//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Pendidikan, Perubahan, Renungan

Misi Keluarga & Jati Diri

Harry Santosa
11 Okt 2016

Dalam sebuah peternakan ayam para ayah ayam dan para ibu ayam hanya berkumpul, bergerombol, bereproduksi dan makan bersama. Makanan disediakan, minuman disediakan oleh pemilik peternakan sepanjang mereka menurut. Mereka tidak perlu susah susah seperti ayam kampung mencari makan. Ada pos pos makan dan minum di sektar mereka, ini mirip minimarket terdekat yang menyediakan semua keperluan ternak.

Agar cepat besar, makanan mereka sudah dicampur berbagai “obat kimiawi” impor. Ini mirip restaurant junk food nya manusia, yang menyediakan makanan halal namun pemicu kanker. Tidak sedikit ayam ternak ini yang kanker, mati muda dan cacat karena makanannya.

Ayah ayam dan ibu ayam tidak pernah merancang misi keluarganya. Buat apa juga? Pensiun dan masa depan mereka sudah ditakar dan sudah ada formulanya. Kebanyakan mereka telah rela dipensiunkan dini untuk dibawa ke rumah pemotongan.

Jangankan misi keluarga, mereka bingung menemukan jati diri keluarga ayam mereka, bahkan jati dirinya sendiri sebagai Ayam. Kini bahkan mereka tidak tahu lagi cara mendidik anak anaknya. Mereka dan anak anak mereka hidup dalam sekat kandang dan ruang tertutup perumahan dan gedung 24 jam, full day n night.
Mungkin mereka, para ayam ini lupa, bahwa ayam mengerami telur selama 21 hari sesuai yang Allah hikmahkan. Mereka lupa bagaimana membantu menetaskan telurnya. Mereka telah kehilangan “fitrah” nya sebagai induk ayam. Bayangkan, sejak bertelur mereka, induk ayam, sudah harus kembali mencari makan dan minum untuk memenuhi target sesuai keinginan pemilik ternak. Tidak ada cuti mengerami dan merawat yang cukup.

Lihatlah anak anak ayam ini, mereka sejak telur sudah dititipkan pada mesin penetasan kemudian dikelompokkan sejak usia dini sampai usia ABG, kemudian dibariskan siap dipotong. Para anak ayam ini diseragamkan, dikelompokkan sesuai usia, dipilah sesuai standar. Tentu saja, yang “jelek” dan “afkir” sejak telur, usia dini dan anak, sudah pasti dicampakkan.

Para anak ayam ini sejak kecil sudah gampang stress, depresi dll. Suara petir bisa membuat mereka langsung terjungkal kaku mati. Beberapa anak ayam mengalami kebodohan permanen, karena obesitas dan banyak dikurung. Mereka jauh dari disebut kreatif apalagi bahagia sebagai ayam karena tidak pernah dihargai “fitrahnya” sebagai ayam.

Para anak ayam ini sesungguhnya rindu bermain di alam terbuka, mencari makan dengan mengais dan mencakar tanah, mengepakkan sayapnya sepuas puasnya, berguling di kubangan dan tanah yang gembur dsbnya. Namun peternakan terpadu tempat mereka “disekolahkan” membuat mereka kehilangan jatidirinya atau fitrahnya sebagai ayam.

Para orangtua ayam juga sebenarnya rindu mengerami telurnya sendiri, rindu menyuapi anak anaknya dengan cacing tangkapan sendiri langsung ke mulut anak anaknya dengan penuh kasih. Para orangtua ayam ini juga rindu sangat bermain di kebun dan alam terbuka bersama anak anaknya. Mereka dengan bangga berjalan di kebum diiringi puluhan anak anaknya.

Sayangnya mereka hanya ayam yang tidak punya aqal dan nurani, mereka tidak menyadari sedang dizhalimi.
Semoga kita tidak hidup dalam peternakan manusia, karena kita diberi fitrah, nurani dan akal.

Salam Pendidikan Peradaban
#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: