//
you're reading...
Human being, Life style, Lingkungan, Perubahan

Dari Rumah Makan ke Rumah Sakit

Oleh: DR.dr.Tan Shot Yen,M.hum.
Kompas, 3 Okt 2016

Tak ada satu orang pun yang menyangkal bahwa bisnis makanan, masakan, kuliner, apa pun itu namanya diciptakan jelas-jelas untuk menghasilkan uang – jika terlalu kasar dibilang ambil untung. Uang hanya datang jika ada yang beli. Orang hanya mau beli jika sesuai dengan apa yang diharapkannya. Apa yang diharapkan dari makanan? Enak. Sehat? Itu teori.

Jujur saja, jika soal bikin makanan sehat dan rasanya biasa-biasa saja, tentu lebih afdol jika dibuat sendiri. Kita jadi doyan dan ketagihan beli makanan jadi karena kita tidak bisa meniru rasanya.

Jadi, tidak ada katering makanan yang sungguh-sungguh mengikuti kaidah sehat. Minimal pemakaian minyak zaitun untuk menumis. Atau madu sebagai pengganti gula. Bahkan ‘kecap diet’ untuk semur ayam yang dipaksakan.

Sehat versi yang memasak dan produsen bahan masakannya, tentu. Katering kelas tinggi bahkan menyediakan keripik sayur yang tidak digoreng dengan minyak, tapi dipaksakan jadi sayur dehidrasi menggunakan air fryer. Demi ketagihan para konsumen katering yang takut minyak goreng.

Padahal, minyak zaitun dikatakan sehat, karena proses pembuatannya tidak melalui pemanasan. Faktanya, madu sarat gula sederhana bernama fruktosa – yang tidak lebih sehat dari glukosa – karena tak terikat serat seperti fruktosa dalam buah utuh. Sesungguhnya, kecap diet adalah produk pabrik yang tidak lebih sehat dari gula jawa.

Dan Tuhan menciptakan sayur tidak pernah dalam keadaan dehidrasi. Konsep hukum kodrat yang tidak dipahami dan tuntutan ketagihan selera rupanya membuat manusia semakin kalap belakangan ini.

Akhirnya, ada harga yang harus dibayar. Istilah ‘asam lambung naik’ menjadi diagnosa viral di kalangan awam, yang alpa bahwa mengucurnya asam lambung antara lain karena bentuk makanan yang makin hari makin aneh.

Kering tanpa kuah, dehidrasi dan sarat bumbu sintetik. Lambung disiksa mencerna yang mau tak mau akhirnya menghasilkan cairan berlebih untuk pencernaan yang begitu berat. Padahal, dalam urutan makan ‘yang masih benar’, sup adalah makanan pembuka yang dulunya amat disukai anak hingga orang tua.

Gaya hidup yang dipahami sebatas makanan diet, akhirnya menghasilkan wanita-wanita bertubuh ‘langsing’ nyaris kurus tapi masih berisiko penyakit.

Badan kelihatan langsing, tapi organ dalam tubuh berlapis lemak. Termasuk dinding pembuluh darah. Ogah olah raga takut kena matahari membuat wajah tirus mulus bak porselen, tapi minus massa otot dan tulang rapuh.

Jangan salah, rumah makan abad ini belum tentu menyediakan daging berlemak atau tumisan bervetsin. Bisnis baru mulai menjamur bagi kalangan papan atas, yang menganggap rumah makan dengan pernik organik sebagai tren.

Munculnya menu-menu ajaib dengan warna mie semu oranye dan hijau seakan memenuhi keafdolan makan wortel dan bayam – sambil tetap mempertahankan kecanduan akan bakmi.

Gula yang disajikan pun sangat fancy. Berupa kristal indah kekuningan dengan label ‘organic raw sugar’ – berkesan anti obesitas. Padahal, tetap saja gula.

Hilangnya kearifan

Menyaksikan semua fenomena itu, saya pikir ada sesuatu yang ‘hilang’ belakangan ini. Sebut saja kearifan.

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, kata arif memuat artian luhur yang bisa diandaikan wujud ideal manusia paripurna. Bukan sekadar cerdik dan pandai, orang arif memahami sesuatu dengan kebijaksanaan.

Yang pasti, kearifan jauh dari keserakahan apalagi sifat licik memanfaatkan pangsa pasar. Orang yang arif tidak gegabah menempatkan ilmu yang dimiliki untuk mengatasi kodrat.

Sayang amat jika mata kuliah filsafat ilmu pengetahuan (jika masih ada) di semester satu semua jurusan, dianggap hanya sebagai sempalan SKS. Begitu pula pengembangan karakter cuma sekadar keterampilan ‘ngecap’ untuk bisa lulus.

Teori tinggal teori, begitu pula saya menyayangkan para pasien yang jatuh dalam kondisi penyakit kronik akibat gaya hidup sebagai pelanggan setia rumah sakit, lupa teori hidup sehat saat di rumah makan.

Pengetahuan tanpa kearifan membuat manusia membayar mahal, salah satunya pada masalah kesehatan. Tubuh adalah fenomena alam yang tak mungkin dimanipulasi. Tubuh selalu jujur memberi umpan balik saat empunya badan berlaku zolim pada dirinya. Saat hukum kodrat terinjak.

Kearifan juga kerap membawa kita kembali pada pemikiran tradisional, yang secara keilmuan bila digali akan memancarkan kebjiaksanaan.

Seperti seorang ibu tidak membelikan es krim bagi anaknya yang batuk pilek. Atau melarang makan permen dan coklat untuk anak dengan gigi berlubang. Terlepas dari suhu dinginnya es krim atau lengketnya permen – bukan suatu kebetulan bahwa jajanan itu semuanya memang bergula tinggi.

Saat negara-negara maju bergegas memberlakukan pajak tinggi untuk makanan kemasan tinggi gula, bahkan India sudah meregulasi pangan anak sekolahan, anak-anak kita di sini masih dibombardir pangan tak terkontrol.

Anak-anak muda riuh mengejar kedai jajanan asing di mal-mal mewah, merasa ‘keren’ sekaligus berfoto dengan apa yang mereka sebut sebagai ‘makanan dan minuman’ – yang seratus tahun lalu saja tidak eksis. Dan seratus tahun lalu, diabetes maupun penyakit jantung koroner akibat gaya hidup pun tidak eksis di anak muda pertengahan tiga puluh tahun.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: