//
you're reading...
Human being, Kemandirian, Motivasi, Perubahan, Review

Kisah Semangat Berbagi dari Perusahaan Besar dan Kecil

Rhenald Kasali – Rumah Perubahan
Kompas, 26 September, 2016

Sewaktu melanjutkan studi di Amerika Serikat saya sering diajak bertemu para filantropis yang datang ke kampus. Salah satunya, pensiunan guru besar, yang menyerahkan uang pensiunnya untuk riset yang saya lakukan.

Teman-teman saya dari jurusan computer dan material science bahkan mendapat jutaan dolar dari Eastman Kodak, Microsoft, Exxon, BP Atau GlaxoSmithKline. Padahal perusahaan-perusahaan besar itu sering kena hukuman dan denda dari pengadilan.

Di Rumah Perubahan, warga kami pernah mendapatkan 1.000 tanaman buah-buahan langka dari Djarum Bhakti Lingkungan. Kini, matoa, blimbing demak, jambu bol, dan pete padi yang dibagikan telah berbuah dan menghiasi rumah-rumah warga di sekitar area kami.

Di kampus, sejumlah sejumlah dosen mendapat bimbingan dari Warthon School, berkat berkat kontribusi Tanoto Foundation. Dan ratusan mahasiswa mendapat beasiswa penuh dari yayasan ini.

Apa yang membuat mereka berbagi tentu menginspirasi banyak orang. Berbeda dengan kelas menengah yang baru tumbuh dan banyak komplain, ternyata kontribusi terbesar untuk berbagi baru dilakukan mereka yang benar-benar berada di atas atau yang justru ada di bawah.

Bukan “Cuci Dosa”

Sebagian orang berpendapat, semangat berbagi dilakukan untuk “mencuci dosa”. Walaupun banyak guru-guru agama mengajarkan hal ini pada mereka yang kaya, banyak studi justru menemukan kebalikannya.

Masalahnya, “dosa” perusahaan besar seringkali terjadi bukan karena kesalahan sendiri. Melainkan karena adanya framing dari pihak-pihak yang berkepentingan, baik itu politisi yang bermain, orang yang sakit hati, mereka yang kalah tender maupun pesaing yang terancam.

Benar! Hukum alam menandaskan, semakin tinggi pohon maka semakin keras pula guncangan badainya. Dan harap maklum, semakin besar perusahaan akan semakin besar kemungkinannya mereka melakukan kesalahan. Anda tak mungkin lolos dari tindakan satu-dua orang pegawai yang lalai.

Lihat saja BP (British Petroleum), pada tahun 2010 nyaris bangkrut karena denda sekitar 4 miliar dollar AS (110 persen dari pendapatan tahunannya) setelah mengotori teluk Meksiko dengan tumpahan minyaknya.

Demikian juga dengan Microsoft (antitrust), Abbott Labs, Barclays Bank, HSBC, Pfizer dan kini sedang dalam kasus terkini adalah pemeriksaan pajak Google di sejumlah negara.

Teorema “cuci dosa” belakangan roboh, karena ternyata hanya sebagian kecil perusahaan besar yang tetap berbagi meski gempuran-gempuran menghadang bisnis mereka.

Teorema yang lebih baru menekankan latar belakang pendiri yang merangkumnya dalam corporate values (tata nilai perusahaan).

Artinya, terlepas dari gempuran-gempuran citra, sedari awal motif mencari keuntungan sudah dibarengi dengan motif berbagi karena latar belakang tertentu. Kita, misalnya tak bisa begitu saja menutupi kenyataan bahwa Bill Gates gagal “meneruskan” sekolahnya.

Kegagalan itu bukan tak membekas. Tapi Gates kini sudah tak tertarik lagi berbicara tentang software. Ia lebih tertarik untuk menolong para penderita kanker dari kalangan yang kurang beruntung.

Sama dengan Tanoto Foundation yang didirikan oleh Sukanto Tanoto. Kalau Anda sempat berkunjung ke museum keluarga ini di Kota Medan, pasti Anda dapat merasakan perjuangan hidup keluarga ini meraih kehidupan yang lebih baik.
Bahkan, foto saat ia menjadi penjaga pompa bensin sambil menggendong adiknya, bisa ditemui dalam museum itu.

Ketidaklengkapan studi di masa remaja, kini dibalas Sukanto melalui Tanoto Foundation.

Menurut data yang saya baca, tahun 2016 ini saja biaya berbagi untuk pendidikan yayasan ini mencapai lebih dari Rp 80 miliar. Lebih dari 450 perpustakaan dan gedung PAUD telah dibangun, dan ribuan guru diajarkan cara memberantas buta aksara efektif.

Sukanto kini lebih tertarik berbicara tentang pendidikan kaum muda ketimbang kebun sawit atau pabrik kertasnya.

Namun, terlepas dari gempuran-gempuran image yang dituding banyak pihak kepada mereka, berapa besar budget promosi yang mereka keluarkan? Ternyata tak banyak. Mereka amat tak menaruh perhatian pada ocehan-ocehan negatif yang menyerang pribadi mereka.

Prinsip filantropi yang benar itu adalah: “Bila tangan kanan memberi, hendaknya tangan kiri tak perlu tahu.” Rata-rata filantropis yang saya temui saat membimbing kegiatan karitatif anak-anak muda mengatakan “biarlah anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.”

Sihol Aritonang, Ketua Pengurus Tanoto Foundation pernah mengatakan kepada saya dalam suatu kesempatan di USU, “Besarnya sumbangan tidak pernah kami publikasikan karena prinsip filantropi yang rendah hati yang dianut perusahaan. Di samping itu Tanoto Foundation tidak pernah menerima dana publik untuk berbagi.”

Di berbagai kampus, selain membangun sejumlah fasilitas, banyak dosen yang disekolahkan ke luar negeri. Saya juga sering memberi kuliah umum di auditorium Tanoto di sejumlah PTN sumbangan Tanoto Foundation.

Padahal, kalau mau, uang jutaan dolar yang ia dedikasikan untuk kegiatan-kegiatan sosial itu bisa saja dipakai untuk membayar politisi, atau cyber troops (pasukan dunia maya) untuk membelanya dari serangan terhadap pribadinya.

Sama seperti Bill Gates dan filantropis-filantropis rendah hati lainnya, berbagi itu adalah sebuah calling, bukan pencitraan.

Menginspirasi Kaum Muda

Di luar dugaan, langkah filantropis itu justru menginspirasi banyak kaum muda. Melalui Young Fellow Rumah Perubahan, kami menemukan anak-anak muda yang belum mapanlah yang justru terpanggil untuk berbagi.

Berkat bantuan para filantropis, kini anak-anak muda itu turun ke tepi Kali Ciliwung, membimbing anak-anak kaum pinggiran berkegiatan ekonomi.

Alia Noor Anoviar, misalnya, mendirikan Dreamdelion untuk membentengi anak-anak itu dari rayuan puluhan ormas, yang siap menggunakan mereka sebagai demonstran lapangan.

Ini benar-benar aneh. Mereka yang namanya sering dijelek-jelekkan dan difitnah ternyata orang baik. Sebaliknya yang banyak menyerang ternyata tak pernah memberi apa-apa, bahkan membelakangi para pejuang sosial.

Apakah Alia harus menunggu sampai mapan dulu untuk berbagi? Nyatanya tidak. Alia, sama seperti mahasiswa-mahasiswa saya lainnya, sedari muda sudah mempunyai panggilan untuk berbagi. Dan ini sehat bagi bangsa ini. Kemana kalangan kelas menengah baru kita?

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: