//
you're reading...
Creativity, Ekonomi, Information Technology, Perubahan, Review

Industri 4.0 : IOT in Harmony with “Local Wisdom” , Mungkinkah ?

Jusman Syafii Djamal
October 02, 2016

Istilah revolusi biasanya digunakan dalam politik. Namun, Revolusi Industri adalah perubahan cara pembuatan barang yang semula dikerjakan dengan otot kawat walung wesi digantikan tenaga mesin.Revolusi Industri adalah perubahan besar, secara cepat, dan radikal yang mempengaruhi kehidupan masyarakat dan bangs a. Lahirnya konsep division of labour, munculnya Economic of Scale menyebabkan proses produksi massal dari tiap jenis produk dengan jumlah banyak dengan waktu yang relatif singka dapat diwujutkan.

Sumber Revolusi Industri adalah revolusi ilmu pengetahuan pada abad ke 16. Discovery dan penemuan para ilmuwan seperti Francis Bacon, René Descartes, Galileo Galilei , Copernicus, serta peranan lembaga riset seperti The Royal Improving Knowledge, The Royal Society of England, dan The French Academy of Science, menjadi penggerak mula benih revolusi Industri.Awal mula istilah “Revolusi Industri” ditemukan dalam surat utusan Perancis Louis-Guillaume Otto pada 6 Juli 1799. Ia menuliskan bahwa Perancis telah memasuki era industrialise.

Penemuan para ilmuwan yang melahirkan teknologi baru, besar peranannya dalam proses industrialisasi. Teknologi mempermudah dan mempercepat kerja industri, melipatgandakan hasil, dan menghemat biaya.Penemuan penting, yang merubah landskap bisnis akibat munculnya proses pembuatan dan produksi pelbagai barang yang verbena dari sebelumnya, antara lain ditandai oleh

Pertama, siklus penemuan Kumparan terbang (flying shuttle) ciptaan John Kay (1733). Temuan alat yang menyebabkan proses pemintalan berjalan secara cepat. Setelah itu muncul Mesin pemintal benang (spinning jenny) ciptaan James Hargreves (1767) dan Richard Arkwright (1769).Mesin tenun (merupakan penyempurnaan dari kumparan terbang) ciptaan Edmund Cartwight (1785). Dengan alat ini hasil tenun dan pakaian jadi berlipat ganda.Masalah kebutuhan sandang pakaian memiliki solusi.Apalagi setelah Cottongin, alat pemisah biji kapas dari serabutnya ciptaan Whitney (1794) lahir. Kebutuhan kapas bersih dalam jumlah yang besar dapat tercukupi.Setelah itu muncul temuan Cap selinder ciptaan Thomas Bell (1785). Dengan alat ini kain putih dapat dilukisi pola kembang 200 kali lebih cepat jika dibandingkan dengan pola cap balok dengan tenaga manusia. Mata rantai temuan ini menyebabkan industri tekstil berkembang pesat

Kedua, siklus temuan Mesin uap, ciptaan James Watt (1769). Dari mesin uap diciptakan berbagai peralatan besar dan wahana transportasi seperti lokomotif ciptaan Richard Trevethiek (1804) yang kemudian disempurnakan oleh George Stepenson menjadi kereta api penumpang. Kapal perang yang digerakkan dengan mesin uap diciptakan Robert Fulton (1814).Mesin uap merupakan inti dari Revolusi Industri sehingga James Watt sering dianggap sebagai Bapak Revolusi Industri I’.Penemuan-penemuan baru selanjutnya, semakin lengkap dan menyempurnakan. Hal ini merupakan hasil Revolusi Industri II dan III, seperti mobil, pesawat terbang, industri kimia , industri electronics , komputer dan sebagainya.

Revolusi Industri Pertama yang merubah wajah Eropa dan Amerika dengan temuan mesin uap. Lokomotip, pembangkit listrik, kapal telah membuat Dunia menyempit. Apalagi dengan munculnya pelbagai jenis wahana transportasi.Ketika kuda dan kapal layar jadi wahana perpindahan barang dan manusia, diperlukan waktu bertahun tahun untuk keliling dunia. Mode of production digerakkan secara manual, teknolog bergantung pada “crafmantship”, keahlian keprigelan tangan.

Kita selalu merujuk pada Van Gogh, Michaelangelo, Leonardo da vinci. Pemahat dan Pelukis serta arsitek ketika bicara tentang para jenius dalam bidang “crafmanship”. Di Indonesia kita selau mengagumi pengrajin furniture Jepara, pematung Bali dan Pelukis Jogja dan Bandung. Ketika kereta kuda dan kapal layar diganti mobil,lokomotip,kapal uap dan pesawat terbang landskap bisnis berubah total.

Pada Revolusi Industri Kesatu dan Kedua, mayoritas penduduk Indonesia masih mengandalkan pertanian dan eksplorasi sumber daya alam untuk meningkatkan kesejahteraan dan kekayaan.Industri awalnya tumbuh berfokus pada penyediaan barang sandang , pangan dan papan. Volume Perdagangan berorientasi pada pasar dalam negeri. Landskap bisnis berkisar disekitar dagang kelontong, pertukaran barang dipasar Rebo, Senen dan Jumat. Kini industri yang muncul variasi nya meningkat menjadi industri electronics, automotive, baja dan industri pengolahan substitusi import. Pasar berubah Jodi mall dan supermall.

Kemajuan wahana transportasi kemarin Rabu dan Kamis saya rasakan . Dengan gunakan pesawat terbang jakarta – Batam dipagi hari, yang dilanjutkan dengan pemanfaatan angkutan ferry dari batam disore hari saya bisa menuju singapore, di hari yang sama. Makan pagi di Terminal 3 Ultimate, Makan siang di Batam dan malam di Singapore. Hal yang sama bisa terjadi jika memilih terbang direct Jakarta – Amsterdam dengan Boeing 777 Garuda. Kini jarak dan waktu tak menghalangi pelintas batas negara.

Di Singapore seperti biasa saya pasti mampir di Kinokoniya, toko buku yang besar di Takashimaya Orchard Road. Kadangkala jika kesitu saya heran pada diri sendiri mengapa di Jakarta tak ada toko buku seperti ini. DImana buku dijual dalam sebuah ruangan besar seperti pakaian dan mainan anak anak. Supermarket buku tak kita miliki di Indonesia. Semua entrepreneur yang saya tanya bilang pasarnya kecil dan pasti bangkrut. Lebih baik jual baju bekas atau tas kata mereka. Pengusaha toko buku yang saya tanya menunjuk hal lain ia bilang harga buku tak mungkin murah di Indonesia. Dari kertas, tinta, dan semua mata rantai bisnis penuh dengan pajak dan pungutan ini dan itu. Semua dianggap sebagai proses bisnis biasa. Jual buku dianggap sama dengan jual burger atau ayam goreng. Tiap transaksi dikenai pungutan pajak yang normal.

Tak ada diskont seperti di negara lain. Padahal Preambule Konstitusi menyatakan visi kita sebagai Bangsa adalah Mencerdaskan Kehidupan. Tanpa buku bagaimana kita bisa meningkat kecerdasannya ???

Di Toko buku itu saya tertarik dengan buku berjudul Age of Discovery, karya Ian Goldin dan Chris Kutarna. Dua penulis ini menyatakan dalam bukunya bahwa di Era Revolusi Industri keempat ini kita sebagai bangsa perlu secarasistimatis dan berkesinambungan membangun keahlian untuk mampu menyusuri jalan baru.

Buku itu merekomendasikan agar semua bangsa yang ingin menang dalam persaingan global, harus memiliki keahlian untuk bersilancar diatas gelombang perubahan. Tiap perubahan mengandung ancaman atau Resiko dan juga Peluang Keempatan baru. Karenanya kekuatan atau our strength harus ditingkatkan melalui upaya menemukan persfektip baru yang berbeda dengan masa lalu. Mindset baru agar mampu meniti buih resiko. Mendayung diantara dua karang kata Bung Hatta. Atau “Navigating the Risk and Rewards of our New Renaissance”, menurut buku ini. Jika tahun 1400 Kerajaan Islam Ottoman melahirkan aljabar dan ilmu tentang angka yang kemudian menginspirasi Romerus Gemma menemukan konsep “triangulasi”, yang memudahkan pelaut membaca peta dan kompas penuntun arah navigasi, yang menyebabkan semua bangsa bahari mengembangkan “maritime economics”. Kini di tahun 2016, temuan itu telah melahirkan kemajuan perdagangan antar pulau dan antar benua. Perdagangan yang memaksa inventor Teknologi berlomba berinovasi dalam upaya meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

Smarter, Faster, Bigger, Better, and Cost Effective

Istilah Revolusi Industri keempat pertama sekali muncul dari Klaus Schwabb, Founder dari World EConomic Forum. Ia bilang :”The First Industrial Revolution used water and steam power to mechanize production.The Second used electric power to create mass production. The Third used electronics and information technology to automate production. Now a Fourth Industrial Revolution is building on the Third, the digital revolution that has been occurring since the middle of the last century. It is characterized by a fusion of technologies that is blurring the lines between the physical, digital, and biological spheres. Revolusi Industri keempat merontokkan dinding pembatas antara ruang biologi, ruang realitas fisik dengan ruang virtual digital atau cyber space.

Nicholas David World Economic Forum bilang begini : ” “Kini di Tahun 2016: “, Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence, telah muncul di sekitar kita. Dari “self-driving car”, drone hingga factory automation dan perangkat lunak asisten virtual untuk bisnis online telah menjadi ajang investasi baru.

Teknologi digital, yang muncul dan mempengaruhi kehidupan kita saat ini adalah fajar atau tanda awal Revolusi Industri Keempat. Era baru yang memperluas dampak digitalisasi dengan cara baru tak terduga. Seperti kata Michio Kaku, seorang fisikawan kita memiliki kemampuan untuk menempatkan “microchip” di ruang sekitar kita, di kursi, meja, lemari, mesin yang digunakan . kulkas, tv, pintu gerbang dan lain sebagainya untuk dikendalikan dengan sebuah smartphone

Kemajuan mengesankan telah lahir di arena Artificial Inteligence, Hal ini didorong oleh peningkatan secara eksponensial daya komputasi , algoritma matematika untuk optimisasi dan ketersediaan sejumlah besar data dari perangkat lunak yang digunakan. Kini kemajuan itu telah merambah ke teknologi fabrikasi digital dan muncul kemampuan berinteraksi dengan dunia biologi atau bio engineering. Setiap hari kini paraInsinyur, desainer, dan arsitek menggabungkan gagasan rekayasa rancang bangun, arsitektur suatu karya desain, metode komputasi, manufaktur , teknik pengolahan pelbagai jenis material dan biologi sintetis untuk merintis simbiosis antara mikroorganisme tubuh dengan produk yang dikonsumsi bahkan dengan bangunan yang kita huni.

Atau seperti kata Nicholas David dari World Economic Forum menyatakan :”Technologies are emerging and affecting our lives in ways that indicate we are at the beginning of a Fourth Industrial Revolution, a new era that builds and extends the impact of digitization in new and unanticipated ways”

Kata William Gibson seorang novelist : Masa depan itu sudah hadir didetik ini. Hanya sayangnya belum terdistribusi merata. “The future is already here – it’s just not very evenly distributed.”

Kini disebagian belahan dunia beberapa sektor industri masih saja menggunakan kemajuan teknologi yang berasal dari Revolusi Industri kedua dan ketiga. Akan tetapi tanpa disadari industri ini pasarnya mulai tergerus oleh kemajuan teknologi yang muncul sebagai tanda awal dari Revolusi Industri keempat. Banyak industri yang baru muncul telah mengekspolitir kemajuan teknologi yang berasal dari Revolusi Industri keempat untuk menelan lawan lawanya.Indeed, in many parts of the world aspects of the Second and Third Industrial Revolutions have yet to be experienced, complicated by the fact that new technologies are in some cases able to “leapfrog” older ones.

Fenomena dimana sebagian wilayah ekonomi masih berada dalam Revolusi Industri pertama, kedua dan ketiga tampak kasat mata jika kita berjalan mengelilingi Indonesia yang membentang dari Sabang hingga Merauke. Ada wilayah ekonomi dimana wujut nyata pengaruh Revolusi Industri Pertama, Kedua, Ketiga masih melekat dalam tatacara dan tatakeola bisnis dan interaksi.

Kita dengan mudah dapat bertemu dengan kelompok masyarakat yang masih berada dalam pengaruh Revolusi Industri Gelombang Pertama dan Kedua. Begitu juga dengan yang Ketiga. Sementara ada kelompok masyarakat yang telah hidup dalam gelombang perubahan yang ditimbulkan oleh Revolusi Industri ke empat. Mereka sedang bersiap menyongsong perubahan dan dampak yang berada diufuk horison.

Disini saya mengamati perlunya tatakelola bisnis yang lebih pas dan tepat. Agar tiap layer masyarakat dapat memiliki kekuatan untuk masuk ke pasar dan melakukan transaksi membangun potensi kesejahteraan nya. Jejak kemajuan Revolusi Industri Pertama yang muncul tahun 1784 dengan kemajuan Mesin Uap, Alat peralatan permesinan, pembangkit tenaga uap dan air. Yang diikuti Revolusi Industri ke dua dengan kemampuan produksi massal, division of labour dan electricity yang dimulai tahun 1870 serta kemajuan teknologi electronic, IT , automated production sekitar tahun 1969 serta Revolusi Industri keempat cyber physical space dengan Internet of Things kini ada dihadapan dalam wujut kasat mata. Inilah “Challenge bagi Generasi Muda Indonesia”. Menempatkan kemajuan teknologi itu secara pas dalam persfektip untuk mensejahterakan seluruh masyarakat dan menghilangkan kesenjangan sosial yang terjadi sebagai dampaknya.

Ketika dari Batam menuju Singapura, dikapal ferry saya kembali bertemu dengan kenangan masa lalu. Saya sempat berbincang dengan Seorang ibu yang penuh cinta pada anak anaknya. Ia bilang tiap hari menyebrang pulau hanya untuk bekerja sebagai penjaga toko dan penyapu jalan. Pekerjaan yang dilakukan untuk mencari biaya sekolah anak anaknya. Dengan harapan anak anaknya jauh lebih pintar dari mereça. Menjadi dokter, lawyer dan insinyur serta perwira TNI ataupun Polri.

Di kapal ferry saya ngobrol dengan seorang ibu yang menuju ke Singapore. Saya tanya mengapa ke Singapore. Ia bilang tiap hari saya begini pak. Ini rutinitas saya. Pagi pagi orang masih tidur saya sudah di Spore untuk ikut membersihkan jalan dan membuka pintu toko. Pulang nya malam, setelah menutup toko.

Lumayan pak, bekerja begini sudah bisa bikin anak saya menjadi dokter. Pembicaraan dengan seorang ibu yang bikin saya teringat pada teman satu bangku ketika di SMA 1 Medan. Kini teman saya itu sudah Wafat.

Teman saya itu sangat pintar matematika dan físika. Semua abangnya bersekolah di ITB ketika itu. Suatu hari ia mengajak saya ke pelabuhan Belawan. Ia bilang mau jemput ibunya. Tadinya saya fikir ibunya dari Tanjung Priok karena kunjungan keluarga. Ketika kapal koanmaru mendarat, teman saya dengan riang gembira menunjuk nunjuk.

Jusman itu ibuku. Mana ? saya tanya begitu. Itu, itu katannya lagi. Saya amati dengan cermat dan merasa kaget sebab yang ia tunjuk dengan penuh semangat adalah seorang ibu yang sedang menggendong barang berkoli koli bersama ibu ibu yang lain. Kelihatan dengan lincah dan trengginas ibu itu bertengkar, berdebat sedang mencoba meyakinkan petugas akan kelengkapan dokumen barang bawaannya itu. Ketika lolos pabean. Teman saya ,– sang anak- dengan penuh takjim memeluk ibunya. Saya juga ikut bergembira membantu mengangkat karung untuk ditempatkan diatas mobil bak terbuka. Disana saya baru tau bahwa pekerjaan ibunya adalah menjadi “pedagang antar pulau”, menjadi “inang inang” kata orang Medan.

Seorang ibu yang dengan keringat dan air mata mencoba mencari biaya untuk menyekolahkan anak anaknya di ITB. Itu peristiwa tahun 1973. Empat puluh tiga tahun lalu. Kisah sederhana yang bisa menggambarkan bagaimana local widom berinteraksi dengan kemajuan tatacara bekerja dari tiap gelombang perubahan kemajuan teknologi untuk sebagian besar dari kita seolah tak berubah.

Karenanya jika tidak mengantisipasi dampak pengaruh kemajuan teknologi digital dalam era Revolusi Industri Keempat, sebagian besar lapangan kerja yang tersedia akan berganti dengan mesin. Dengan begitu bukan tidak mungkin apa yang ditakutkan Menkeu Sri Mulyani tentang persoalan besar yang dihadapi bangsa yakni kesenjangan ekonomi yang makin menganga akan terjadi dalam realitas.

Mohon maaf jika saya keliru. Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: