//
you're reading...
Lingkungan, Perubahan, Review

Anak Gendut Manja Bernama Jakarta

Daniel Mohammad Rosyid, Ph.D
Gurubesar pada Jurusan Teknik Kelautan
ITS Surabaya

Rangkaian banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Jawa Barat juga sebagian Jakarta perlu diwaspadai. Rencana Pemerintah untuk membangun Tanggul Laut Raksasa di Teluk Jakarta perlu dicermati. Jakarta terancam tenggelam akibat penurunan tanah di pantai Utaranya, sementata muka air laut naik akibat pemanasan global. Anehnya Pemerintah DKI justru mempersilahkan pengembang swasta untuk membangun pulau-pulau buatan di Teluk Jakarta sebagai lahan komersial. Padahal bisa dikatakan bahwa neraca lingkungan di Jawa sudah defisit, apalagi di Jakarta. Jakarta seharusnya dikurangi beban lingkungannya, tidak malah ditambah yang bakal mengundang urbanisasi.

Krisis lingkungan Jakarta khususnya dan Jabodetabekpunjur umumnya adalah sebuah fenomena anak gendut manja. Pemerintah memanjakan Gubernur DKI dan Gubernur-gubernur lainnya di Jawa lalu menganaktirikan gubernur-gubernur lainnya di Luar Jawa. Banyak daerah miskin disebut “daerah tertinggal” padahal yang sesungguhnya terjadi adalah “daerah yang ditinggalkan” seperti anak tiri ditinggal ayahnya pergi.

Obsesi pertumbuhan telah menelantarkan kemaritiman dan menyebabkan Jawa, terutama Jakarta menderita gendut-energi.
Kegendutan atau obesitas adalah gejala ketidakmampuan metabolistik tubuh untuk mengkonsumsi asupan yang berlebihan. Jakarta mengidap penyakit ini dalam tingkat yang parah.

Penduduk Jawa menikmati konsumsi energi perkapita sekitar 1000 liter setara minyak/tahun sementara penduduk Jabodetabekpunjur mengkonsumsi sekitar 4000 liter/tahun. Ini hampir setara dengan rata-rata orang Jepang. Para jetset Indonesia yang memiliki pesawat jet pribadi bisa mengkonsumsi 20 ribu liter/tahun. Sementara itu warga Papua atau NTT harus puas dengan 200 liter/tahun atau bahkan jauh lebih kecil di pulau-pulau terpencil. Rata-rata konsumsi energi penduduk Indonesia adalah sekitar 700 liter/tahun. Ini mencerminkan ketidakadilan energi yang parah dan menjelaskan ketimpangan pembangunan selama Orde Baru dan Orde Reformasi.

Obsesi pertumbuhan tinggi sejak Orde Baru telah melahirkan pemerintahan yang Jakarta-sentris. Tanah Papua dan Aceh dipandang Jakarta sebagai aset, sementara penduduknya dipandang sebagai tagihan. Walaupun Orde Baru mewacanakan trilogi pembangunan pertumbuhan-pemerataan-stabilitas, yang terjadi adalah pertumbuhan memusat di Jabodetabek dalam stabilitas semu. Maka Orde Baru tumbang dan lahirlah reformasi dengan 2 agenda utama : demokratisasi dan desentralisasi. Agenda reformasi adalah upaya mengoreksi obsesi pertumbuhan melalui sentralisasi Jakarta.

Tapi desentralisasi masih gagal melahirkan pemerataan saat demokratisasi gagal merekrut kepemimpinan daerah yang diharapkan. Ada 2 syarat agar setiap investasi publik membawa manfaat bagi warga : 1) pemerintah yang bersih dan 2) operator layanan publik yang kompeten. Biaya politik yang mahal telah menyebabkan investasi publik dikerdilkan oleh korupsi elite daerah, lalu operator yang tidak kompeten gagal memberikan layanan publik yang value-for-money, namun hanya value-for-monkeys.

Ketimpangan nasional saat ini justru lebih buruk daripada masa Orde Baru. Indeks Ginie kita 0.41 sudah membahayakan kesatuan dan persatuan bangsa ini. Konsetrasi kekayaan nasional masih memusat di Jawa, terutama di kawasan Jabodetabekpunjur. 50% kekayaan nasional dikuasai oleh kurang dari 1% elite superkaya yang umumnya tinggal di Jakarta. Pemusatan kekayaan itu sebagian besar justru wujud dalam penguasaan lahan produktif di Jawa maupun di luar Jawa.

Untuk menolong Jakarta dari tenggelam, kita harus meninggalkan obsesi pertumbuhan tinggi, mentargetkan pertumbuhan yang lebih rendah tapi lebih merata dan inklusif melibatkan seluruh masyarakat Indonesia terutama yang tinggal di Kawasan Timur Indonesia.

Visi Maritim pemerintah saat ini hanya bisa wujud dengan Look East Policy. Hanya kemaritiman yang akan mengapungkan kembali Jakarta. Pulau-pulau buatan di Teluk Jakarta itu malah akan menenggelamkannya.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: