//
you're reading...
Human being, Motivasi

Melamar atau Dilamar

Eileen Rachman & Emilia Jakob
EXPERD  CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING
Kompas, 25 Juni 2016
BERAPA kali Anda pernah menjalani proses wawancara? Bagi kita yang saat ini sudah berada dalam organisasi tertentu, rasanya paling tidak kita pernah mengalami satu kali proses wawancara pada masa awal kita bergabung dengan organisasi tersebut.
Oleh banyak organisasi, bahkan wawancara kerap dijadikan alat pengambilan data yang wajib untuk dilakukan, melebihi dari tes-tes psikologi yang kadang diabaikan untuk beberapa posisi tertentu. Oleh karena itu, tidak jarang proses wawancara dianggap sebagai momok karena merupakan suatu proses yang sangat menentukan. Tidak jarang kita menghadapi tatapan kecewa kandidat yang sudah berjuang melewati berbagai proses rekrutmen yang cukup melelahkan, tetapi kemudian ternyata gagal di tahap wawancara dengan calon atasannya.
Dalam situasi seperti ini, tidak jarang kandidat yang sebetulnya sedang dalam proses “dilamar” oleh perusahaan, merasa sebagai “korban” yang tersudut untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pewawancara. Apalagi bila wawancara tersebut dilakukan secara panel oleh beberapa orang sekaligus. Pernahkah kita berfikir bahwa wawancara sebenarnya adalah sebuah kesempatan emas yang harus kita manfaatkan sebaik-baiknya, mengingat para calon atasan tersebut sudah meluangkan waktunya untuk mengenal kita lebih jauh?
Bukan melamar, tetapi dilamar
Dengan pemahaman bahwa proses wawancara bagi kandidat sebenarnya adalah proses dilamar oleh perusahaan, sudah sepantasnyalah kandidat mempersiapkan diri sebaik-baiknya agar tampil pantas untuk dilamar. Untuk bisa sampai pada tahap wawancara, artinya organisasi/perusahaan sudah memiliki ketertarikan pada sang kandidat tersebut. Di atas kertas, perusahaan melihat bahwa kandidat itu memiliki kualifikasi yang dibutuhkan oleh perusahaan. Tapi, selayaknya dalam proses lamar melamar, koneksi chemistry juga menjadi sesuatu yang sangat penting dalam proses pengambilan keputusan perusahaan untuk mengajukan lamaran itu.
Gunakan waktu yang ada dari jarak waktu pemanggilan sampai kepada hari wawancara untuk melakukan persiapan yang dibutuhkan. Pelajari perusahaan pelamar secara mendalam sehingga tahu mana point penting dari diri Anda yang akan menjadi daya jual utama yang dibutuhkan oleh perusahaan. Saat wawancara, Anda dapat berlaku selayaknya konsultan yang sedang menawarkan jasa kepada pewawancara. Selayaknya konsultan, Anda tidak hanya sekedar ditanya dan menjelaskan mengenai pengalaman, kapabilitas dan exposure selama ini, tetapi juga dapat aktif bertanya. “The scientist is not a person who gives the right answers, he’s one who asks the right questions,” kata Claude Lévi-Strauss.
Tentunya, bila kita sempat menceritakan beberapa pengalaman contoh solusi yang pernah dilakukan, situasi akan sangat menguntungkan. Kita pun bisa mengembangkan ”pain hypothesis”, sebuah mind-set bahwa perusahaan memang sangat membutuhkan orang seperti kita dan karena itu, akan menderita bila tidak mendapatkan calon yang tepat. Dengan wawasan ini, rasa kesejajaran dan situasi “win-win” dapat terjadi.
Lakukan gladi resik
Anda menguasai pekerjaan dari A sampai Z, tetapi dapatkah menggambarkannya dalam 1 jam proses wawancara? Belum lagi bila rasa senewen tiba-tiba menyerang. Apa yang sudah dipersiapkan sebelumya bisa jadi tiba-tiba menguap dari benak kita. Oleh karena itu, kita perlu melakukan latihan demi latihan hingga membuat proses mengingat tidak lagi diperlukan karena ia sudah terintegrasi dalam diri.
“Practice forms habits and habits make memory unnecessary” kata Henry Hazlitt dalam bukunya Thinking as a Science. Kita perlu mempersiapkan respons terhadap pertanyaan-pertanyaan yang sering diutarakan para pewawancara. Pertanyaan-pertanyaan yang sudah bisa kita ramalkan bisa saja diajukan dalam bentuk yang berbeda-beda tergantung si pewawancara. Demikian pula, kita tidak bisa menyiapkan satu jawaban secara kaku untuk satu pertanyaan. Taktik yang paling ampuh adalah menyiapkan sejumlah contoh pengalaman yang bisa diceritakan untuk menjawab pertanyaan yang kebetulan relevan.
Pelajari resume dan persiapkan apa saja pengalaman yang bisa Anda ceritakan untuk menggambarkan kesuksesan dalam berbagai hal, seperti mencari solusi, bersikap profesional, kemampuan analisis dan kepiawaian dalam hal teknis. Praktikkan cara bercerita dengan bersuara keras. Kalau perlu, juga dengan pakaian lengkap dalam sesi latihan. Ini berguna untuk membiasakan diri berada dalam situasi yang menentukan ini, tanpa merasakan ketegangan yang berlebihan. Walaupun tidak perlu khawatir berlebihan, kita perlu sangat serius dalam menghadapi wawancara. Para atlet, artis tidak pernah mencapai prestasi teratas tanpa latihan keras dan gladi resik. Mereka selalu perlu persiapan fisik, mental dan emosional. Seorang ahli manajemen mengatakan, A job interview is the corporate athlete’s big game. Oleh karena itu, kita juga perlu menjaga kebugaran, banyak berlatih, dan mengembangkan kebiasaan-kebiasaan yang baik.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: