//
you're reading...
Human being, Renungan

Generasi Merdeka

Sarlito Wirawan Sarwono

Hari Sabtu, 1 Oktober yang lalu, saya diminta memberi ceramah di International Indonesia Book Fair di Jakarta Convention Center, Jakarta. Judulnya adalah tentang menggambar dan bagaimana orangtua bisa melakukan pendekatan, atau bahkan menjadi sahabatnya anak-anak melalui gambar. Karena itu yang hadir untuk ceramah itu cukup banyak, kebanyakan ibu-ibu muda dan beberapa bapak-bapak (muda juga) yang pas sedang mengantar anak-anak.

Sebelum mulai, iseng saya tanya ke audiens, “Siapa yang waktu kecilnya senang menggambar?” Tidak banyak yang tunjuk jari. Tetapi waktu saya ubah pertanyaannya menjadi “Siapa yang semasa kecil senang menggambar pemandangan, dengan dua gunung, matahari (terkadang mataharinya berkaca-mata), sawah, dan sungai atau jalanan?” Waah? Tiba-tiba banyak yang angkat tangan.

Termasuk yang tadi tidak ikut angkat tangan waktu ditanya siapa yang di masa kecilnya suka menggambar. Ternyata mereka suka menggambar juga, tapi menggambar pemandangan alam gunung. Seolah-olah menggambar gunung tidak dapat dikatakan sebagai menggambar.

Lain halnya dengan cucu saya. Cucu saya yg pertama, namanya Audria. Waktu dia berumur 11 tahun, dia saya minta menggambar. Yang digambarnya adalah dua ekor ayam betina sedang angrem (Jawa: menetaskan telurnya). Dua induk ayam, duduk saling membelakangi dan di latar belakangnya…. dua gunung juga, tetapi di kejauhan, terlihat samar-samar, kalah dari gambar induk ayam di latar depan.

Di situ juga tidak ada lagi matahari dan sungai atau jalan yang berkelok-kelok. Mulai terasa adanya perubahan, generasi menggambar gunung diambil alih oleh generasi non-gunung.

Sekarang, ketika Audria sudah berumur 16 tahun dan duduk di kelas 3 SMA, dia sama sekali tidak menggambar gunung, melainkan ia membuat motif sebuah pigura. Motif bunga-bunga warna hijau.

Sedangkan sepupunya, Khalif (cucu saya yang lain) yang sekarang berumur 8 thn, SD kelas 2, menggambar roket yang sedang terbang ke langit dan dari pantat roket itu menyembur api yang akan mendorongnya ke bulan (atau ke surga? Pokoknya mana yang sampai duluan, yang penting bebas dari kondisi sekarang).

***

Audria dan Khalif dalam istilah Demografi Populer disebut Generasi Z (yaitu generasi yang sekarang berumur kurang dari 20 tahun. Generasi ini beda dari generasi kakak-kakak dan orangtua mereka, yaitu generasi Y, dan generasi X, apalagi generasi “baby boomer” (lahir sebelum Perang Dunia II”. Generasi “baby boomer” (BB) adalah generasi yang lahir dan hidup di era industri.

Di era itu, semuanya harus seragam, baku, terstandarisasi, agar bisa diproduksi secara cepat, massal dan murah, dan bisa dipakai di mana-mana tanpa ribet sedikitpun. Misalnya kalau lampu di rumah mati, tinggal pergi ke super market untuk membeli bola lampu merek apa saja, karena kalau dipasang di tempatnya di rumah, pasti pas!

Contoh lain, kalau mau beli baju serangan sekolah, tinggalkan pesan di Tanah Abang, berapa mau dipesan akan mereka siapkan, termasuk seragam batiknya, tanpa perlu kuatir bahwa batiknya nanti tidak seragam.

Karena di zaman itu semua serba baku, maka menggambar pun baku, yaitu menggambar pemandangan, Ibu dan bapak guru menggambar akan memberi nilai 9 atau 10 kalau kita menggambar pemandangan atau 6 kalau murid lebih suka menggambar yang bikan gunung. Maka terbentuklah manusia-manusia stereotipe, macam batik cetak keluaran pasar Tanah Abang.

Manusia-manusia stereotip ini paling mudah dipengaruhi. Diprovokasi oleh komunis, mereka jadi komunis yang tega bunuh orang. Kalau ketemu ISIS, sebentar saja sudah men-thogut-kan pemerintah, dan cepat menyembelih tawanannya yang dianggap antek pemerintah. Manusia-manusiua macam beginilah yang akan dihasilkan oleh standardisasi pendidikan, atau lebih tepatnya industrialisasi pendidikan.

Karenanya Ivan Illich, di tahun 1970an pernah menulis buku “best seller” yg bertajuk “Deschooling society” (masyarakat tanpa sekolah). Buku itu berceritera tentang sebuah masyarakat tanpa sekolah, karena yang diperlukan adalah guru-guru yang mampu membimbing murid-muridnya tentang apa saja, dari sumber mana saja. Sumber informasi yang sangat dahsyat sekarang ini adalah internet.

Itulah dunia generasi Z zaman sekarang, yaitu generasi yang tidak mau lagi terbelenggu kepada keinginan, tradisi dan stereotip orang tua. Maka jangan heran, kalau kelak makin banyak pemuda-pemuda lulusan pesantren yang emoh jadi guru mengaji, tetapi memilih jadi reporter kehidupan malam yang penuh maksiat. Atau siswa SMA yang sangat malas sekolah, maka ia masuk “home schooling” tetapi akhirnya diterima di FK UI juga.

Pokoknya generasi Z tidak punya pola, tidak ada cetak biru dan sulit ditebak.

Karena itu lembaga pemerintah, perusahaan atau organisasi swasta, atau LSM harus mau mengubah moda kerjanya. Yang emoh meninggalkan comfort zone-nya dan mau berleha-lega dengan budaya kerbau tradisionalnya, pati akan dilibas oleh tradisi generasi Z.

Di era generasi Y pun sudah terbukti betapa Nokia (semua orang pada zaman itu punya HP Nokia dan hanya Nokia di mana-mana, sehingga yang HPnya bukan Nokia sulit untuk mencari “colokan” yang pas kalau mau nyetrum HPnya di sepanjang jalanan. Tetapi sekarang, kemana Nokia?. Semua sudah beralih ke Samsung atau Apple (walaupun mahal), dan Nokia sudah habis dilibas generasi Y, karena mereka tidak cepat mengubah budaya perusahaannya.

***

Bagaimana sekarang dengan Indonesia? Indonesia yang sudah merdeka selama 71 tahun, sekarang diawaki oleh generasi Y dan sebentar lagi generasi Z yang sejak lahir sudah memainkan jemarinya di tuts gadget, sudah menirukan sehingga lancar berbahasa Inggris dari games Kapten Amerika dan sudah berpikir strategis dalam bermain Pokemon. Mereka adalah generasi MERDEKA yang tidak lagi mau ikut pola generasi-generasi orangtua mereka.

Mereka mau punya pola sendiri. Mereka lebih produktif dan kreatif di malam hari, sambil nongkrong di cafe sampai dini hari, ketimbang kerja di kantor dari jam 8-17. Mereka tidak betah bekerja dalam sistem yang membelenggu kemerdekaan mereka.

Kalau mereka dipecat pun dari pekerjaan, mereka akan cepat membuat pekerjaan sendiri, yang produk-produknya tahu-tahu sudah masuk ke pasaran Eropa dan Asia. Inilah perlunya di bentukan Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif)

Sebentar lagi media-media massa yang besar-besar seperti harian Kompas akan usang dan akan digantikan oleh media sosial yang lebih mudah untuk dijadikan sumber informasi dan yang cepat viral seperti menyebarnya virus penyakit yang berbahaya.

Maka fokus perhatian kita harus lebih banyak ditujukan kepada ruang gaul generasi Y dan Z untuk mengetahui arah perkembangan harapan bangsa Indonesia di masa depan. Selamat Jasman Generasi BB, selamat datang Generasi Z (generasi MERDEKA)!

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: