//
you're reading...
Human being, Pendidikan, Perubahan

Ada Apa dengan Pendidikan Agama Kita

BAMBANG NURCAHYO PRASTOWO

OCTOBER 2, 2016
1 Muharram 1438H

Note sebelum ini menyoroti kurang(menarik)nya materi pengenalan bidang-bidang pekerjaan yang dibutuhan masyarakat/negara di pelajaran sekolah formal mengakibatkan masyarakat hanya melihat prospek penghasilan sebagai parameter utama memilih jalur pendidikan. Saya mendapat kritikan ada kekacauan alur pikir dalam note itu. Di pendahuluan mengungkap lakunya praktek perdukunan di kalangan artis dan intelektual, di penutup, spiritual keagamaan tidak disinggung-singgung. Tulisan ini melengkapi note sebelumya dengan menyoroti sebagian dari strategi pendidikan agama Islam yang saya pikir bisa dimodifikasi untuk meningkatkan efektivitasnya.

Saya besar di keluarga bukan santri. “Kita Islam abangan,” kata ibu saya. Hafalan Qur’an yang saya dapat dari orang tua waktu itu adalah Al Fatekhah dan Al Ikhlas (surat Qulhu). Amalan rukun Islam yang pertama diajarkan keluarga adalah puasa Ramadhan. Selebihnya, pengetahuan agama saya dapatkan dari pelajaran di sekolah. Sholat dan mengucap assalamualaikum di luar konteks pidato waktu itu adalah amalan para santri saja. Latar belakang ini mudah-mudah bisa membantu memahami pemikiran yang terbentuk berikut ini.

Pendidikan agama yang saya terima sejak SD bertumpu pada materi fikih yang sangat detail dalam sajian rumusan kategorisasi halal-haram, suci-najis, wajib-sunah-mubah-makruh-haram. Sedemikian detailnya sehingga isi seluruh kegiatan pendidikan agama banyak diisi dengan pemetaan lengkap isi alam semesta pada kategori suci-najis, pemetaan bahan makan pada halal-haram serta pemetaan aktivitas pada ketegori wajib sampai haram. Tanya jawab guru-siswa didominasi bab-bab seputar status halal-haram dan suci-najis itu.

Yang membekas di pikiran dari peta halal-haram, suci-najis tersebut adalah penekanan pada “yang penting” sehingga sempat menjadi pedoman saya dalam beragama:
1. fokus melakukan yang wajib, tidak masalah meninggalkan yang sunah
2. fokus meninggalkan haram, tidak masalah melakukan yang makruh
3. yang penting tidak kena najis, kotor/apeg/kusam/bau tidak membatalkan sholat
4. yang penting makanan tidak kecampuran bahan haram; urusan kolesterol dan asam urat tidak disebut-sebut dalam kitab fikih.

Karena semua sudah dipetakan, kita kehilangan ruang gerak dinamika dalam beribadah dengan melaksanakan tugas sebagai khalifatullah fil ardh. Saya mengamati secara umum ada kecenderungan minimalis dalam menghayati agama. Mukena, sarung, sajadah apeg tidak masalah, yang penting tidak kena najis. Sholat secepatnya agar segera terhindar dari bau apeg itu. Daftar najisnya minimalis mengikuti yang pernah disebut eksplisit oleh nabi.

Yang punya niatan lebih menuju maksimalis, banyak yang menekankan kegiatan ekstra pada sisi ibadah ritual. Perbanyak dzikir sudah nambah pahala tanpa banyak usaha; shodaqoh perlu kerja cari harta dulu. Perbanyak puasa sudah menambah pahala, sudah ada angka-angka perhitungan di ilmu fikih; sunnah cari ilmu riset meningkatkan produksi pangan ruwet, tidak jelas hitungan pahalanya. Sholat sunnah sudah jelas hitungan pahalanya; jaga kebersihan lingkungan perlu usaha keluar tenaga dan biaya tanpa ada keterangan bakal dapat pahala berapa kali sholat sunnah.

Saya usul, pendekatan mengajar fikih dengan mengutamakan hafalan barang najis serta bahan haram dimakan bisa dimodifikasi dengan memberi tekankan paling awal pada rumusan target kebaikan yang disasar. Sebagai contoh, saat mengajarkan bersuci, kita tekankan dulu esensi suci itu adalah bersih. Karena itu wudhu diajarkan sebagai kegiatan bersih-bersih badan. Mekanisme kita sampaikan sebagai teknis syarat perlu. Daftar najis kita sampaikan sebagai checklist minimalnya. Makanan halal kita ajarkan sebagai makanan baik untuk menjaga kesehatan badan. Daftar materi haram disampaikan belakangan sebagai check list minimal yang harus dihindari.

Kongkritnya kita bisa coba membuat transformasi:
Dari: “Yang penting sholat 5 waktu, kalau bisa ditambah sholat sunnah”
menjadi: “Yang penting selalu mengingat Allah, minimal sholat 5 waktu”
Dari: “Yang penting tidak kena najis, sebaiknya bersih”
menjadi: “Yang penting bersih, minimal tidak kena najis”
Dari: “Jangan makan yang haram, usahakan yang menyehatkan badan”
menjadi: Yang penting jaga kesehatan, minimal terbebas dari substansi haram”.

Insentif pahala sekian kali lipat pada amalan-amalan khusus seperti melafalkan dzikir, sholat sunnah, puasa sunnah dan sebagainya perlu diimbangi dengan rumusan pahala amalan khalifatullah fil ardh (yang membumi). Kira-kira mana yang lebih besar pahalanya, ikhtikaf di masjid atau jaga IGD menangani pasien-pasien darurat di rumah sakit? Mana yang lebih besar pahalanya: melafalkan dzikirullah atau menyelesaikan pelaksanaan penelitian ilmiah?

Awalnya saya menduga banyak yang pengetahuan dan pemahaman agamanya terbentuk dari sekolah. Survey membuktikan bahwa 51% responden mengaku yang paling dominan membentuk pengetahuan dan pemahaman agama adalah orang tua. Yang mengenyam pendidikan pesantren ada 12%. Sebanyak 25% responden mengaku pengetahuan dan pemahaman agamanya didapat dari inisiatif sendiri mengikuti pengajian-pengajian. Hanya 11% saja, termasuk saya, yang mengaku pemahaman agamanya terdominasi ajaran dari sekolah formal. Ini menunjukkan transformasi strategi pengajaran fikih harus dilakukan meluas di masyarakat karena dominasi pengaruh pelajaran agama di sekolah umum
tidak besar.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: