//
you're reading...
Lingkungan, Perubahan

Anak kecanduan gadget, salah siapa?

Harry Santosa -Millenial Learning Center
1 Oktober 2016

Anak kecanduan gadget, salah siapa?Kita bisa menyusun daftar “siapa salah”, namun tentu saja kecanduan ini bukan tanggungjawab pembuat gadget, bukan tanggungjawab pembuat game, bukan tanggungjawab penyedia internet, apalagi tanggungjawab sang anak yang kecanduan, tetapi jelas ini tanggungjawab yang diberi amanah, yaitu orangtua.

Kecanduan (addictive) adalah aktifitas yang susah dikendalikan dan susah dilepaskan, kemudian menimbulkan Addictive Disorder (gangguan karena kecanduan). Untuk kecanduan gadget, gangguan yang dialami beragam, seperti gangguan kesehatan fisik (mata, obesitas dll), gangguan mental (depresi, introvert dll), gangguan nalar (tumpul, pendek, malas dll) maupun sosial (anti sosial, disconnected) dsbnya.

Penyebab kecanduan diungkap oleh banyak pakar, dan hampir selalu sama yaitu kurang kegiatan sosial atau kesepian, rasa penasaran serta gairah hadiah yang biasanya diberikan oleh game (dopamin reward), pelarian dari masalah, perilaku orangtua di rumah yang memperlihatkan ketergantungan tinggi pada gadget dalam keseharian dstnya.

Sesungguhnya, gadget awalnya hanyalah perangkat untuk mengakses informasi di internet, namun kemudian berkembang menjadi untuk bersosial termasuk berbisnis, lalu ada entertainment berupa film, music, game game yang disediakan sebagai pelepas lelah, lalu ada pornografi sebagai daya tarik.

Keberadaan gadget dan internet adalah realitas zaman di abad 21, tidak bisa dielakkan oleh generasi kita (X,Y) apalagi generasi (Z) anak anak kita, karena mereka hidup dengannya dan di dalamnya. Jadi yang dibutuhkan adalah kemampuan dan kecerdasan memilah dan memilih informasi yang “relevan” dengan kebutuhan dan usia, kemudian mengelola, menciptakan dan menggunakannya.

Solusi agar anak tidak kecanduan sesungguhnya sederhana, yaitu relevankan teknologi dengan fase penumbuhan potensi fitrah sesuai fitrah perkembangan manusia. Tentu saja peran orangtua harus full.

Usia 0- 2 tahun

Menyusui ekslusif sesungguhnya bagian terpenting dari menumbuhkan semua fitrah, termasuk fitrah keimanan, dimana anak merasakan perlindungan, kasih sayang, “supply rezqi” Tuhannya melalui ibunya. Aspek penguatan Tauhid Rubbubiyatullah (Allah sebagai pencipta, pelindung, pemberi rezqi, pemelihara) dilakukan melalui pemberian ASI secara eksklusif. Fokuslah ketika memberi ASI, pandangi, sentuh dan belai, ajak bicara bayi.

Maka dilarang keras bagi para ibu menyusui anaknya sambil update status di sosmed atau kuliah di WA. Ketika menyusui sesungguhnya anak bukan membutuhkan asupan nutrisi semata tetapi asupan fitrah keimanan dan lainnya berupa kasih sayang, kelekatan dstnya.

Usia 3-6 tahun.

Di usia ini, imaji dan abstraksi anak sedang tumbuh indah indahnya. Fitrahnya baru merekah indah. Senso motorik memerlukan interaksi real (bukan imitasi) di alam dengan menyentuh, memegang, merasakan alam nyata. Walau anak masih ego sentris belum membutuhkan bersosial, namun mereka membutuhkan penumbuhan fitrah fitrahnya dengan dibangkitkan gairah cintanya pada Allah, diinteraksi pada alam dan permainan imajinatif, diberikan bahasa ibu yang sempurna, dibangun kelekatan penuh dengan keduaorangtua, dstnya.

Ingatlah bahwa Interaksi terbaik sosial anak pada usia ini adalah dengan kedua orangtuanya.

Gadget sebaiknya dijauhkan sama sekali dari akses langsung anak usia ini tanpa pendampingan. Jikapun dalam keadaan tertentu, ingin menggunakan gadget sebagai alat belajar, maka harus didampingi dengan waktu terbatas. Dilarang keras mengenalkan game sama sekali. Awas Film atau TV di gadget umumnya kecepatan frame nya per detik melampaui kemampuan anak dalam membaca frame per detik sehingga dapat merusak otak. Jadi apapun alasannya sebaiknya anak usia 3-6 tahun harus lebih banyak bermain di alam dan real kehidupan.

Di Inggris kasus anak kecanduan iPad sangat banyak terjadi sampai harus diterapi. Mereka tidak bisa berhenti bermain gadget dan marah atau meraung raung sejadinya jika diambil. Jika sudah demikian maka harus menjalani detoks gadget dengan biaya puluhan juta per bulan.

Usia 7 – 10 tahun

Tahap usia ini fitrah belajar dan bernalar sedang puncaknya. Begitupula fitrah sosialnya sedang tumbuh bersamaan datangnya perintah sholat. Secara fitrah seksualitas juga anak sedang membutuhkan peran kelelakian dan peran keperempuanan dengan baik. Maka masa ini adalah masa untuk menumbuhkan fitrah seksualitas, fitrah belajar, fitrah sosial dengan interaksi terbaiknya adalah orangtua, alam dan kehidupan sosial. Anak anak harus disibukkan dengan kelekatan pada orangtua, belajar bersama alam dan mengenal kehidupan atau realita sosial.

Pengunaan Gadget sebaiknya relevan dengan fitrah yang akan ditumbuhkan, jadi hanya sebagai pendukung untuk komunikasi dan informasi. Penggunaan game pada usia ini dibatasi dengan game belajar tanpa reward berlebihan yang relevan dengan minat dan bakat. Kepemilikan gadget belum diizinkan pada usia ini.

Usia 11 – 14 tahun.

Tahap usia ini disebut pre aqilbaligh, adalah tahap paling kritis dalam masa pertumbuhan anak menjelang dewasa atau menuju aqilbaligh. Tahap ini fitrah bakat memerlukan pengembangan yang serius. Anak sudah memerlukan akses informasi dan belajar online lebih banyak serta komunikasi dengan jaringan sosialnya. Di usia ini diharapkan anak sudah “kutahu yang kumahu”, sehingga gadget termanfaatkan secara positif dan produktif. Di usia ini, anak lelaki harus lebih didekatkan pada Ibu dan begitupula sebaliknya, anak perempuan lebih didekatkan pada ayahnya.

Jangan berikan kepemilikan gadget sampai anak benar benar jelas ditemukan bakatnya dan dirancang program pengembangannya. Tanpa kejelasan itu maka gadget hanya akan menghambat kemandiriannya dan pengembangan bakatnya.

Usia 15 tahun ke atas.

Pada tahap ini secara syariah sesungguhnya anak sudah bukan anak anak lagi, jadi jangan perlakukan mereka seperti anak anak. mereka bahkan harus diizinkan memiliki gadget layaknya orang dewasa, namun dengan asumsi sudah punya peran yang dijalani serius sejak pre aqilbagh

Orang dewasa sudah punya tanggungjawab atas dirinya, jadikan pemuda pemuda kita sejak usia 15 tahun sebagai mitra dalam bisnis, sosial dan dakwah. Beberapa orang dewasa yang kekanak kanakan, adalah karena tidak tumbuh fitrahnya dengan baik pada masa anak anak sebelumnya, umumnya mereka dirampas masa anak anaknya karena obsesi orangtuanya atau dibiarkan fitrahnya disimpangkan gadget dan lingkungan karena kesibukan orangtuanya.

Kesimpulan

Gadget dan internet sesungguhnya tidak akan pernah membuat kecanduan jika anak anak kita disibukkan dengan penumbuhan semua aspek fitrahnya sesuai tahap perkembangannya, termasuk kelekatan kepada kedua orangtuanya. Sesùngguhnya kegelapan hanya ada ketika tiada cahaya.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

People

%d bloggers like this: