//
you're reading...
kuliah, Motivasi

Menulis Skripsi

Hasanudin Abdurakhman
17 Okt 2016

Banyak orang kesulitan dalam menulis skripsi. Ada yang sampai menghabiskan waktu bertahun-tahun. Faktor penyebab kesulitan ada banyak, termasuk di antaranya dosen pembimbing yang menyulitkan. Tapi di luar itu faktor utama biasanya ada pada orang tersebut.

Saya bukan mahasiswa cemerlang dengan IPK tinggi. Boleh dibilang IPK saya jeblok, karena selama masa kuliah, saya lebih banyak aktif di gelanggang mahasiswa ketimbang aktif kuliah. Tapi ketika tiba waktunya saya harus lulus, saya putuskan untuk lulus. When I’m done, I’m done. Memasuki tahun ke enam, bagi saya sudah cukup. Jaman itu mahasiswa yang kuliah dengan baik, biasanya lulus 5 tahun. Ketika masa itu sudah saya lewati, saya pikir saya harus memutuskan. Maka saya sudahi kegiatan saya di gelanggang, saya kembali ke kampus. Saya mengulang mata kuliah yang belum lulus atau nilainya rendah, dan saya mulai mengerjakan skripsi.

Ada tren waktu itu, mahasiswa mengerjakan penelitian duplikatif. Metode penelitian sama, hanya ganti sampel. Jadi dalam banyak hal tinggal copy paste terhadap skripsi yang sudah ada. Saya tidak tertarik dengan cara ini. Saya cari tema yang belum banyak dikerjakan. Kebetulan ada dosen yang baru selesai S2 di UI, Pak Wagini namanya. Penelitian S2 dia tentang kristal alkali halida yang diberi warna dengan emisi laser. Gejala ini disebut color center.

Tentu tak mungkin melakukan penelitian dengan tema serupa di UGM karena peralatannya tidak tersedia. Tapi Pak Wagini memberi tahu saya bahwa pewarnaan (coloration) kristal dapat dilakukan dengan cara lebih sederhana, yaitu dengan memberikan tegangan listrik pada suhu tinggi. Berbekal sketsa alat dari Pak Wagini, saya meminta bagian Bengkel FMIPA UGM untuk membuat oven untuk keperluan pewarnaan tadi.

Langkah berikutnya adalah soal penyediaan kristal. Kristal yang ada di tangan Pak Wagini sudah dipakai berulang-ulang, sehingga kualitasnya tidak bagus lagi. Lalu bagaimana? Saya tahu Pak Wagini mendapatkan kristal itu dari profesor pembimbingnya, orang Jepang yang kebetulan jadi profesor tamu di UI. Namanya Kagawa, dari Fukui University. Saya surati profesor itu, saya jelaskan bahwa saya akan menulis skripsi di bawah bimbingan Pak Wagini, dan saya membutuhkan kristal. Lalu datang balasan dari beliau, bersama dua potong kristal yang saya butuhkan.

Peralatan siap, kristal siap diwarnai. Tapi saya membutuhkan seperangkat monokromator dan detektor untuk mengukur serapan akibat pewarnaan kristal itu. Di FMIPA UGM peralatan itu tidak ada. Maka saya coba ke BATAN. Waktu itu saya ketemu peneliti alumni UGM juga, Pak Budi namanya. Di BATAN memang tersedia monokromator dan detektor, tapi mesti saya set sendiri. Maka saya coba mengeset alat sendiri, sumber cahaya, monokromator, dan detektor. Semua peralatan itu sudah cukup tua, jadi banyak masalah. Saya juga mesti menyusun sistem optik yang baik agar cahaya dapat terfokus dengan baik ke sampel, lalu masuk ke monokromator. Ada dua bulan saya mengutak atik alat itu, tapi belum memuaskan. Saya pikir alat ini tidak akan memadai untuk penelitian saya. Sambil terus mengutak atik alat, saya mencari informasi tentang peralatan alternatif. Akhirnya saya dapatkan informasi bahwa di Laboratorium Analisa Kimia Fisika Pusat (LAKFIP) UGM ada alat yang prinsipnya serupa. Saya ke sana, dan benar, ada alat yang namanya spektrofotometer. Fungsinya persis seperti alat yang sedang saya set. Maka saya putuskan untuk memakai alat ini.

Dengan alat yang kompak dan otomatis, pengukuran saya hanya memerlukan waktu dua hari. Selesai. Data untuk menulis skripsi sudah lengkap. Namun bukan berarti kerja saya di BATAN tadi jadi sia-sia. Dari mengeset peralatan tadi saya jadi paham betul prinsip kerja sebuah sistem monokromator, sehingga saya bisa menjelaskan cara kerja spektrofotometer dengan baik di skripsi saya.

Berikutnya saya tulis, lalu saya serahkan draftnya ke dosen pembimbing, yaitu Pak Wagini. Seminggu setelah saya serahkan, saya datangi beliau, saya tanya progres pemeriksaan atas skripsi saya. Dia bilang baru sedikit yang dikoreksi. Saya tanya, apa yang dikoreksi? Ternyata cuma tanda baca.

“Pak, yang itu Bapak tidak perlu koreksi. Nanti saya edit. Tolong koreksi hal-hal prinsip saja.” pinta saya.

“Oh, kalau itu tidak ada. Skripsi ini sudah baik.”

Lalu saya lakukan proses pengeditan, saya perbaiki berbagai salah ketik, ejaan, dan tanda baca. Berikutnya saya serahkan ke dosen pembimbing utama, Pak Sumartono, dosen yang lebih senior. Kemudian saya berangkat KKN. Saat KKN saya santai-santai saja menikmati suasana pedesaan, sementara teman-teman harus mengatur waktu untuk pulang ke Yogya, konsultasi skripsi dengan dosen pembimbing. Selesai KKN saya menghadap Pak Sumartono. Ada koreksi? Cuma koreksi beberapa istilah, tidak ada yang prinsip.

Lalu saya maju ujian. Tidak ada pertanyaan yang tak bisa saya jawab. Beberapa pertanyaan benar-benar berupa pertanyaan karena si penanya memang tidak tahu, bukan menguji. Lalu saya lulus. Total waktu yang saya habiskan untuk mengerjakan skripsi hanya sekitar 6 bulan.

Dari pengalaman yang saya, serta pengamatan terhadap rekan-rekan, mahasiswa yang bertele-tele dalam menulis skripsi biasanya:
1. Tidak menguasai materi kuliah secara umum. Nilai mereka mungkin tinggi, tapi penguasaan mereka terhadap ilmu yang ditekuni jauh dari cukup.
2. Tidak memahami seluk beluk subjek yang dipilih untuk dijadikan penelitian skripsi.
3. Tidak memahami metode dan logika penelitian.
4. Tidak mencari alternatif lain ketika menghadapi masalah, bertahan menghabiskan waktu untuk hal yang akhirnya sia-sia.
5. Bermasalah dalam komunikasi dengan pembimbing. Tidak berani mengambil langkah berganti pembimbing bila masalah tidak bisa diselesaikan.
6. Tidak pandai menulis, dan tentu saja tidak belajar bagaimana menulis dengan baik.
7. Malas dan tidak disiplin.

Jadi, kalau Anda bertele-tele dalam menulis skripsi, boleh jadi Anda punya masalah tersebut. Perbaikilah.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: