//
you're reading...
Human being, Pendidikan, Perubahan

Menularkan Baca

Shanti Hayuningtyas
Program Director TWG
0kt 4, 2016

Indonesia Pameran Buku Internasional (IIBF) baru saja berlalu, sudahkah menyempatkan diri datang? Ketua panitia IIBF 2016 mengatakan, selama lima hari penyelenggaraan pengunjung melampaui target 60 ribu. Pameran buku yang diikuti berbagai penerbit nasional dan internasional ini bukan yang pertama diadakan oleh IKAPI. Hampir setiap tahun IKAPI menyelenggarakan pameran buku, setidaknya ada tiga pameran yang rutin diadakan di Jakarta, Pameran Buku Jakarta, Pameran Buku Islam dan IIBF. 60 ribu atau 100 ribu pengunjung dan pameran buku diadakan setahun 3 kali atau 6 kali rasanya masih sangat kurang untuk memperluas kesempatan membaca dan memperbesar golongan membaca, kalau IKAPI melakukannya sendiri.

Sementara sekarang kondisi minat baca bangsa Indonesia saat ini cukup memprihatinkan. Berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Menurut pak Anies Baswedan yang waktu itu masih menjabat menteri Pendidikan, indikator sukses tumbuhnya minat membaca tak selalu dilihat dari berapa banyak perpustakaan, buku dan mobil perpustakaan.

Pemerintah pun meluncurkan Gerakan Literasi Sekolah, yang dikembangkan menjadi suatu gerakan “membaca dan menulis” yang bertujuan membiasakan dan memotivasi siswa agar mau membaca dan menulis guna menumbuhkan budi pekerti. Gerakan literasi, gerakan membaca 15 menit tiap pagi juga tak akan sanggup mengatasi masalah diatas, kalau dilakukan sendiri.

Di awal-awal pemerintahan Presiden Soekarno begitu Proklamasi Kemerdekaan baru usai dikumandangkan, pemerintahan Sukarno tidak hanya menyerukan mengangkat senjata melawan kolonialisme Belanda, tetapi juga memerintahkan menenteng pena dan buku untuk memberantas buta-huruf di kalangan rakyat Indonesia. Pada tanggal 14 Maret 1948, Presiden Soekarno mencanangkan Pemberantasan Buta Huruf (PBH). Bung Karno mengatakan: “Bukan saja kita menang di medan perang, tetapi juga dalam hal memberantas buta huruf kita. Pada tahun 1960, Bung Karno kembali mengeluarkan komado: Indonesia harus terbebas dari buta-huruf hingga tahun 1964. Seluruh rakyat pun dimobilisasi untuk mensukseskan ambisi tersebut. Banyak orang yang pandai baca-tulis dikerahkan untuk mengajar secara sukarela. Organisasi masa banyak dilibatkan untuk mensukseskan program luhur ini. Hasilnya sungguh menakjubkan: pada tanggal 31 Desember 1964, semua penduduk Indonesia usia 13-45 tahun (kecuali yang ada di Irian Barat) dinyatakan bebas dari buta huruf.

Bung Karno memahami dengan jelas bahwa kemajuan suatu bangsa adalah kemampuannya menyediakan pendidikan untuk mencerdaskan bangsanya sehingga mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Mengapa berhasil, karena Pemerintah tidak melakukan sendirian.

Seperti di jaman kemerdekaan, Bung Karno memobilisasi masyarakat yang sudah melek huruf untuk mengajar tulis baca secara sukarela, membantu pemerintah mengatasi masalah buta huruf. Semua orang turun tangan ambil peran. Karena memahami negara tanpa pendidikan, tanpa membaca, niscaya akan mati perlahan.

Pemerintah menyebutkan bahwa program Literasi yang diluncurkan tahun lalu diberi nama Gerakan Literasi Sekolah karena efek dari sebuah gerakan biasanya lebih cepat menyebar dibanding program. Sebuah gerakan kalau sudah menular akan akan sulit dihentikan sebab menularnya bukan karena perintah, dana, dan program tapi karena ada penularan.

Sementara jika didekatkan sebagai program, maka semua itu tergantung penyelenggara, tapi kalau didekati dengan gerakan, efeknya akan meluas tak terbendung. Pemerintah berharap gerakan literasi seperti kebiasaan membaca 15 menit sebelum belajar akan sangat efektif.

Gerakan membaca 15 menit yang dicanangkan pemerintah di sekolah-sekolah diharapkan dapat membangun budaya baca. Awalnya mungkin sulit tetapi jika guru disiplin melakukan di kelas masing-masing pasti akan menumbuhkan dan memperluas kegemaran membaca. Apalagi jika guru lebih kreatif berinovasi dengan meracik kegiatan 15 menit tersebut dengan bermacam-macam kegiatan seputar buku, mendongeng, membaca nyaring, mendiskusikan isi cerita atau siswa mempresentasikan buku kesukaannya, membuat sinopsis atau bertukar buku dengan teman. Dan banyak lagi.

Semua orang harusnya turun tangan , ambil peran mengatasi masalah baca-tulis dan minat baca bukan karena anjuran pemerintah, bukan karena ada dana, bukan karena cari nama, bukan karena ada untungnya, tapi karena para guru dan pendidik sangat memahami bahwa membaca adalah jantungnya pendidikan, belajar dan mengajar dimulai dari membaca, pintu segala pengetahuan adalah membaca.
Maka tanpa membaca, pendidikan akan mati.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: