//
you're reading...
Human being, Motivasi, Pendidikan, Perubahan

Ukuran Sukses dalam Belajar

Oleh: Ahmad Kholili Hasib
25 Sep 2016

Hari ini, masih tertanam dalam keyakinan banyak orang bahwa kesuksesan dan kepintaran diukur dengan mendapatkan pekerjaan mapan, karir yang tinggi dan kekayaan melimpah.
Maka dari itu, belajar bagi mereka tidak lagi untuk hilangkan kebodohan, tapi semangatnya meningkatkan status sosial. Sehingga tidak heran muncul pemimpin-pemimpin dengan gaya pragmatis, materialis.

Para ulama kita telah menerangkan konsep ilmu dengan luar biasa. Salah satunya yang kita kaji kali ini adalah konsep Ilmu al-Ghazali. Dalam Ihya Ulumuddin dan Bidaya al-Hidayah al-Ghazali menguraikan secara mendalam pentingnya memahami tentang konsep ilmu dengan benar.

Imam al-Ghazali mengatakan, orang yang menuntut ilmu itu ada tiga macam: pertama, orang yang menuntut ilmu semata-mata karena ingin mendapatkan bekal pulang menuju akhirat. Kedua, orang yang belajar dengan niat mencari sesuatu untuk menopang kehidupan duniawi, dan memperoleh kemuliaan serta jabatan hormat. Ketiga, orang yang menjadikan ilmunya sebagai sarana memperbanyak harta, bermegah-megahan dengan kedudukan, berbangga-banggahan dengan banyaknya pengikut, mengaku ulama dan tidak merasa perlu bertaubat, karena menganggap dirinya orang terbaik (Lihat Bidayatul Hidayah).

Golongan pertama adalah golongan orang-orang yang memahami konsep ilmu dengan benar. Sehingga tujuan mencari ilmunya untuk menghilangkan kebodohan dalam diri dan mencari ridlo Ilahi. Golongan kedua dan ketiga adalah kelompok penuntut ilmu yang materialis, mencari ilmu agama untuk tujuan duniawi.
Dalam beberapa kasus dalam pendidikan Indonesia, banyak yang telah terpaku pada konsep materialisme. Motivasi belajar terwarnai dengan tujuan-tujuan duniawi belaka.

Sehingga, ketika sebuah perguruan tinggi atau sekolah kejuruan membuat brosur, selalu diselipkan kata-kata jaminan manis untuk bisa bekerja. Seperti “Buat apa gelar kalau nganggur, kuliah aja di…”,” Kuliah singkat, kerja cepat” adalah slogan-slogan manis yang ditawarkan lembaga pendidikan.

Niat belajar yang salah akan menghasilkan manusia-manusia bermasalah. Rasulullah SAW dalam sabdanya telah memberi peringatan keras bahwa orang yang belajar dengan tujuan Untuk berbangga-bangga menjadi ulama’, berkompetisi, menyaingi teman, mencari nama dan mengumpulkan harta dunia akan menjadi manusia yang celaka (HR. Ibnu Majah).

Dalam kitab Bidayatul Hidayah oleh Imam al-Ghazali, juga menjelaskan bahwa bila tujuan mencari ilmu seperti tersebut di atas, maka ia termasuk golongan yang berusaha merobohkan agama, membinasakan diri, dan menjual agama.

Rasulullah Saw bersabda: ”Dua macam golongan dari umatku (yang memegang peran penting). Bila mereka baik, maka baiklah umat manusia, dan bila mereka rusak maka rusakklah umat manusia. Ingatlah, mereka adalah pemimpin pemerintah dan ulama (HR. Ibn Abdil Barr dalam Ihya Ulum al-Din).

Prof. Syed M. Naquib al-Attas berpendapat, tantangan besar yang dihadapi umat ini adalah tantangan ilmu pengetahuan. Problem itu bemula dari kesalahan mendefinisikan ilmu. Bagi, Prof. al-Attas, pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana pencapaian tujuan-tujuan sosial-ekonomi, tetapi secara khusus juga berperan dalam mencapai tujuan-tujuan spiritual manusia.
Kebingungan intelektual (intelctual confusing) dan kekeliruan menangkap ilmu adalah disebabkan kekeliruan persepsi mengenai ilmu, dari kekeliruan persepsi ini selanjutnya melahirkan ketiadaan adab (the lose of adab) pada seorang pemimpin.

Pada awal babnya di kitab Ihya Ulumuddin Imam al-Ghazali mendahului uraiannya yang panjang mengenai ilmu. Konon, salah satu faktor utama al-Ghazali menulis kitab itu adalah karena keprihatinan Imam al-Ghazali melihat kelesuan umat saat itu yang sedang menghadapi perang salib.

Dengan cerdas dan teliti beliau melihat sisi terdalam dari kelemahan itu, yakni kerusakan ilmu. Sehingga, lahirlah orang-orang hedonis, materialistik dan pragmatis. Kitab itu ditulis, untuk menghidupkan kembali tradisi salaf dalam mengkaji ilmu. Membangun kesadaran umat terlebih dahulu dari sisi keilmuan. Karena, menurut Imam al-Ghazali dari kesadaran dan tradisi ilmu inilah akan lahir generasi-generasi yang mencintai din-nya lebih dari segalanya.

Selanjutnya Imam al-Ghazali menerangkan tipologi ilmu yang dipelajari manusia. Pertama, ilmu yang dipelajari tidak karena Allah (li ghari lillah) memiliki karakteristik zann dan syakk (keragua-raguan). Orangnya akan puas dengan tujuan-tujuan eksternal, fisik atau material. Akibatnya, timbul kegelisahan dalam jiwa:khawf (takut pd prasangka yang tidak diketahui); huzn; khusr; (kesempitan hidup, derita dalam diri dan akal, depresi); hamm (risau pada bencana yang akan menimpa); ghamm; ‘usr; khasrah (penyesalan tanpa kesudahan). Kedua, ilmu yang dipelajari semata karena Allah (lillah). Ilmunya akan menanamkan i’tiqad imani yang kuat dalam hati. Sehingga orang dengan niat ini memiliki semangat yang tinggi, tidak cepat puas dalam pencapaian ilmunya. Hasilnya adalah yaqin, sukun nafs (ketenangan jiwa) , khasyatullah (takut pada Allah).

Oleh karena itu, ukuran kesuksesan belajar tidak dipandang dari sisi kemampuan menghasilkan harta dan meraih kehormatan jabatan, akan tetapi orang yang belajar – apapun ilmu yang dipelajari, baik ulum al-din (ilmu-ilmu syari’at) atau ilmu-ilmu terapan sains – dikatakn sukses bila dia semakin sadar tanggung jawab terhadap dirinya sebagai manusia dan kepada Allah sebagai Sang Maha Pencipta, serta takut kepada-Nya.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: