//
you're reading...
Human being, Motivasi, Pendidikan, Perubahan

Mengajarkan Kejujuran pada Anak

Hasan Abdurakhman
SEPTEMBER 27, 2016

Judul tulisan ini mengandung kesalahan. Sesungguhnya anak-anak itu jujur. Kita orang dewasalah yang tidak jujur. Ketimbang mengajarkan kejujuran, kita lebih sering mengajarkan sebaliknya kepada anak-anak kita. Anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang memberi pelajaran kepada mereka bahwa mereka harus berbohong atau tidak jujur.

Saat kita sedang berbincang sesama orang dewasa, tiba-tiba anak kita yang masih kecil datang melapor dengan polos tentang sesuatu. Bagaimana reaksi kita? Kita tertawa. Anak kita merasa heran, apa yang salah pada ucapan saya tadi? Oh, ia akan sadar bahwa ia telah berkata jujur, dan berkata jujur itu akan jadi bahan tertawaan.

Di lain waktu anak kita lapor, telah melakukan kesalahan. “Aku memecahkan vas bunga kesayangan Mama.” Lalu, reaksi apa yang mereka terima? Kita marah, lalu menghukum mereka. Bahkan tidak jarang kita sampai memukul mereka. Apa yang dipelajari anak? Berbuat jujur itu mendatangkan akibat yang menyakitkan.

Kita melakukan sesuatu yang ingin kita rahasiakan. Anak kita kebetulan mengetahuinya. Lalu kita berkata,”Jangan bilang-bilang sama Mama, ya..” Anak belajar bahwa mereka pun harus berbohong.
Kita melanggar peraturan lalu lintas. Polisi menilang kita. Tapi kita enggan datang ke pengadilan. Lalu kita menyerahkan sejumlah uang kepada polisi. Anak kita melihat itu, dan mereka belajar bahwa cara tidak jujur bisa menyelesaikan masalah dengan cepat.

Kita tidak mengajari anak-anak soal kejujuran. Setiap hari kita secara verbal menyuruh mereka untuk jujur, tidak boleh bohong. Tapi pesan-pesan non-verbal kita terus-menerus meyakinkan mereka bahwa berbohong itu perlu, bahkan sangat perlu. Setiap anak tumbuh persis seperti kita, menyaksikan berbagai kebohongan, kemudian melakukannya.

Jadi, kalau kita mau menanamkan kejujuran pada anak, hal pertama yang harus kita lakukan adalah menghindarkan reaksi negatif terhadap kejujuran yang dilakukan anak. Baik itu berupa menertawakan, atau memarahi mereka. Bila anak telah melaporkan kesalahan dengan jujur, lebih penting bagi kita untuk memberi penghargaan atas kejujuran itu, ketimbang menghukum kesalahan yang mereka perbuat.

Yang tidak kalah penting adalah, menghindarkan anak-anak dari menyaksikan perbuatan-perbuatan tidak jujur yang kita lakukan. Bagaimana caranya? Cara terbaik adalah dengan berhenti berbuat tidak jujur. Atau, setidaknya jangan sampai terlihat oleh anak-anak kita.
Bila ada indikasi anak kita melakukan ketidakjujuran atau berkata bohong, sebaiknya kita selidiki dengan tuntas. Harus jelas, dia berkata benar atau bohong. Anak harus terbiasa hidup dalam keyakinan bahwa kebohongan pasti akan terungkap, sehingga mereka tidak lagi akan mencoba melakukannya.

Kejujuran antara kita dengan anak hanya bisa kita bangun dalam sebuah hubungan yang akrab dan hangat. Maka, usaha untuk mengajarkan kejujuran tidak bisa dilakukan tanpa membangun hubungan yang akrab dan hangat. Maka sebenarnya pendidikan kejujuran itu hanyalah suatu bagian dari pendidikan terhadap anak. Kita mendidik anak-anak, membangun kedekatan dan keakraban dengan mereka. Mereka merasa aman dan nyaman di dekat kita. Mereka tidak merasa perlu berbohong kepada kita.

Mau anak Anda jujur? Hadirlah bersama mereka. Jalinlah hubungan yang akrab dan hangat dengan mereka.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: