//
you're reading...
Creativity, Ekonomi, Entrepreneurship, Lingkungan, Motivasi, Perubahan, Review

Deja Vu : “The End of Competitive Advantage”

Jusman Syafii Djamal
Sep 23, 2016

Ketika teringat pada kenangan berkunjung ke Harvard Business School pada suatu hari nan cerah, saya membeli buku berjudul “The End of Competitive Advantage”. Karya Prof. Rita Gunther McGrath — Maha Guru Columbia Business School New York — yang diterbitkan oleh Harvard Business Review Press 2013.

Buku ini bercerita tentang dinamika perubahan cepat yang kini terjadi.
Dynamics of transient rather than sustainable competitive advantage. Disini Prof Rita mendeskripsikan “new strategic logic”.Logika baru dalam menyusun Strategi.

Jika sebelum nya semua perusahaan berupaya menemukan jalan dan strategi untuk tetap langgeng sepanjang masa. Kini strategi yang muncul adalah berupaya menemukan jalan hidup ditengah perubahan.

Kisah mencari resep keabadian “daya saing” sebetulnya mirip seperti kisah Kaisar China Qin Shi Huang (Hanzi: 秦始皇) yang dilahirkan dengan nama Ying Zheng (贏政), juga dipanggil Shi Huang Di. Ying Zheng, Raja dari Negara Qin 247 Sebelum Masehi sampai 221 SM. Raja Pertama setelah mempersatukan Tiongkok dengan menaklukkan 6 negara lainnya, Pendiri Dinasti Qin. Raja ini memerintahkan seoran tabib ternama. Xu Fu, untuk mencari “obat keabadian” atau disebut juga “obat panjang umur”.

Xu Fu berlayar untuk dan tidak pernah kembali. Xu Fu sampai pada kesimpulan bahwa Obat keabadian tidak pernah ada. Karena takut dihukum pancung oleh Raja, ia kabur dan menetap di Jepang. Dengan kata lain, menurut Prof Rita Keunggulan kompetitip tidak mungkin bersifat permanen dan abadi.

Ada pasang surut, silih berganti. Keunggulan bersifat sementara. Setiap waktu pasti ada muncul benih competitor tak terduga yang mampu meruntuhkan kejayaan yang telah dibangun ratusan tahun. Kisah timbul tenggelam perusahaan karena gunakan asumsi “competitive advantage” bersifat langgeng, dan merasa yakin bahwa tak mungkin ada pasar yang lolos dari genggaman, banyak ditemui dimasa kini.

Salah satunya adalah kisah BlackBerry Devices dari Reseacrh In Motion. Suatu hari tahun 2007 Pimpinan puncak Research in Motion Jim Balsillie diwawancara Reuters. Saat i-Phone device dari apple diluncurkan oleh Steve Jobs. Ia bilang :”ngga usah takut sama iphone, itu hanya kompetitor baru, new kid on the blocks, bukan ancaman serius Blackberry”. Akan terapi lima tahun kemudian, i-phone berhasil menjadi new icon. Menggerogoti “market share” black berry dan menyebabkan perusahaan ini kehilangan elan vitalnya.

Salah antisipasi, dan kelengahan CEO yang anggap enteng pada tanda munculnya benih zaman baru kekuatan digital dan teknologi layar sentuh, telah menyebabkan perusahaan yang kondang konangan ini tenggelam dalam zona nyaman.
Akhirnya semua yang ada dalam genggaman hancur berantakan. Kisah ini dan beberapa contoh lain dikemukakan oleh Prof Rita untuk mengingatkan kita akan pentingnya menemukan logika baru dalam menciptakan Strategi.

Kata Prof Rita, dalam mengembangkan Strategi, kita harus menggunakan logika baru yang berdiri diatas asumsi bahwa Keunggulan Daya saing kini tidak lagi abadi. Kemajuan tidak lagi bersifat kontinu. Ada diskontinuitas.Karenanya perlu dikembangkan selain rencana cadangan, yang utama adalah mindset “continuity in change”. Kesinambungan dalam perubahan gerak tingkah laku pasar dan pesaing.

Strategi tidak lagi bersifat statik, melainkan dinamis.
Daya Saing bersifat sementara. Karenanya semua pimpinan puncak perusahaan tak boleh lengah. Tak boleh terus ternina bobok dalam zona nyaman. Rutinitas yang menghanyutkan dan membuat daya kreativitas lumpuh perlu diperangi.The assumption of sustainable advantage create a bias toward stability that can be deadly, begitu kata Prof. Rita.

Dengan kata lain dalam merancang Strategi, asumsi yang mengatakan bahwa stabilitas merupakan sesuatu yang normal dan perubahan adalah sesuatu yang tidak normal harus dibalik posisinya. Kini Strategi harus didisain dengan logika baru yang berdiri diatas asumsi bahwa Perubahan adalah hukum besi yang normal dan harus diutamakan untuk diikuti, sementara stabilitas adalah kondisi abnormal.

Stabilitas dengan begitu berubah menjadi suatu anomali yang perlu “ditreat dengan berbeda”. Sementara Perubahan pasti adanya.Dengan asumsi seperti itu, semua orang yang bekerja akan terus waspada dan alert. Ibarat ikut menumpang pesawat terbang yang terguncang guncang karena cuaca tak bersahabat.
Acapkali Pilot memberi warning akan adanya turbulensi sepanjang perjalanan. Dengan warning itu Ikat pinggang keselamatan jadi teman seiring terus menerus.Pilot sebagai Captain in Command akan terus alert dan waspada setiap elemen perubahan cuaca, perubahan landskap dan contour trajektori lintas perjalanan dicermati melalui instrumen yang tersedia di dashboard depan mata.

Begitu juga bagi setiap CEO tiap detik dan tiap jam indikator perubahan peta persaingan, perubahan cuaca ekonomi, perubahan kekuatan pengaruh dimedan persaingan posisi musuh kasat mata dan tak kasat mata, menjadi amat penting untuk dicermati.

Kini bekerja sebagai CEO atau Ahli Perancangan Strategi Korporasi bukan lagi pekerjaan sembilan jam satu hari. Melainkan full time 7/24. Tujuh hari satu minggu , dua puluh empat jam satu hari. Bukan lagi dipandang sebagai hobby tapi harus diniatkan untuk laksanakan amanah dan sebagai wujud dari ibadah dan pengabdian tak kenal henti.

Dengan asumsi seperti tersebut diatas, Rita Gunter McGrath , seorang profesor strategi di Columbia Business School menambahkan : ” Perusahaan, kini tidak mampu lagi menghabiskan manhour ber-bulan bulan hanya untuk menyusun strategi jangka panjang sebagai acuan tunggal nan rigid.

Untuk tetap berada di depan , perusahaan apapun jenisnya perlu terus-menerus memulai inisiatif strategis baru , membangun dan memanfaatkan banyak keuntungan kompetitif yang ada saat ini dan bersifat sementara secara sekaligus untuk mempertahankan keberlangsungan hidup. “Menurut penelitiannya , perusahaan harus membuat delapan perubahan dalam cara beroperasi :

1. Pikirkan tentang arena , bukan industri .Think about arenas, not industries.
2. Kembangkan tema yang luas , kemudian biarkan pekerja ahli yang dimiliki melakukan eksperimen menemukan inovasi.Set broad themes, and then let people experiment
3. Adopsi metrik key performance indicator yang mendukung pertumbuhan kewirausahaan/entrepreneurship . Adopt metrics that support entrepreneurial growth.
4. Fokus pada pengalaman , temukan solusi masalah .Focus on experiences and solutions to problems.
5. Bangun hubungan yang kuat dan jaringan value chain serta pelanggan yang baik. Build strong relationships and networks
6. Hindari restrukturisasi brutal ; belajar melepaskan talenta yang tak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan secara sehat.Avoid brutal restructuring; learn healthy disengagement
7. Temukan langkah sistematis berinovasi. Terutama pada awal .Get systematic about early-stage innovation.
8. Lakukan tiga langkah ini : Experiment – Iterate – Learn.Do Three Steps : Experiment, iterate and learn.(Ref : World Economic Forum, White Paper On Digital Transformation, January 2016)

Wah berat Amat pesan Prof Rita dalam buku The End of Competitive Advantage ini.

Mohon maaf jika keliru.Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: