//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Pendidikan, Perubahan

Awkarin-Anya dan Orang Tua yang Panik

Hasanudin Abdurakhman
2 Okt 2016

Saya baru tahu soal seleb instagram yang dikabarkan mendapat peringatan dari Ketua KPAI. Aku mereka menurut Ketua KPAI berisi konten negatif yang dapat menjerumuskan anak-anak. Saya lihat isinya sekilas, menurut saya biasa saja. Tapi bukan itu poin terpentingnya.

Saya punya anak, 3 orang. Prinsip yang saya tanamkan pada mereka adalah soal identitas. “Kalian dibesarkan dengan seperangkat aturan. Mungkin aturan itu berbeda dengan yang dijalani teman-teman kamu.
Tapi begitulah, karena ini aturan rumah kita. Rumah kita memang berbeda dengan rumah mereka.”

Kemarin dalam perjalanan pulang dari sekolah saya tawari anak saya yang tertua untuk punya HP. Dalam waktu dekat dia akan pergi ke luar kota, acara sekolah. Saya pikir dia sudah akan membutuhkan. Tapi dia menolak.

Demikian pula saat saya tawarkan membuka akun media sosial. Dia tidak berminat. “Aku belum siap,” katanya.

Anak-anak biasa saya paparkan dengan hal-hal yang berbeda dengan nilai yang kami anut. Sehari-hari mereka melihat istri saya memakai jilbab, anak perempuan saya juga berjilbab. Tapi mereka juga biasa melihat orang berbaju renang, bahkan berbikini di pantai atau kolam renang. Mereka terbiasa melihat dunia aneka rupa, dan bersikap bedasarkan nilai yang mereka anut.

Konten Awkarin-Anya tidak mendidik? Hellooo, bagaimana dengan konten sinetron yang hampir 24 jam sehari memenuhi ruang keluarga Anda? Sadarilah di luar sana ada jutaan konten yang tidak layak untuk anak. Siapa yang bertanggung jawab memfilternya? Kita, sebagai orang tua. Filternya ada di rumah kita. Bukan di KPAI, bukan negara. KPAI tidak akan sanggup memfilter semua.

Tidakkah konyol bahwa ada orang yang mengatur atau mengendalikan konten orang lain dengan alasan menjaga anaknya? Itu sama dengan mensterilkan seluruh dunia agar anak kita bebas dari penyakit.

Para orang tua ini bahkan mungkin tidak sadar bahwa mereka adalah predator bagi anak-anak mereka sendiri. Kelakuan mereka saat memegang gadget, atau sikap mereka yang membebaskan anak-anaknya main gadget tanpa kontrol, adalah pemangsa ganas terhadap anak-anak mereka. Mereka lalai menjaga anak-anak sendiri tapi begitu berisik terhadap anak-anak orang.

Logika yang dikembangkan KPAI di bawah pimpinan Asrorun Niam ini adalah logika polisi moral. KPAI mulai mengurusi hal-hal yang jauh dari urusan pendidikan anak.

Konten Awakarin-Anya buruk? Jaga anak Anda, beri tahu mereka agar tidak berkunjung ke akun itu. Tidak yakin bahwa anak Anda bisa Anda kontrol? Kalau begitu, inilah saatnya bagi Anda untuk becermin. Sudahkah Anda jadi orang tua yang mendidik, atau sekedar membesarkan fisik anak Anda.

Lama-lama KPAI bisa berkembang jadi polisi moral. Mereka mengutak-atik KUHP, menganggapnya berbahaya bagi anak-anak. Nanti mereka juga mungkin akan menyeleksi, film apa atau konser musik apa yang boleh ditayangkan. Bahkan mungkin mereka akan merazia orang-orang yang tidak puasa atau tidak salat, dengan alasan itu akan memberi pengaruh buruk pada anak-anak.

Yang seharusnya dilakukan oleh KPAI, tapi tidak dilakukan, adalah mempertegas peran san sikap orang tua terhadap konten internet. Bukan mengontrol konten itu.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: