi Fatherman untuk mengikat hati anak pun tak kesampaian.

Itulah kenapa, penting untuk diingat oleh para ayah sang fatherman, agar mengenal dengan detail tentang anaknya secara benar dan tepat. Kalau perlu minta bantuan istri. Sebab untuk sewa intelijen mahal. Cuma politisi kaya yang sanggup. Nah, Info-info akurat tentang anak ini bisa jadi bahan bagi ayah agar mampu mempromosikan anak di hadapan khalayak. Pujian yang diberikan ke anak tepat sasaran. Sebagaimana baginda Rasul yang tak sungkan mempromosikan para sahabat secara tepat dan akurat.

Berkata Rasul tentang Abu Bakar, “Orang yang paling setia dalam persahabatan adalah Abu Bakar”. Dan tatkala memuji Umar, “Tidaklah setan saat bertemu dengan Umar kecuali menghindar”. Pun juga saat memuji Ali, “Aku adalah gudang Ilmu dan Ali adalah kuncinya”. Atau pujian untuk Bilal, “Aku mendengar suara sendal Bilal di surga tersebab kebiasaannya menjaga wudhu”. Semua pujian yang tak lain promosi Rasul kepada khalayak ini didasarkan fakta. Ini menunjukkan sejatinya Rasul amat mengenali karakter dan kebiasaan masing-masing sahabat.

Itulah contoh dari Nabi kita. Ayah harus mengenal betul anaknya. Sesibuk apapun harus terus update perkembangan anak. Jangan sampai ada yang lewat. Sebagaimana yang dilakukan oleh tokoh pergerakan Islam dari Mesir, Hasan Al Banna. Diceritakan bahwa di tengah kesibukannya dalam dakwah hingga berakibat jarang pulang, ia punya kebiasaan unik yakni membawa satu map kemanapun ia pergi. Apa isinya? Tentu bukan tagihan utang, atau proposal mencari dana pembangunan masjid. Map itu isinya catatan dari istrinya tentang perkembangan sang buah hati. Mulai dari data kapan anaknya pertama kali jalan, kosakata pertama saat bicara, makanan kesukaannya, bahkan nama teman mainnya pun disampaikan kepada sang ayah. Hal ini guna membantu ayah agar bisa mempromosikan anaknya selagi di luar berdasarkan data.

Mungkin ada yang bertanya, sebenarnya apa tujuan dari ayah mempromosikan anaknya? Apakah sang anak butuh eksis? Atau emang si anak yang narsis? Bukan. Bukan itu. Bagi anak, saat ayah memuji atau mepromosikannya di depan orang banyak, ia merasa telah membuat ayahnya puas dan bangga. Terlebih jika ia mendengar promosi itu secara diam-diam. Atau disampaikan oleh pihak lain saat ia tak bersama ayah. Membuat ayah bangga inilah yang membuat anak merasa berharga. Ia tidak caper kemana-mana. Dihargai oleh orang terdekat, dalam hal ini sang ayah, terkadang lebih berkesan dibandingkan banyaknya hadiah atau materi yang diberikan.

Namun, sebagai promotor ayah pun harus waspada. Diantaranya jangan sampai mempromosikan anak secara berlebihan di luar kapasitas dan kemampuan anak yang sebenarnya. Maksud hati ingin memuji, anak malah merasa terbebani. Pujian atau promosi yang overdosis alih-alih menyenangkan batin, malah perlahan menjadi racun yang akan membunuh sang anak. Jika tak sesuai dengan kenyataan, anak akan tertekan karena khawatir dikomplain oleh khalayak.

Maka jadilah promotor yang elegan. Gak usah lebay sambil memuji anak dengan bahasa melangit.

“Anak saya tuh kalau ujian soal matematika gak pernah belajar. Kadang cukup merem aja dapat nilai seratus.”

Yang denger bisa muntah, begitu juga sang anak yang dipromosikan. Ia tak suka. Sebab di balik pujian yang lebay ada ketidakjujuran. Dan anak paling gak suka dibohongin.

Atau ada juga ayah yang mempromosikan anak setengah hati. Alias tidak ikhlas. Dimana pujian yang diberikan memakai syarat. Biasanya pakai embel-embel kata ‘tapi’.

“Anak saya tuh cakep tapi bawel”

“Dia mah pinter banget tapi jarang mandi”

Coba lihat. Bukan ‘cakep’ atau ‘pinter’ yang didengar anak. Melainkan ‘bawel’ dan ‘jarang mandi’ yang terngiang-ngiang. Sungguh hal ini pun sama menyakitkannya. Persis kayak lelaki jomblo yang nerima sms dari akhwat cantik “halo say..,” Eh di bawahnya ada tulisan sambungan “saythonnirrajiim”. Tegaaa!

Intinya, dalam hal menjadi promotor bagi anak adalah bagaimana penerimaan (acceptance) dari ayah apapun kondisi anak. Dimana ayah selalu punya kacamata positif dalam menilai segala hal yang terkait dengan anaknya. Dan hal inilah yang ia sampaikan ke pihak luar sebagai bentuk kepuasan dan rasa bangga akan anaknya. Tidak melebih-lebihkan dan juga tidak mengurangi dengan kata-kata “tapi”. Prinsipnya, kayak lagu legenda dari biduan Vetty Vera “Ooo, sedang-sedang saja” (dibaca dengan nada ya). Tapi plis, gak usah sambil goyang.

Kemampuan ayah mempromosikan anak secara tepat bisa menjadi teknik baru dalam mengikat hati anak. Yang berujung kepada cinta yang besar kepada sang ayah. Kalau ada orang yang mampu melipatgandakan uang kemudian dikenal dengan panggilan Dimas Kanjeng, maka Fatherman layak digelari Dimas Kangen. Sebab ia mampu membuat anak kangen berlipat-lipat akan hadirnya. Cobalah (bersambung)

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: