//
you're reading...
Human being, Leadership, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan, Perubahan

Hijrah dan Kepemimpinan

Harry Santosa – Millenial Learning Center
25 Sep 2016

Perjalanan hijrahnya Nabi Musa AS amat berbeda dengan perjalanan hijrahnya Nabi Muhammad SAW. Kita dapat dengan mudah membaca kedua kisah ini baik di dalam alQuran maupun alHadits, lalu membandingkannya, bahkan menceritakannya pada anak anak kita.

Walau sama sama perintah Tuhan, nampak betapa Musa AS melakukan hijrah tanpa persiapan dan perencanaan yang matang, sangat chaotic alias kacau balau, terjebak antara kejaran pasukan Firaun dan Laut Merah, sehingga tergantung pada pertolongan mu’jizat berkali kali. Dan ketika kaumnya panik dan khawatir, Musa mengatakan “jangan takut, sesungguhnya Allah BERSAMAKU”.

Nabi Muhammad SAW, dalam hijrahnya nampak sangat well-planned. Beliau berangkat paling akhir setelah memberangkatkan para Sahabatnya lebih dahulu. Sahabat yang tertinggal di Mekkah hanya segelintir saja dan mereka adalah Sahabat yang punya jaminan dan pelindung. Nabi Muhammad SAW menugaskan Sahabat Ali RA untuk tidur di kamarnya, meminta Abu Bakar RA untuk menyuruh anaknya menggembala ternak di sepanjang rute perjalanan Beliau untuk menghapus jejak, menempuh jalur memutar ke selatan walau Madinah ada di utara Mekkah, menginap di Gua Tsur sehingga bisa beristirahat dan bersembunyi jika ada pengejaran dstnya.

Kita sudah mafhum bersama lanjutan kisahnya, walau akhirnya hampir terkejar dan Abu Bakar RA, sahabat yang menemani merasa panik dan khawatir, Nabi Muhammad SAW mengatakan, “jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama KITA”.

Nabi Muhammad SAW, tiada keraguan bahwa Beliau adalah Nabi akhir zaman yang menjadi teladan bagi ummat akhir zaman yang perjalanan Kenabiannya sangat manusiawi, selaras dengan fitrah, serta menampilkan sosok kepemimpinan yang empatetik (empathetic leadership) sekaligus kepemimpinan yang otentik (authentic leadership).

Permasalahan kepemimpinan hari ini adalah merubah kata SAYA menjadi kata KITA.

Empathetic Leadership

Para pakar leadership menyebutkan bahwa kini dunia mengalami krisis kepemimpinan (crisis of leadership) di semua lini, baik organisasi sosial, pendidikan, bisnis maupun pemerintahan.

John P. Kotter menyebut bahwa setelah mengamati banyak eksekutif, maka penyebab krisis kepemimpinan bukan karena kurangnya kapasitas kepemimpinan, salah gaya kepemimpinan, tidak energetik atau kurang cemerlang bahkan sebagian mereka punya keyakinan untuk mewujudkan keyakinannya. Masalahnya adalah para pemimpin ini tidak berempati mendalami potensi secara mendalam, mereka tidak berempati pada perubahan perubahan kecil yang terus menerus sehingga mereka tidak benar benar menjadi pemimpin yang dibutuhkan.

Menurut pakar lainnya Bill George dalam bukunya, “True North”, masalah kepemimpinan hari ini adalah bahwa para pemimpin bukanlah pemimpin yang otentik, mereka tidak benar benar asli menjadi dirinya. Mereka tidak berangkat dari apa yang benar benar mengakar dalam dirinya. Mereka dicetak oleh gagasan yang salah tentang kepemimpinan, mereka dibentuk oleh obsesi sesat para pimpinan puncaknya untuk menjadi begini dan begitu memenuhi obsesi yang bukan dirinya. Pemimpin yang tidak otentik ini sudah pasti tidak empatetik alias kurang empati pada pengikutnya.

Simon Sinek, seorang pakar manajemen dan leadership dalam bukunya “Leaders Eat Last : Why Some Teams Pull together and Others Don’t” juga memaparkan bahwa pemimpin masa depan adalah pemimpin yang mendahulukan kepentingan pengikutnya, membuat pengikutnya merasa nyaman dan terlindungi, merasa dibersamai dalam menjalankan misi bersama.

Sinek memberikan contoh bagaimana Marinir AS mempunyai tradisi luar biasa, yaitu para junior atau peringkat terendah selalu makan lebih dahulu, kemudian secara berurutan peringkat di atasnya dan yang terakhir adalah pimpinan tertingginya. Silahkan lihat di semua kantin kantin marinir, akan nampak pemandangan yang sama.

Luarbiasa, ketika orang bicara peringkat adalah kekuasaan dan siapa yang paling menikmati jatah dan layanan terbaik namun tidak demikian. Tradisi makan yang paling akhir bagi pemimpin dalam marinir ini ternyata membangun rasa nyaman terlindungi dan dibela sehingga membentuk kesetiaan korps dalam ikatan yang kokoh sehingga mereka mau mati untuk membela sesama di dalam kesatuannya.

Cukuplah kisah pasukan Sa’ad bin Abi Waqosh RA, ketika pasukannya yang menyeberang Sungai Trigis menggentarkan dan membuat pontang panting tentara Persia di seberang sungai, hanya gara gara ada tempat minum seorang pasukan Muslim yang jatuh ke air, lalu semua pasukan lainnya dalam kesatuannya berlomba mencarinya.

Sayangnya, kepemimpinan Ummat Islam hari ini sangat jarang melahirkan kesetiaan untuk saling menolong di kalangan kaum Muslimin karena kepemimpinan yang ada bukan “Leaders Eat Last”..

Design Thinking for Change

Hijrahnya Nabi Muhammad SAW selain menampilkan kepemimpinan yang empatetik juga menunjukkan bagaimana sebuah proses perancangan kreatif dilakukan. Sebuah metode design thinking pada hari ini memberikan begitu banyak manfaat dalam perubahan, inovasi, perbaikan proses, program sosial dstnya yang berbasis pada observasi mendalam kebutuhan manusia.

Apa yang direncanakan oleh Rasulullah SAW adalah kejutan kejutan (what wow) namun berangkat dari observasi mendalam secara empati (what is) yang kemudian digali menjadi cara pandang yang utuh (what if) atau point of view. Semua kejutan kejutan idea itu ternyata memang bekerja dengan baik (what works).

Secara umum proses design thinking ini adalah “what is”, “what if”, “what wow” dan “what works”. Di abad modern ini apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW ketika hijrah ternyata amat manusiawi atau amat fitri. Tidak mengkalkulasi mukjizat sebagai bagian dari perencanaan, namun benar benar dan sungguh sungguh melakukan proses hijrah yang kreatif.

Hikmah

Mari kita lahirkan leader leader di ummat ini, bukan sembarang leader, tetapi kepemimpinan yang otentik dan emptatetik sebagaimana diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW.

Mulailah melahirkan kepemimpinan demikian dari rumah rumah kita dengan keteladanan para ayah dan bunda. Pemimpin yang otentik memerlukan sosok ayah yang kuat menunjukkan misi dan jatidiri. Pemimpin yang empatetik membutuhkan sosok ibu yang penuh empati.

Mulailah berani menerapkan cara berfikir kreatif dan inovatif di rumah, dengan merancang kurikulum yang kreatif menggunakan metode semisal design thinking yang dimulai dari empati, idea yang keren kemudian solusi yang mengejutkan namun berjalan baik.

Salam Pendidikan Peradaban

#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
#fitrahbasededucation

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: