//
you're reading...
Ekonomi, Entrepreneurship, Kajian, Kemandirian

Kembali ke Laptop : Fokus Agenda Ekonomi ? Mungkinkah ?

JUSMAN SYAFII DJAMAL
SEPTEMBER 23, 2016

Kembali Fokus ke Agenda Ekonomi ? Mungkinkah ? Mengapa pertanyaan ini muncul ? Alasannya sederhana, meski kompetisi Pemilu Tahun 2019 masih jauh, dan kini kita masih berada tahun di 2016, akan tetapi Pilkada serentak akan berlangsung.

Tak pelak agenda di daerah seolah seperti musik jazzy blues, ada nada “swing” in the music, nada bergeser dari issue ekonomi atau pembangunan infrastruktur ke gossip siapa calon, dan partai mana dukung siapa.Semua pembicaraan dikedai kopi sudah hangat dengan Agenda politik. Tanpa terasa jadwal pertemuan bergulir kedepan , topik pegang bendera siapa mengemuka. Para PNS dan pejabat daerah pun kini masuk orkes Sabar Menanti. Wait and See adalah lagu favorit?

Bahkan tatacara penentuan siapa calon Gubernur DKI misalnya, mirip seperti menentukan siapa calon Presiden dan Wakil Presiden serunya. Semua Ketua Partai turun kegelanggan mengelus dan mengantarkan calonnya ke KPU. Kompetisi 2019 seolah sudah ingin muncul dimasa kini.

Padahal iklim ekonomi masih belum bersahabat. Ada awan menggantung tentang stagnasi ekonomi dunia. Melambatnya pertumbuhan ekonomi. Waktu menunggu realisasi investasi masuk. Hutang jatuh tempo yang masuk dalam radar, penerimaan pajak dan program tax amnesty sedang berjalan. Proyek Pembangunan Infrastruktur untuk kembangkan sistim logistik yang lebih efisien dan produktiv, semua memerlukan perhatian penuh untuk dikebut solusinya.

Mereka yang bergerak disektor riel, kini seolah berjalan sendiri tanpa teman. Setiap relung pasar kini seolah memusatkan perhatian tentang seberapa jauh “demand” meningkat melampoi supply. Semua berupaya agar profit bisa muncul diakhir tahun. Semua mengejar Revenue agar lebih besar dari biaya. Fokus pd EBITDA, menemukan kekuatan untuk bisa membayar tagihan bunga hutang invetasi maupun pajak.

Sektor Riel memliliki keinginan melihat volume dan kecepatan uang beredar dimasyarakat membesar kembali. Untuk itu tak ada lain harapannya , meski hati pengusaha ingin ikut juga fokus pada masalah politik, agenda ekonomi didepan mata tak bisa diabaikan.

James Tobin tahun 1966 dalam tulisannya berjudul :”Intelectual Revolution in US Policy Making” yang dikutip dalam bukunya Hyman P Minsky Stabilizing an Unstabilize Economy bilang begini :”the role of the house intellectual may be describe as controlling agenda”.

Tugas para intellectual salah satunya adalah mengendalikan agenda Negara, agar selalu fokus pada peningkatan kesejahteraan rakyat dan membangun ekosistem untuk mencerdaskan Bangsa, sesuai konstitusi. Pengambil kebijakan umumnya mengambil putusan melalui issues atau alternative agenda yang didialogkan diruang publik oleh para cendikiawan. Mudah mudahan para ahli ekonomi di Universitas Terkemuka dan di Lembaga lain masih terus fokus pada agenda ekonomi dan tak terseret dalam arus mainstream bicara politik Pilkada.

Saat ketika ekonomi masih belum stabil, kata Minsky, “economic policy is a patchwork”. Akan tetapi kebijakan yang sepotong sepotong memiliki drawback. Setiap perubahan yang dirancang melalui kebijakan tertentu umtuk tujuan tertentu yang bersifat adhoc pastilah akan melahirkan resonansi dan juga inersia dari situasi lapangan. Sehingga muncul “side effect” yang bisa berdampak positif maupun négatif dalam kehidupan soial dan ekonomi masyarakat. Paket ekonomi yang dimaksudkan melahirkan “pocket economy”, kantong kantong pertumbuhan ekonomi mestilah terus dilanjutkan meski kendala dan “bottle neck” masih saja muncul.

Apalagi “adhoc policy” yang terkandung dalam paket kebijakan yang ditelorkan Team Economy, pastilah dimaksudkan untuk merubah landskap ekonomi yang dipandang tidak efisien dan produktiv bagi pertumbuhan ekonomi. Sebuah paket yang memerlukan adjustment struktur maupun tingkah laku institusi.

Karenanya Minsky mengatakan :”A New Era of Reform cannot be simply a series of piecemeal changes. Rather,a thorough integrated approach to our economic problems must be developed. Policy must be range over the entire economic landscape and fit the pieces together in a consistent, workable way. Piecemeal approaches and patchwork changes will only make a bad situation worse.”

” Sebuah Era Baru Reformasi tidak dapat dibangun hanya melalui serangkaian perubahan sedikit demi sedikit. Sebaliknya diperlukan , pendekatan terpadu menyeluruh untuk menyelesaikan masalah kesenjangan ekonomi yang ada. Kita harus kembangkan kebijakan dan langkah aksi yang terintegrasi dan tidak sepotong sepotong. Kebijakan harus menyentuh seluruh lanskap ekonomi secara konsisten , dengan pelbagai cara masuk akal yang bisa diterapkan.

Pendekatan sedikit demi sedikit dan perubahan tambal sulam hanya akan membuat situasi yang buruk menjadi jauh lebih buruk”.Dengan kata lain pendekatan terintegrasi dan konsisten untuk membangun postur ekonomi Indonesia yang kokoh ditengah ekonomi dunia yang tidak bersahabat ini sangat diperlukan.

Dan itu berarti synergi dan kerjasama semua elemen. Karenanya Bahasa sederhana yang ingin disampaikan oleh Minsky dalam bukunya Stabilizing an unstabilize economy nya adalah mari kita kembali fokus pada Agenda Ekonomi.

Pengurangan déficit, peningkatan inventasi, penciptaan lapangan kerja, pengembangan industri Nasional, Orientasi ekspor, kredit berbunga murah dan lain sebagainya. Instrumen Ekonomi hendaknya kembali berbunyi. Kata Eminem dalam salah satu lagunya :”Music, reality, sometimes it’s hard to tell the difference. But we as entertainers have a responsibility to play the music. Jangan biarkan musik berhenti mendendangkan sebuah lagu.

Sebab when the economic music stop,no one will win in politics.
Seperti kata Charles O. Prince III, then the chief executive of Citigroup, pada bulan juli 2007 “When the music stops, in terms of liquidity,” he said, “things will be complicated. But as long as the music is playing, you’ve got to get up and dance. We’re still dancing.”

Alan Blinder a professor of economics and public affairs at Princeton and a former vice chairman of the Federal Reserve Board, dalam bukunya “After the music stopped”, mengatakan :
“We have to focus “like a laser beam on the economy and on our decision instead to take on other policies which resulted in “a scattershot approach”. Policy that left people confused about our priorities. We all know that “things would have been much worse without the stimulus” and other rescue plans.

Kita harus pusatkan seluruh energi fokus seperti sinar laser ke satu tujuan Membangkitkan kembali ekonomi yg lesu. Hindari keputusan yg bikin konsentrasi terpecah kepelbagai arah tanpa prioritas utama.
Mohon maaf jika saya keliru. Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: