//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Opinian, Pendidikan, Perubahan

Pendidikan Itu Memerdekakan!

YAYASAN CAHAYA GURU
10 SEPTEMBER 2016

Ada yang terasa mengganggu saat di pertemuan sebelumnya para guru peserta Sekolah Guru Kebinekaan (SGK) – YCG membuat linimasa Jalan Sejarah Bangsaku. Linimasa yang merupakan napak tilas perjalanan bangsa ini sejak masa Politik Etis hingga saat ini bertaburan berbagai momen penting dalam sejarah yang merupakan rekoleksi ingatan para guru. Tetapi sayang, kerja-kerja di bidang pendidikan terlupakan begitu saja.

Ketika Guru-guru Melupakan Guru

Pertemuan ke-9 bertajuk ‘Peran Guru dalam Sejarah Keragaman, Kebangsaan dan Kemanusiaan’ kali ini membuka ruang bagi guru untuk merefleksikan peran dan gagasan dari dunia pendidikan di sepanjang sejarah bangsa. Benarkah mereka tidak ada? Benarkah mereka tak mewarnai sejarah bangsa ini?

Setelah mengingat lagi hal-hal yang dipelajari sebelumnya, para guru membentuk empat kelompok dan masing-masing bertugas mendata sebanyak mungkin nama-nama tokoh guru atau tokoh lainnya yang pernah berprofesi sebagai guru di tiap etape perjalanan sejarah. Temuan itu begitu mengejutkan karena ada begitu banyak tokoh guru ataupun tokoh yang pernah berprofesi sebagai guru, terutama di masa-masa awal kesadaran kebangsaan kita muncul.

Pertanyaan pun muncul, “Apa yang mereka lakukan?”, “Mengapa jalur pendidikan kerap menjadi persinggahan para tokoh? Apa yang mereka lihat di sana?”, “Mengapa kerja-kerja di bidang pendidikan seolah raib dalam ingatan guru?”, “Mengapa yang terkenang hanya perjuangan fisik?” Para guru sama sekali tak diberi jawabannya. Kali ini merekalah narasumber utama yang mencari, menggali, menemukan dan berbagi inspirasi tentang peran dan gagasan guru.

Para Guru di Jalan Sejarah Bangsaku

Dari segudang nama yang muncul, para guru secara berkelompok kemudian berusaha mempelajari lebih rinci peran dan gagasan empat tokoh pendidikan. Mereka adalah Raden Ajeng Kartini, Ki Hadjar Dewantara, Willem Iskander dan Engku Muhammad Syafei.

Dua kelompok pertama merasa girang karena mendapati tokoh yang lumayan dikenal di dunia pendidikan. Dua kelompok berikutnya tampak kebingungan karena setelah puzzle mereka susun, yang tampak adalah dua wajah yang asing bagi mereka. Penggalian pun dilakukan dengan cara bertanya, membaca buku-buku referensi yang telah disiapkan Tim YCG, berselancar di internet, dan lain sebagainya.

Para tokoh yang dianggap telah dikenal ternyata tak begitu dikenal. Pengalaman hidup dan buah pikiran mereka jauh melampaui apa yang selama ini dengan murah dipercakapkan. Tokoh yang terasa asing ternyata meninggalkan tanya mengapa gagasan besar mereka, khususnya tentang kebangsaan dan kemanusiaan di lingkup yang beragam, luput dari ingatan. Ternyata semua ini menarik sekali dan sungguh sangat disayangkan bila peran dan gagasan mereka dilupakan.

Pendidikan itu Memerdekakan!

Surat-surat seorang Raden Ajeng Kartini ternyata bukan surat-surat biasa. Di dalamnya ada pengetahuan dan wawasan yang luas dari seorang gadis remaja yang menerobos sekat feodalisme melalui semangat membaca yang luar biasa, rasa ingin tahu dan kekritisan yang terus dijaga dengan jujur, keberanian untuk melihat yang baik dari beragam agama, serta kesadaran tentang negeri orang-orang terjajah. Ia bukanlah gambaran seorang perempuan lembut berkebaya, ia adalah sosok perempuan muda yang dinamis dalam berpikir dan berkarya. Seorang perempuan merdeka dalam kungkungan feodalisme. Ia juga seorang perempuan yang menulis. Bukan cuma surat-surat itu saja, tapi juga di media saat itu. Ia adalah pikiran yang merdeka.

Ki Hadjar Dewantara adalah sosok yang setia di jalur pendidikan sejak awal hingga akhir. Aneh rasanya mengetahui bahwa ia dikenang hanya dengan Ing Ngarso Sung Tuludo, Ing Madya Mangun Karsa dan Tut Wuri Handayani. Bahkan Pendidikan di Indonesia hanya mengadopsi semboyan Tut Wuri Handayani saja. Padahal gagasan dan teladannya berlimpah ruah. Baik yang bersumber dari pemahaman kebudayaan maupun gagasan tentang kebangsaan. Ia adalah sosok yang berani melakukan bunuh diri kelas dengan meninggalkan gelar kebangsawanannya. Ia adalah manusia merdeka yang juga ingin memerdekakan bangsanya melalui pendidikan. Karena pendidikan baginya adalah tentang memerdekakan manusia dan memanusiakan manusia.

Willem Iskander namanya. Salah seorang peserta yang berasal dari Sumatra Utara mengaku bahwa selama ini ia hanya mengenal sosok yang satu ini sebagai salah satu nama jalan di Sumatra Utara. Tidak lebih tidak kurang. Peserta lain kemudian menyadari bahwa ia adalah seorang sastrawan angkatan Pujangga Baru saat nama aslinya, Sutan Sati Nasution, disebutkan. Tapi sisanya mengatakan ini adalah tokoh yang namanya baru sekali ini terdengar. Ia memiliki kecerdasan yang luar biasa. Tentang kemurahan hati, tak ada yang meragukannya. Pemikiran dan gagasannya jauh melampaui batasan Mandailing Natal, daerah kelahirannya. Di jamannya ada tiga Kweekschool di Nusantara, salah satunya yang ia dirikan. Dua lainnya untuk anak-anak bangsawan, tapi sekolahnya untuk semua orang. Bahkan tak segan ia mengetuk rumah-rumah warga, demi mengajak anak-anak perempuan juga ikut belajar. Ia mau semua orang belajar setinggi-tingginya dan menjadi pribadi merdeka. Ia memang mati muda. Andai baca lagi kisah dan karyanya, siapa yang tak kagum pada guru ini.

Engku Muhammad Syafei, inipun nama yang asing bagi banyak guru. Lahir di Kalimantan, berkiprah di bumi Minangkabau, Engku adalah guru yang menginspirasi laksana bintang tapi gagasannya bersahabat laksana bumi serta penuh ketulusan laksana bening air. Ia menghadirkan alam sebagai guru yang luar biasa bagi murid-muridnya. Ia juga tahu kapan saatnya berkorban bagi kepentingan yang lebih besar, yaitu perjuangan bangsa Indonesia. Termasuk ketika sekolah yang susah payah dibangunnya menjadi markas para pejuang dan kemudian diruntuhkan untuk menghilangkan jejak. Jalur pendidikan terus dirintisnya tak kenal lelah dengan menggunakan lokalitas sebagai kekuatan. Sekolah bukan lagi kelas bersekat, tetapi ruang pendidik yang tanpa sekat. Jauh sebelum orang belajar teori-teori pendidikan, sang Engku telah memperkenalkan kekuatan heart (hati, perasaan), hand (tangan, keterampilan), dan mind (otak, logika).

…. Tetapi Mereka Dilupakan

Para tokoh ini kerap dilupakan oleh sejarah, bahkan oleh para pendidik. Andai pun mereka dikenang, hanya sebatas hal-hal yang superfisial. Sekolah-sekolah yang dulu didirikan seolah kehilangan pendarnya. Peran dan gagasan mereka tak lagi dibicarakan, didiskusikan, didebat, dan dijadikan inspirasi kebangsaan.

Namun di Sekolah Guru Kebinekaan (SGK) – YCG, pendar ketokohan mereka kembali bersinar. Untuk mereka para guru melantunkan Hymne Guru, mengenang semua bakti mereka di dalam hati sebagai prasasti terima kasih bagi pengabdian tak bertara. Harapanpun terbersit di hati peserta SGK. Harapan untuk menorehkan karya nyata dalam sejarah pendidikan di Indonesia dengan menjadi rujukan dalam keragaman, kebangsaan dan kemanusiaan [GS]

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: