//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan, Perubahan

Kemerdekaan Berpikir Anak

Iwan Pranoto
Guru Besar ITB, Atase Pendidikan KBRI, New Delhi
3 October 2016

KECUALI kata sambung, kata ‘merdeka’ merupakan kata dasar yang paling banyak muncul dalam Pembukaan UUD 45, yakni tujuh kali.

Lebih dari itu, subjek kalimat pertama juga kemerdekaan.

Itu menyiratkan gagasan atau sukma inti republik ini ialah kemerdekaan.

Gagasan kemerdekaan mestilah yang membuncah di benak ibu bapak bangsa saat merumuskan sang republik.

Namun, persepsi terhadap kata merdeka telah mengalami pengikisan makna dan nilai.

Jika kata ‘merdeka’ diucapkan dalam pidato politik atau ditulis dalam spanduk hari ini, itu terkesan nirmakna.

Gagasan kemerdekaan hari ini lebih utama dimaknai secara pragmatis, sebagai terlepasnya dari penjajahan pemerintah kolonial semata.

Namun, makna kemerdekaan pada jenjang kehidupan bangsa dan pada jenjang individu, khususnya kemerdekaan berpikir anak, seperti diabaikan.

Lingkungan merdeka

Masa depan sang republik bergantung pada kemerdekaan anak-anak untuk berpikir.

Kemerdekaan ini sekarang semakin mendesak untuk dirasakan dan dinikmati tiap anak melalui wujud lingkungan belajar.

Kelas dengan lingkungan merdeka menyuburkan hasrat anak bertanya, meragui, menggagas, berpikir, dan berpendapat.

Lingkungan seperti ini justru sesungguhnya ukuran mutu pendidikan.

Sekarang dibutuhkan strategi agar lingkungan merdeka dapat terwujud di pengajaran.

Memang dokumen standar pengajaran sudah ada, tetapi ini masih berfokus pada prosedur administrasi mengajar, sangat jauh dari inti pembelajaran, yakni dalam merawat kemerdekaan berpikir murid.

Tentu, pemahaman guru pada keilmuan yang dibelajarkan merupakan satu prasyarat utama.

Kemudian, keterampilan guru membangkitkan hasrat belajar pada tiap muridnya juga mutlak untuk dikuasai.

Namun, yang perlu digarisbawahi, seorang guru juga perlu senantiasa meningkatkan kemahirannya mengelola lingkungan belajar yang merdeka sehingga tiap murid tak pernah pupus merayakan kemerdekaan berpikir.

Seorang guru untuk dapat merawat gagasan merdeka memerlukan tiga prasyarat tadi.

Hubungan guru dengan murid di kelas seperti layaknya hubungan seorang konduktor dengan musisinya di orkestra.

Konduktor (guru) memberikan peluang tiap musikus (murid) untuk bermusik (berpikir).

Guru konduktor

Konduktor merupakan musikus yang unik karena dia satu-satunya pemusik yang tidak mengeluarkan bunyi.

Seorang konduktor mengelola puluhan pemusik yang masing-masing memainkan alat musik di orkestranya guna membangkitkan keselarasan susunan bunyi yang akhirnya terjalin sebuah lantunan musik indah.

Yang perlu dicatat, konduktor memimpin bermusik orkestranya, tetapi tak pernah mengambil alih peran pemain biola, terompet, atau pun piano.

Dia sudah memercayakan dan memerdekakan pemain biola untuk menyampaikan getaran gelombang suara dari gesekan dawai biolanya.

Demikian pula, dia memercayakan dan memerdekakan pemain suling untuk menyajikan resonansi gelombang suara di rongga tabung sulingnya.

Konduktor mengolah musik di orkestranya dengan menghargai kemerdekaan tiap musisinya.

Metafora seperti itu kurang lebih gambaran peran guru dalam mengorkestrakan pembelajaran yang merawat kemerdekaan berpikir.

Para musikus atau murid senantiasa berperan aktif sebagai pelaku utama di orkestra.

Seperti dalam orkestra, guru akan mendampingi tiap murid untuk menemukan penyelesaian masalah, tetapi bukan dengan mengajari caranya atau malah mengambil alih mengerjakan masalahnya.

Guru bergagasan merdeka percaya akan potensi muridnya dan kemudian mendelegasikan tugas belajar itu.

Setelah didelegasikan, guru akan mendampingi murid dalam menjalani proses belajar serta kesulitannya.

Jika dibayangkan pembelajaran yang memiliki sukma kemerdekaan direkam menjadi sebuah film, tiap murid akan menjadi bintang utamanya.

Pembelajaran berpusat pada keaktifan murid bukan berarti guru menganggur, tak ambil pusing, dan pasif menonton kelasnya saja.

Justru guru ditantang merencanakan dan menyiapkan kelasnya agar tiap murid dapat belajar bermakna dan menemukan pemahaman atas usahanya.

Tentunya, murid tidak dapat tiba-tiba mampu belajar mandiri. Murid perlu waktu dan kesempatan berlatih guna berdaya.

Agar mampu seperti itu, murid perlu belajar bagaimana belajar secara bertahap dan terstruktur.

Di sini dituntut seni mengajar guru.

Guru harus merancang pembelajarannya agar dalam berjalannya waktu, peran dirinya semakin berkurang, tapi peran muridnya semakin bertambah.

Murid harus sedikit demi sedikit mengambil alih kendali proses belajarnya sampai akhirnya ia cakap untuk belajar mandiri dan berkolaborasi dengan sesama murid.

Dalam hal ini, perlu diingat instruksi guru yang kelewat rinci dan prosedural berlebihan sering kali justru merusak orkestra pembelajaran dan akhirnya menghambat murid belajar.

Seperti kata konduktor wahid, Herbert von Karajan, “Kerusakan terparah yang dapat saya perbuat pada orkestra saya ialah dengan memberikan instruksi yang terlalu rinci.”

Lingkungan kelas harus memberikan peluang besar kepada tiap murid untuk mencoba pemikirannya dan mengalami salah. Tiap anak berhak salah dan tugas guru menjamin tiap anak bangkit kembali dan berdaya memperbaiki kesalahannya.

Pengalaman mengakui kesalahan dan mampu memperbaiki kesalahan berharga bagi murid di kehidupannya kelak.

Dengan pendekatan ini, tanggung jawab anak pada proses belajar juga akan secara bertahap bertumbuh.

Ini salah satu langkah mengembalikan gagasan kemerdekaan sebagai sukma sang republik.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: