//
you're reading...
Human being, Renungan

Deja Vu : Pesan Keadilan di Entrance Wall Library, Harvard Law School

Jusman Syafii Djamal
September 22, 2016

Kenangan berkunjung ke Harvard Law School. Kaget karena didinding depan perpustakaan Harvard Law School, ditulis besar besar kutipan ayat Al Qur’an, tentang makna Keadilan dari Surah An Nissa ayat 135. Sementara di Indonesia saya belum bertemu hal serupa.
Harvard Law School one of the most prestigious institutions of its kind in the world, has posted a verse of the Holy Quraan at the entrance of its faculty library, describing the verse as one of the greatest expressions of justice in history.
Verse 135 of Surah Al Nisa (The Women) has been posted at a wall facing the faculty’s main entrance, dedicated to the best phrases articulating justice:

Hai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Alloh, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang terdakwa) kaya atau miskin, maka Alloh lebih mengetahui kemaslahatan (kebaikannya). Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka (ketahuilah) sesungguhnya Alloh Mahateliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan. (QS An-Nisaa [4]: 135)

“O you who have believed, be persistently standing firm in justice, witnesses for Allah , even if it be against yourselves or parents and relatives. Whether one is rich or poor, Allah is more worthy of both. So follow not [personal] inclination, lest you not be just. And if you distort [your testimony] or refuse [to give it], then indeed Allah is ever, with what you do, Acquainted”

Didepan dinding tulisan tersebut saya jadi ingat kisah Sungai Keadilan yang mengalir dibawah bangunan Rumah Kediaman Gubernur Aceh. Dulunya ini adalah sebuah kanal yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda. Yang terkenal sebagai Raja yang Adil. Ia pernah menghukum Putera Mahkota nya sendiri, di sungai tersebut. Kisah ini saya dengar ketika mempersiapkan acara peresmian Bandara Internacional di Banda Aceh tahun 2009, yang baru dibangun setelah Tsunami. Bandara yang diberi nama Sultan Iskandar Muda.

Ketika menjatuhkan hukuman pada putera mahkota yang sangat dicintainya itu ia berpidato didepan rakyatnya dengan meneteskan airmata :”“Gadoh aneuk meupat jrat, gadoh hukom ngon adat pat tamita? Hilang anak masih ada kuburan yang bisa dilihat dan dikunjungi, tetapi jika Keadilan hukum dan Adat hilang, hendak kemana kita mencarinya?”…..

Subhanallah Deja Vu tentang pesan menegakkan Keadilan itu sungguh bikin kita merasa tak berdaya. Maafkan hambaMu yang lemah ini Ya Allah.

Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: