//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Motivasi, Perubahan, Renungan

Sepeda Motor dan Kita

Rhenald Kasali – Rumah Perubahan
Koran Sindo, 15 September 2016

Meme yang berisi ”doa” seorang pengemudi truk membuat saya tersenyum geli. Bunyinya begini: ”Semoga di depan saya tidak ada ibu-ibu yang mengendarai sepeda motor dengan lampu sen menyala ke kiri, tetapi beloknya ke kanan.”

”Doa” itu berangkat dari fakta yang mungkin ada benarnya. Namun pelakunya saya berani bertaruh bukan hanya ibu-ibu, tetapi ada juga bapak-bapak dan kaum muda. Saya menyaksikannya beberapa kali. Ada seorang bapak yang mengendarai sepeda motor dengan lampu sen menyala ke kanan, tapi beloknya ke kiri. Maka kalau sopir saya melaju agak kencang dan di depannya ada beberapa pengendara sepeda motor, saya menjadi agak cerewet.
Ulah pengemudi sepeda motor belakangan ini memang membuat kita kerap mengelus dada. Maaf kalau saya menggunakan kata ini: semakin anarkistis. Ini yang kita temukan: mengemudi tanpa helm, menyalip sesukanya— kadang dari sebelah kiri—, melawan arah alias contra-flow, banyak yang belum cukup umur (anak SMP sudah diperbolehkan ke sekolah dengan sepeda motor). Kalau posisi kejepit mobil, bukannya menginjak rem, tapi mereka enteng membunyikan klakson.

Bagaimana mau tidak kecelakaan? Bagaimana ini bapak dan ibu guru? Satu sepeda motor ditumpangi lebih dari dua orang, jalan meliuk-liuk, tak sabar menunggu antrean di lampu merah, main terobos, menerabas trotoar, nekat menyelip sehingga membuat mobil kita tergores atau kaca spion kena senggol … ah, bisa habis halaman ini untuk membuat daftarnya. Celakanya perilaku anarkistis semacam itu dipertontonkan orang tua kepada anak-anaknya.

Maksudnya, sambil membonceng anaknya sendiri, banyak orang tua yang sesukanya menerobos lampu merah, ber-contra-flow, atau melaju di trotoar. Maka tak mengherankan ketika sang anak kian besar dan bisa mengendarai sepeda motor, perilakunya juga ugal-ugalan. Siapa lagi yang mereka tiru! Sekarang tinggal bagaimana kita menyikapi masalah ini. Mau dianggap serius atau biasa-biasa saja? Mau dibiarkan saja atau memanfaatkan kondisi tersebut untuk melakukan perubahan?

Pembunuh Ketiga

Sepeda motor adalah bisnis besar di negara ini. Setiap tahun seluruh pabrikan rata-rata mampu memproduksi 9,6 juta sepeda motor. Sebagian besar dijual ke dalam negeri, sisanya diekspor. Dengan volume produksi sebanyak itu, kita sekarang menjadi negara produsen sepeda motor ketiga terbesar di dunia. Peringkat pertama masih China (21 juta motor) dan kedua adalah India (15 juta motor).

Jumlah pekerja yang terlibat di dalam industri ini juga luar biasa banyak, yakni lebih dari 2 juta. Mereka ini mulai dari yang bekerja di pabrik sepeda motor, layanan purnajual atau bengkel- bengkel sampai ke industri pendukungnya seperti jasa pembiayaan.

Selama tahun 2015, volume penjualan sepeda motor kita mencapai 6,48 juta kendaraan atau turun 18% bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Ini penurunan yang relatif tajam.
Meski begitu tetap saja nilai pasarnya luar biasa besar, yakni hampir Rp80 triliun.

Hanya penjualan sepeda motor kita memang seperti yoyo. Kadang naik, kadang turun. Sepanjang tahun lalu penjualan sepeda motor kita mencapai lebih dari 17.753 per hari atau setara 739 motor per jam. Dengan kecepatan penjualan tersebut (rata-rata naik 12% per tahun), jumlah sepeda motor yang memadati jalan-jalan raya kita kini mencapai lebih dari 80 juta kendaraan.

Maka tak mengherankan, menjelang jam kerja pada pagi hari atau pulang kantor di sore hari, pengendara sepeda motor menyemut. Macet di mana-mana. Makin menyemut, Anda tahu, makin sejahteralah para produsen sepeda motor kita. Itulah potret di satu sisi. Tapi, di sisi lain, banyak yang membuat kita miris. Menurut data Kementerian Perhubungan, korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas per hari mencapai 72-73 orang atau 3-4 orang per jam.

Lalu dari seluruh kasus kecelakaan lalu lintas, mayoritas atau sekitar 71% dialami para pengendara sepeda motor. Saya sedang senang dengan angka. Jadi saya sajikan lagi beberapa data. Kali ini saya kutip dari Global Status Report on Road Safety tahun 2015. Isinya tentang peringkat 5 negara dengan tingkat kecelakaan lalu lintas tertinggi di dunia. Urutannya adalah China, India, Nigeria, Brasil dan Indonesia.

Jadi, peringkat kita lumayan tinggi. Bahkan menurut WHO, kecelakaan lalu lintas telah menjadi pembunuh ketiga terbesar di Indonesia. Dua di atasnya adalah penyakit jantung koroner dan TBC. Masih menurut WHO, di Indonesia setiap jam ada 3-4 orang yang tewas akibat kecelakaan lalu lintas. Mayoritas korbannya adalah pengendara sepeda motor. Lalu dari pengguna sepeda motor yang tewas akibat kecelakaan, yang terbanyak adalah kalangan remaja!

Saatnya Berubah

Lalu apa yang mesti kita lakukan? Bicara soal ini, saya jadi teringat dengan edukasi yang dilakukan produsen salah satu merek sepeda motor. Di Yogyakarta, bersama dengan pihak kepolisian setempat, mereka pergi ke sekolah-sekolah yang ada di sana. Mereka menyasar anak-anak SD. Di sana anakanak SD diajari tentang tertib berlalu lintas, sopan santun di jalan raya, patuh terhadap peraturan, dan sebagainya.

Produsen itu rupanya sadar tentang betapa sulitnya mengubah kebiasaan orang-orang tua. Maka mereka pun menggunakan anak-anak untuk mengubah kebiasaan tersebut. Contoh penerapannya begini. Dulu kalau orang tua mengantar anak-anaknya ke sekolah, mereka kadang tak memakai helm.

Baik orang tua maupun anak-anaknya. Di sekolah anakanak diajari bahwa bersepeda motor tanpa mengenakan helm itu sangat berbahaya. Anak-anak juga diajari untuk berani mengingatkan orang tuanya. Maka, suatu pagi, ketika sang anak ingin diantar ke sekolah, ia pun menegur orang tuanya agar memakai helm. Juga sang anak minta dibelikan helm. Lalu, ketika di jalan orang tuanya menerobos lampu merah, sang anak akan mengingatkan bahayanya.

Begitu pula ketika orang tuanya ngebut, sang anak minta tak usah buru-buru. Hasilnya? Kita tahu, ada orang tua yang keras kepala, tapi ada pula yang justru tersentuh ketika ditegur anaknya. Perubahan pun mulai bergulir meski belum terjadi dalam skala yang masif. Rasanya kita perlu mereplikasi cara-cara tersebut. Itu bukan sesuatu yang sulit dan tidak membutuhkan banyak biaya.

Ayo orang tua, kita larang anak-anak yang belum cukup umur dan tidak punya SIM C untuk mengendarai sepeda motor. Bukan hanya di jalan raya, tetapi di mana pun. Orang tua juga jangan memberikan hadiah sepeda motor kalau usia anaknya belum cukup. Ayo guru-guru SD dan SMP, larang murid kalian yang pergi ke sekolah dengan membawa sepeda motor.

Pakai sepeda saja, lebih sehat. Kalangan industri sepeda motor, ayo sama-sama mengedukasi budaya tertib berlalu lintas. Jangan asyik jualan saja. Ayo kita bangun budaya malu melanggar aturan lalu lintas. Pak Polisi, tugas Anda menegakkan aturan, jangan malah melanggarnya. Kita bukan hanya krisis narkoba, tapi juga krisis budaya tertib di jalan raya.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: