//
you're reading...
Human being, Kemandirian, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan, Perubahan

Ayah-Bunda, Mari Arahkan Cita-cita Anak Kita

Oleh Ida S Widayanti

Seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun saat sarapan di meja makan berkata, “Aku tadi malam bermimpi hafal 30 juz al-Qur’an. Terus dikasih hadiah sama presiden pergi haji bersama Ayah dan Ibu.”

Ayah dan ibu tersentak mendengar cerita anaknya.

“Ah, Adik pasti mengkhayal,” ujar kakaknya.

“Ih benar Kakak, aku juga heran. Pagi-pagi kok di rumah ini banyak mobil datang. Eh, ada presiden datang. Terus presidennya bilang, ‘Karena kamu hafal 30 juz, maka aku berangkatkan kamu bersama keluarga ke Tanah Suci, Makkah,” si anak dengan runut menceritakan mimpinya. Ekspresinya sangat serius dan senang.

Ayah dan Bunda, cerita tersebut menunjukkan bahwa si anak sangat menyukai al-Qur’an. Ternyata memang cita-citanya ingin menjadi pengafal al-Qur’an. Ia mengikuti kegiatan di Rumah Qur’an sejak berumur enam tahun. Ia sangat menyukai kegiatan ngajinya. Meskipun hujan deras, atau jalanan banjir, dia tetap bersemangat mengaji.

Apa yang membuatnya begitu menyukai al-Qur’an? Ternyata ada banyak hal yang dilakukan orangtuanya hingga si anak begitu suka dengan al-Qur’an. Ayah dan ibunya sering bercerita tentang kisah kehidupan para penghafal al-Qur’an. Jika ada acara pertemuan dengan para penghafal al-Qur’an, si anak selalu diajak.

Menanyakan cita-cita pada anak adalah hal yang penting, karena cita-cita akan menjadi tujuan dan arah bagi anak saat menuntut ilmu dan mewujudkan impian. Anak atau bahkan orang dewasa yang tidak memiliki mimpi atau cita-cita ibarat kapal yang berlayar di tengah lautan namun tidak memiliki tujuan. Ia akan terombang-ambing mengikuti arah angin.

Oleh karena itu, bukan hal yang aneh jika orangtua menanyakan cita-cita anaknya, “Jika sudah besar mau menjadi apa?” Banyak orangtua yang bangga jika anaknya menjawab ingin jadi presiden, dokter, pilot, atau tentara. Bukan tidak boleh. Namun, ada baiknya selain cita-cita semua itu juga diiring dengan cita-cita ingin menjadi penghafal al-Qur’an. In sya Allah akan bertambah berkah.

Syayma, seorang remaja hafizhah 30 juz mengatakan, “Kita boleh berprofesi apapun, namun yang penting juga mampu menyelesaikan hafalan Qur’an.”

Cita-cita ibarat garis lurus yang akan menjadi panduan. Jika memiliki cita-cita, in sya Allah akan memudahkan langkah menuju arah finish. Tidak ada cita-cita berarti tidak ada garis finish yang harus dicapai dan tidak ada garis lurus yang memandu.

Jadi, ketika ada kesempatan sekecil apapun untuk mewujudkan mimpi itu, maka Bismillah, segera ambil. Bukankah Allah telah mengingatkan kita dalam firman-Nya? “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (Ar-Ra’d [13]: 11)

Bercita-citalah setinggi mungkin. Iringi dengan ikhtiar, dan jangan lupa sempurnakan dengan berdoa, semoga Allah Ta’ala memudahkan dalam mewujudkan mimpi dan cita-cita. Kata Ali bin Abi Thalib, berdoa tanpa ikhtiar (usaha) bagaikan memanah tanpa busur.

Ikhtiar, berdoa, kemudian bertawakal. Yakin bahwa Allah sudah memberikan kesempatan yang cukup kepada kita untuk meraih cita-cita. Dan yakin bahwa Allah akan membantu dan menolong kita.*

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: