//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Pendidikan

Prospek Pendidikan Indonesia ke Masa Depan Dalam Perspektif Falsafati Keindahan Bhinneka Tunggal Ika

Dewi Utama Fayza

“Bunda, apa Tuhannya Made, Ketut, Nyoman, bersahabat dengan Tuhan Allah kita? Apa Tuhan Allah kita tidak marah aku tadi main ke Pura bersama Made, Ketut, dan Nyoman?”
(Nabiel Gwanka Othman, 4 tahun)

Prolog|
Sedikit kita menyadari dahsyatnya pertanyaan dan pernyataan anak yang lugu, falsafati. Namun seringkali diabaikan. Mereka yang masuk ke perguruan tinggi pun ragu-ragu. Menghindari mata kuliah falsafat. Apalagi memilih kuliah di jurusan falsafat. Memusingkan sangat…..

Situasi ini sangat kontras. Manakala melihat betapa mudahnya anak-anak belajar filsafat sejak dini. Melalui aneka pertanyaan kritis mereka. Pertanyaan kemaha-tahuan yang sarat kandungan nilai-nilai spiritual dan sosial. Untuk mengenali lingkungan dan mengeksplorasi kebesaran Tuhan Sang Maha Pencipta.

“Apa ini? Apa itu? Mengapa begini? Mengapa begitu? Koq jadi begitu? Bagaimana ya, ayooo kita buat, kita lihat. Ayoo teman-teman, nah….aku bisa khan bu Guru?”

Betapa mudah sebenarnya memasukkan filsafat ke dalam kurikulum mulai TK, SD, dan jenjang pendidikan berikutnya. Karena filsafat tidak membutuhkan peralatan, instrumen, laboratorium, atau kuliah lapangan yang canggih-canggih. Sederhana. Tidak butuh banyak biaya. Hanya membutuhkan semua instrumen tubuh dan semua sensori-inderawi yang ia miliki.

Dalam perspektif falsafati, anak-anak merasakan kebesaran TuhanNya sejak dini. Saat mereka bertanya dengan bahasa kanak-kanak belia. Namun sarat kandungan makna. Saat mereka menemukan perbedaan-perbedaan di luar lingkungan mereka. Melihat dirinya, melihat ke luar dirinya. Mereka banyak bertanya. Mereka banyak mencoba. Berpraktik, terjadi proses saintifik. Semua sensori-inderawi mereka bergerak aktif. Tumpah ruah dahsyat energi mereka.

“Apa Tuhannya Made, Ketut, Nyoman, sama dengan Tuhanku?”. Mereka bertanya bukan hanya dengan mulut dan pikirannya. Tapi semua indera, tangan dan kaki bergerak merasakannya intuisinya bekerja.
“Apa aku boleh tidur di dalam Pura yang indah itu?” sambil tangan dan kakinya meraba-raba patung atau menjunjung sesajen bunga yang indah itu.

Oh ternyata, anak-anak mampu memahami makna Kebhinnekaan sesuai dengan tahap perkembangan pikiran mereka secara otentik. Sesuai konteks mereka berada.

Untuk membangun nilai-nilai Kebhinnekaan mampu menuju Ketunggalan yang Ika, maka proses pendidikan harus mampu menyentuh bathin anak. Menyelami bathin anak yang berlapis-lapis. Menghadirkan sebuah proses berpikir kritis (higher order thinking skill) melalui kondisi alami. Bahwa sebagai makhluk sosial, ia harus mampu belajar hidup bersama orang lain yang beragam. Kebhinekaan tak mampu diajarkan dengan cara abstrak. Hafalan semata. Dogma, betul salah. Ia membutuhkan deep dialogue dan berpikir kritis.

“Kegagalan sistem pendidikan untuk menjadikan manusia berwawasan holistik disebabkan pendidikan modern lebih bertumpu kepada dunia sekuler. Lepas dari makna religiusitas dan spiritual. Kesatuan integral adalah sakral. Karena sesuatu adalah bagian dari kesatuan integral. Segala sesuatu itu memiliki makna sakral” (Krishnamurti).

Pendidikan dan pengajaran yang baik akan menghadirkan dua infiniti. Galaksi-galaksi di angkasa luar, nebula yang bercahaya warna-warni dari Bhimasakti, planit-planit dari sistem solar mampu bersanding dengan diri anak sebagai makhluk Tuhan, sebagai noktah kecil sel-sel hidup, jaringan neuron, DNA, subatomic partikel yang menghimpun di dirinya. (Daoed Yoesoef, Mendikbud tahun 1978-1982).

Untuk mengembangkan seluruh potensi yang ada pada anak, maka Krishnamurti memformulasikan pendidikan agar mampu mendidik seluruh aspek yang ada pada anak (all parts of the person), mendidik anak sebagai kesatuan yang utuh (the person as a whole), dan mendidik anak sebagai bagian dari keseluruhan, yaitu bagian dari masyarakat, komunitas manusia, dan alam semesta (the person within a whole).

Filsafat Pendidikan|
Semua makhluk ciptaan Tuhan itu berbeda. Tetapi sistim pengajaran kita sekarang masih saja pekat dengan pendekatan yang menganggap seluruh anak dalam satu kelas itu sama. Memiliki kecakapan yang sama. Mengagungkan kecerdasan tunggal. Mengabaikan multikecerdasan anak. Sehingga jalannya proses pembelajaran di kelas disama—ratakan.

Ini sebenarnya bertentangan dengan hakikat penciptaan Tuhan.
Filosofi pendidikan mestinya berorientasi pada hakikat alam dan ciptaan Tuhan yang unik dan berbeda. Yang senantiasa “ aktif bekerja”—bahkan benda-benda yang selama ini dianggap tak bernyawa, seperti matahari dan gugusan planit yang berada di alam lepas sana pun memiliki kehidupannya sendiri. Mereka senantiasa bergerak. Mereka “aktif bekerja”.

Alam mengandung sifat “bekerja”. Diuraikan sebagai berikut oleh seorang Resi guru bernama Engku M. Sjafei :
“Sifat kerja adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Tiap-tiap yang menentang dalil ini akan hancur. Tiap-tiap yang melaksanakan dalil ini akan bahagia sejahtera”.

Syafei mendidik dengan merangsang potensi yang dimiliki anak didiknya sehingga tumbuh mekar secara optimal. Puncaknya adalah kreativitas! Berbagai kegiatan olahraga dan praktik kerajinan, pertukangan, perbengkelan, berkesenian, dalam kurikulum menjadi instrumen. Kurikulum bukanlah tujuan pendidikan. Hanya sebagai alat untuk mengembangkan potensi anak seutuhnya.

Bersekolah di INS seluas 18 Ha lebih yang berdiri pada tahun 1926 di Kayutanam Sumatera Barat, memberikan banyak pengembaraan panjang murid-muridnya. Mereka di sana belajar dengan cara menyenangkan, berdampingan dengan alam. Mata pelajaran melukis, main suling, menari, main biola, melukis, memahat, mematung, keramik, bertukang dan bercocok tanam diaktifkan. Materi pendidikan didominasi pada aspek kesenian, sastra, dan kerajinan tangan yang menyenangkan. Itulah alat untuk mendidik anak-anak kreatif dan mandiri. Anak-anak yang mandiri akan merdeka menggenggam hidupnya. Safei menerapkan unsur demokratis dalam sistem pendidikan inklusif yang dibangunnya. Semua anak, pun anak tunanetra dan tunarungu belajar bersama. Ruang pendidik INS melejit dan namanya harum masa itu.

Sebagai Menteri Pendidikan dan Pengajaran Pertama di Kabinet Sjahrir, Sjafei banyak mengkritik pembaruan pendidikan nasional setelah tahun 60 an. Saat itu kurikulum dibuat dengan bobot yang berat ke bidang akademik (headstart). Sama halnya dengan pendidikan yang terjadi di zaman kolonial. Dia berulangkali mengingatkan bahwa kurikulum bukanlah tujuan, melainkan hanya alat/instrumen untuk mencapai tujuan. Dari sanalah mestinya disusun strategi dan program yang jelas.
Jangan menuntut anak didik untuk menghafal, karena tidak akan membuat mereka pintar dan cerdas. Hafalan hanya akan menjadikan mereka menjadi “Pak Turut”—pengekor. Bukan pemikir! Memberi nilai tinggi pada murid yang mampu menghafal adalah keliru.

Kerisauan Syafei masih berlanjut hingga sekarang. Kebijakan pendidikan nasional yang cenderung menjadikankan 80 persen murid untuk dapat melanjutkan je jenjang perguruan tinggi telah melahirkan kurikulum yang bobot akademiknya menjadi berat ke kognitif/akademik. Kondisi inilah yang berlarut-larut hingga sekarang. Hampir 90 persen proses pembelajaran masih dilaksanakan untuk kognitif. Sementara hanya tersisa 10 persen pembelajaran untuk aspek sosial emosi.

Ki Hadjar Dewantoro sebagai menteri pendidikan setelah kemerdekaan, pun sejalan dengan pemikiran M.Sjafei. Pendidikan Komprehensif diusung melalui semboyan pembelajaran yang terkenal dengan nilai-nilai keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani);

“…pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect), dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita….”
(Ki Hajar Dewantoro, Taman Siswa, 1923)

Mereka berdua tandem dalam membangun pendidikan di Indonesia saat itu. Ki Hadjar mendirikan Taman Siswa pada tahun 1923 untuk mendidik anak-anak menjadi pemimpin berjiwa Nasionalis. Sementara Sjafei 3 tahun kemudian mendirikan INS (Indonesisch Nederlandsche School) untuk mendidik anak-anak aktif, kreatif, berakhlak mulia, nasionalis, dan mandiri.

Kepingan kemanusiaan (nilai-nilai spiritual , sosial, emosi) inilah yang hilang dalam sistem persekolahan kita saat ini. Mampu mencerdaskan otak, konsumtif, tapi tidak mampu memberi cahaya kebajikan dan menguatkan kehidupan anak. Kegelapan hati inilah yang dirisaukan Sjafei. Seperti yang juga diungkapkan Emile Durkheim dalam bukunya “Moral Education”.

“Pendidikan kita kurang mampu meraih arah kemuliaan, sebuah kontribusi orisinal sebagai warisan luhur kemanusiaan. Ketika perilaku manusia tidak lagi memiliki landasan moral sebagai tempat berpijak, maka perilaku itu akan berbalik melawan dirinya. Di saat kekuatan moral masyarakat masih tidak bekerja, saat kekuatan moral itu tidak pernah dilibatkan dalam segenap usaha untuk meraihnya, maka mereka akan melenceng dari kaidah moral dan semua kekuatan itu akan dipakai di jalan yang penuh kegelapan dan berbahaya”.

Pendidikan dan Pengajaran|
Apakah perbedaan kedua perkatan pendidikan dan pengajaran itu? Menurut pengertian yang lazim di masa lampau dan hingga sekarang, pendidikan bersangkut-paut urusannya dengan kejiwaan atau kalbu. Pengajaran bersangkut paut dengan urusan otak. Jadi tujuan utama pendidikan dan pengajaran adalah “Untuk membawa anak manusia kepada kesempurnaan lahir dan batin”.
Republik Indonesia mementingkan soal asuhan jiwa sesuai dengan Undang-Undang Dasar. Seperti yang dimuat sila yang pertama, yaitu Ketuhanan yang Maha Esa. Mengabdi kepada Tuhan tidak bisa dilakukan dengan otak semata. Jiwalah alat satu-satunya untuk melakukan pengabdian itu. Bagaimana pendidikan dan pengajaran untuk jiwa itu?

“Pengajaran mesti bertali rapat dengan kebenaran-kebenaran dalam penghidupan kita. Kebenaran selalu mengikat kita dengan penuh perhatian. Keadaan-keadaan yang benar tetapi berdiri sendiri-sendiri adalah pengetahuan yang tidak berjiwa” (M. Sjafei, 1926).

Nilai-nilai Spiritual diusung Engku Sjafei dengan cara mulia dalam meletakkan dasar –dasar pendidikan Indonesia. Tuhan yang Maha Kuasa menciptakan semesta jagad raya dengan sekalian isinya dan terus mengaturnya dengan dalil-dalil semua ciptaanNya sebagai berikut:
1. Keaktifan yang sangat besar dalam berbagai bentuk.
2. Pada keaktifan itu ada batasnya.
3. Keaktifan itu berjalan menurut dalil-dalil tetap, sekali-ka1i tidak berkacau—balau saja.
4. Di alam terdapat keseimbangan atau harmoni.
5. Keaktifan di alam berjalan menurut bakat.
6. Pada ciptaan itu terdapat juga ukuran-ukuran yang tetap.
7. Pada ciptaan yang bernyawa atau hidup ada perjuangan hidup.
8. Di alam didapati juga sesuatu yang merusakkan tetapi di samping itu terdapat juga kekuatan yang bisa menghalang-halangi kerusakan itu.
9. Di alam lepas banyak terdapat keindahan (estetika).
10. Di alam terdapat juga pembagian pekerjaan yang teratur.
11. Akibat pembagian itu di bumi timbul perbedaan—perbedaan mengenai: iklim, tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia atau makhluk, dan lain-lain.
12. Manusia diperlengkapi dengan berbagai-bagai alat dria dalam tubuhnya sehingga dapat merasakan, memikirkan, menciptakan berbagai-bagai hal.
13. Manusia dianugerahi Tuhan otak yang bisa dipergunakan untuk menyelami rahasia-rahasia alam yang tidak terbilang banyaknya, dan ada faedahnya untuk kebahagiaan umat.

“PENDIDIKAN YANG DIDASARKAN ATAS CONTOH-CONTOH YANG TERDAPAT DALAM CIPTAAN TUHAN PASTI AKAN MEMBAWA BAHAGIA BAGI DIRI, NUSA BANGSA, KEMANUSIAAN, DAN AGAMA”.
Seorang Engku Sjafei sebagai guru dan RESI, telah menyadari nya. Makna Percepatan pendidikan dalam tatanan hiperakselerasi untuk mengisi kemerdekaan Indonesia. Beliau memaknai putaran, percepatan, kenaikan dari ‘guttural-palatal-cerebral’ untuk membangkitkan jiwa-jiwa murni yang berisi kebajikan. Uniknya, ia melakukan hal kecil-kecil dalam menerapkan kurikulum di SD, sekolah menengah dan kejuruan. Terutama kurikulum di SD. Yaitu memberi jam lebih pada mata pelajaran pekerjaan tangan, dan berkesenian.
“Sekolah, setengahnya karena salah sendiri, setengahnya tidak, telah terasing dari penghidupan sejati; ia telah membentuk dunianya sendiri yang asing, di mana segala-galanya diukur menurut ukuran dan pahamnya sendiri. Selama hal itu tidak berubah, maka pihak sekolah tidak dapat memenuhi tujuan hidupnya. Ia akan melakukan paksaan-paksaan kepada masyarakat sedang menurut aturan harus mengabdi kepada masyarakat. Sudah pada tempatnya “sekolah cara baru” menghendaki bukan saja “sekolah kerja”, akan tetapi juga “sekolah hidup” dan oleh sebab itu pula menjadi “sekolah masyarakat”. (M. Sjafei-1926)

Kurikulum 2013, Manusia Sebagai Makhluk Hyperconnected|
Prospek pendidikan Indonesia ke masa depan seperti judul makalah yang dipilihkan panitia untuk saya, dimuat dalam Kurikulum 2013 yang fenomenal. Meski menuai banyak kontroversi bagi penikmat status quo. Reformasi dalam dunia pendidikan Indonesia harus dilakukan. Terutama di SD. Sistem kurikulum ban berjalan (mata pelajaran, per unit, dan diuji dengan tes baku terstandar) diakui, tidak mencerminkan lagi dunia di mana anak hidup. Koneks-koneksi dalam proses pembelajaran sesuai dengan cara kerja otak anak harus diperbaharui. Pengintegrasian tersebut dilakukan melalui pendekatan intra-disipliner, multi-disipliner, inter-disipliner, dan trans-disipliner. Oleh karena poses pembelajaran akan lebih cepat bila informasi dilakukan secara kompleks melalui “hyperconnected” dengan menggunakan seluruh inderawi yang dimiliki anak. Apa yang dilihat, didengar, dibaui, dicecap, diraba, dirasakan, dilakukan, dibayangkan, diintuisikan.

“Fungsi terpenting pendidikan adalah menghasilkan manusia yang terintegrasi, yang mampu menyatu dengan kehidupan sebagai satu kesatuan” (Krishnamurti)

Amati cara bekerja otak manusia. Seratus milyar sel syaraf tumbuh menjadi 100 trilyun jaringan yang siap bekerja. Karena terjadi hiperkoneksi. Otak manusia disiapkan melalui cara kerja saling terintegrasi. Maka terjadilah penyebaran dampak yang saling memengaruhi “Hyperdyadic Spread”.

Sekarang ditemukan Hipotesis Kecerdasan Sosial, bahwa manusia itu makhluk “Ultra Sosial”. Dengan keahlian berkisar dari bahasa ke panalaran abstrak sampai empati dan wawasan sosial dengan lingkungannya. Melalui ikatan jejaring sosial maka manusia menyebar pengetahuan dan teknologi ke semua pihak yang bisa dipengaruhi. Para ahli syaraf menemukan bahwa 2/3 kapasitas otak manusia memiliki kemampuan melihat warna. Sehingga dengan cara itulah kita bisa beradaptasi mampu mengubah dengan cepat cara kita memandang dunia dan kehidupan.

Michael Tomasello berpendapat bahwa “seharusnya ada saat… sebelum anak dipengaruhi oleh pembelajaran bahasa tertulis, matematika dengan lambang (calistung) dan sederet pendidikan formal lainnya untuk mereka diberi saat belajar budaya melalui bersosialisasi (emotional wellbeing), berkomunikasi dengan orang lain dan penananam akal budi/pekerti sebagai anak manusia. Oleh karena otak manusia disiapkan untuk bekerja baik melalui koneksi jejaring sosial”.

Jika Tuhan yang Esa “ALLAH”—Sang Hyang Widhi dilihat sebagai pangkal simpul dalam jejaring sosial, maka sekelompok besar orang akan dapat disatukan dalam ‘kelompok’ tak hanya karena memiliki gagasan yang sama, namun juga hubungan sosial yang khas dan sama dengan semua orang dengan kepercayaan yang sama (komunitas Hindu Bali, dengan tatanan komunitas Banjar, Subak dsbnya). Begitu juga dengan komunitas Islam dengan jamaah mesjid, bantuan duafa, serta komunitas Nasrani, Buddha, dan sebagainya. Bhinneka Tunggal Ika akan memainkan perannya dengan baik. Tumbuh saling berdampingan, bersentuhan, namun tidak saling berbenturan.

Cara kerja tubuh dalam jejaring sosial ini, dapat kita amati saat orang yang kita cintai sedang mengalami sakit parah. Perhatikan, bagaimana seluruh bagian tubuh saling terkoneksi, saling membantu agar kehidupan terus terjadi. Jantung memompa darah ke otak dengan cepat, paru-paru memberi oksigen ke otak dengan segala daya upaya. Usus merawat enzim agar tetap bisa berfungsi dengan baik. Ginjal membuang racun berupa urin dengan sigap. Tubuh manusia sebagai miniatur jagad, bekerja dengan jejaring sosial yang hiperkoneksi dalam mempertahankan kehidupan yang sehat.

Amati perilaku kawanan burung, arah gerakannya merupakan pilihan terbaik berdasarkan tujuan semua kawanan burung. Setiap individu burung menyumbang sedikit gerakan yang diakui dan dituruti semua burung demi kebaikan bersama. Diistilahkan kecerdasan Kolektif sebagai model matematis kawanan burung, ikan, dan serangga.

Proses pembelajaran dalam kurikulum 2013 mengacu pada Kompetensi Inti yang mengandung nilai-nilai Spiritual, Sosial, Kecakapan, dan Pengetahuan. Agama yang paling kaya dengan nilai-nilai spiritual menjadi satu alat untuk menyatukan jejaring sosial, karena Tuhan menciptakan manusia sebagai jejaring sosial, dan Tuhan merupakan bagian dari jejaring sosial itu. Inilah harapan membangun pendidikan Indonesia ke depan. Nilai-nilai Spiritual menjadi pilar utama dalam mendidik. Oleh karena anak yang memiliki rasa berkeTuhanan maka tentunya ia akan juga memiliki rasa berperi-Kemanusiaan (lihat Pancasila, dan Fungsi Pendidikan Nasional).

Berikutnya Nilai-Nilai Sosial.
Jejaring sosial adalah kunci kemanusiaan yang membedakan manusia dari mahkluk Tuhan lainnya. Thomas Hobbes , filsuf Inggeris (1651) mengatakan bahwa kehidupan tanpa jejaring sosial sangatlah menyengsarakan. Pada masyarakat beradab antarmanusia akan saling berhubungan. Jika tidak, maka keadaan suram akan datang, jejaring sosial akan menjadi “kontrak sosial”. Sementara jejaring sosial mampu meningkatkan kecerdasan individu. Dan berproduksi melintasi ruang dan waktu.

Bagaimana Pendidikan di Masa Depan?|Proyek Akbar abad 21 adalah memahami bagaimana manusia belajar melalui “big picture”melalui tema-tema yang alamiah. Daripada belajar bagian demi bagian secara steril dan kaku serta membutuhkan waktu. Pendekatan pembelajaran yang tidak saling terkoneksi antarmata pelajaran dengan Standar Kompetensi-Kompetensi Dasar (SK-KD) yang tidak saling terhubung dan berpengaruh, akan membuat malapetaka terhadap ciptaan Tuhan yang sangat dahsyat, yaitu Otak dan Hati manusia yang bekerja dengan cara silaturahim “hyperconnected”. Tuhan menciptakan bumi dan semua makhluknya melalui cara kerja jejaring sosial. Lihat anatomi tubuh kita dan semesta alam yang ada di depan mata. Semua bekerja dengan cara berkolaborasi.Jika ada yang menyimpang dan acak, maka alam dan waktu akan menatanya, memperbaiki jejaring dengan cara yang indah atau dimusnahkan dengan cara yang tragis.

Membangun perikehidupan anak seperti yang termaktub dalam fungsi dan tujuan pendidikan nasional, yaitu “Mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” sudah semestinya dilakukan dengan cara hiperkoneksi dengan kekuatan jejaring sosial. Begitu seterusnya pengembangan pendidikan di satuan pendidikan selanjutnya di tingkat menengah, kejuruan, hingga ke perguruan tinggi. Semua kita sekarang yang hadir di sini telah saling terhubung secara hiperkoneksi sebagai guru, pengawas, kepala sekolah, budayawan, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Birokrat, dan Para pemimpin. Melalui pendidikan yang kritis, berorientasi pada konsep berpikir tinggi (Higher Order tTinking Skill—HOTS) maka ke- Bhinnekaan akan dimaknai dan terimplementasikan dengan baik. Menuju pada kesatuan (nilai spiritual dan nilai sosial) untuk mewujudkan bangsa Indonesia yang damai, makmur, sejahtera.

EPILOG|
Setiap makhluk hidup memiliki mekanisme alami untuk beradaptasi sehingga dapat terus menjaga kelangsungan hidupnya dari generasi ke generasi. Begitu pula peradaban manusia yang selalu berubah. Menuntut manusia memiliki mekanisme untuk beradaptasi . Menyesuaikan diri dengan perubahan (self renewing process).

Kita berada di titik balik sejarah. Era komunikasi instan. Dunia di mana setiap hal, setiap hari menjadi baru. Interaksi kita yang dibantu perkembangan teknologi menciptakan gejala sosial baru yang melampui pengalaman individual, memperkaya dan berdampak besar terhadap kemashlahatan ummat. Jejaring sosial di dunia virtual telah membuat manusia saling terhubung di planet bumi ini.

Reformasi belajar akhirnya akan sukses atau gagal berada di tangan guru. Siapkah guru merubah diri? Oleh karena saat ini teknologi telah membuat manusia mampu mempelajari apa pun secara lebih cepat, sekitar 5 hingga 20 kali lebih cepat. Bahkan hingga 10 hingga 100 kali lebih efektif, pada usia berapa pun.

Makanan filsafat untuk membangun gizi otak anak dalam pemikiran yang kritis (Higher Order Thinking Skill) tersedia di mana-mana. Makanan otak anak melalui pendidikan, tumpah ruah di persada Nusantara. Kita cukup menyediakan ruang untuk pendidikan yang berdiferensiasi. Memahami keunikan diri anak, mengajarkan hidup dalam kebersamaan sesuai cara kerja jejaring sosial . Agar mampu menuju pada kebesaran ciptaanNya. Sesuai kondisi dan konteksnya.

Pendidikan di Jepang melakukan proses reformasi semenjak tahun 1988. Tahun 2002 lalu secara eksplisit menerapkan konsep pendidikan holistik (Hands-Heart-Head, Doing-Feeling-Thinking, Body-Mind-Soul). Ada 3 kalimat kunci yang diusung:
1. Kokoro no kyooiku (pendidikan untuk jiwa, hati)
2. Sogo gakushyu (pembelajaran holistik)
3. Tokushyoku koseika (keunikan masing-masing sekolah dan masing-masing individu).

Jepang terus- menerus melakukan riset, inovasi melalui kajian akademik dengan program ‘Wahbi-Sahbi’ — pendidikan harmoni-memesona yang humanis terukur secara akademik-universal. Bagaimana di Indonesia? Sudahkah kerajinan tangan dan seni menjadi penting di sekolah dan di rumah? Terutama di TK dan SD? Trimurti Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan memberi petunjuk kepada kita, bahwa Republik Indonesia menghendaki asuhan jiwa, asuhan otak, juga asuhan tangan dengan mempergunakan alat-alat. Terutama yang terdapat dalam kebudayaan bangsa sendiri. Pelajaran pekerjaan tangan adalah salah satu alat yang dapat banyak membantu tujuan Trimurti di atas. Tangan ajaib, tangan trampil, tangan di atas, tangan mulia, produktif dan kreatif. Asal pelaksanaannya mempunyai perhitungan yang tepat dan jelas, maka dengan pekerjaan tangan akan membawa otak anak menjadi cerdas. Tidak menerawang-nerawang angin semata.

Merenungi 7 abad usia Bhinneka Tunggal Ika memerlukan ledakan pemikiran yang maha sintesis, akselerasi kreatif, untuk mempersiapkan munculnya generasi emas menyongsong seabad Indonesia merdeka. Manakala Ilmu, Agama sudah tak mampu membangkitkan kembali kehidupan nilai-nilai, maka munculkanlah seni untuk mensucikannya. Seni mendidik dan mengajar yang falsafati. Kejahatan moral yang dilakukan manusia-manusia berotak cerdas di negeri ini semakin sistemik. Di luar nalar sehat, melukai kalbu sanubari kita. Mesti dilakukan pembongkaran persepsi indra dalam proses pendidikan sebagai sebuah pemuliaan dari kehidupan manusia. Anak-anak membutuhkan jagad alam dalam bereksplorasi secara hiperkoneksi. Alam terkembang menjadi guru.

Pancasila sebagai Dasar Negara sudah tentu mesti dikenal dan dimengerti benar oleh seluruh bangsa Indonesia. Mulai dari yang tua hingga yang muda. Semestinyalah Pancasila sebagai dasar negara dipelajari semenjak dari Sekolah Dasar sampai ke jenjang Universitas. Sudah tentu, penafsiran di Sekolah Dasar tidak sedalam di sekolah lanjutan. Sedangkan pada jenjang perguruan tinggi mesti lebih pula dalamnya dari sekolah-sekolah lanjutan. Pada tempatnya, di sini falsafah Pancasila dijadikan “studie object” memperkuat nilai-nilai spiritual yang diusung dalam kompetensi inti Kurikulum 2013.

Saya mengucapkan terimakasih, telah ikut menjadi bagian jejaring sosial hiperkoneksi di kegiatan yang amat mulia ini. Semoga Bali dapat menjadi simpul jagad kebajikan bumi Pertiwi yang multikultural. Mampu menjaga Kebhinnekaan Tunggal Ika hingga bumi ini berakhir.

Tak perlu menjadi orang terkenal. Hal-hal kecil yang menyentuh dalam kehidupan sehari-hari adalah hal yang besar, ketika kita bisa merubah cara pandang. Saatnya kita melangkah ke arah pendidikan yang memberikan NILAI TAMBAH pada Kehidupan Kemanusiaan.
Matur suksema
Om Santhi Santhi Shanti Om

(Seminar Budaya dalam memperingati 7 Abad Usia Bhinneka Tunggal Ika, Inna Hotel, Bali, 18 September 2013).

Salam literasi

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: