//
you're reading...
Human being, Motivasi, Pendidikan

Pelit Bin Pailit (Seri Fatherman bag. 9)

Oleh: Bendri Jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)

Masih ingat misi Fatherman? Tak perlu muluk-muluk. Fatherman tidak ditugaskan untuk membebaskan Gotham City dari kejahatan Joker dan kawan-kawan. Biarlah itu menjadi tugas Batman. Ia juga tak dituntut untuk menyetrika pakaian setumpuk di rumah, sebab itu pekerjaannya Ironman (eh bener kan?). Pun ia juga tak perlu khawatir dianggap gagal dalam tugas ketika dagangan tak laku. Itu tanggung jawab Salesman. Yang menjadi misi Fatherman cuma satu : menaklukkan hati anak. Sebab hati yang takluk, akan mudah diarahkan kepada kebaikan. Akal yang liar akan tunduk menerima nasehat, takkan mendebat.

Untuk menaklukkan hati anak ini banyak teknik yang sudah kita bahas sebelumnya. Namun ada teknik yang belum dibahas yang sejatinya begitu simpel namun butuh modal. Dan ini berlaku bukan hanya ke anak, bahkan ibunya si anak pun bisa luluh hatinya. Apa itu? Ayah harus suka memberi uang atau hadiah kepada anak dan juga istrinya. Jangan heran kalau istri lagi sedih sejatinya ia butuh dipeluk. Namun jika ia masih terus-terusan sedih, ia butuh diajak belanja tanpa limit biaya. Niscaya hatinya gembira. Coba aja.

Begitu juga dengan anak. Maka, inilah saatnya ayah berganti kostum memakai topi donatur dalam lakon Fatherman. Jangan jadi ayah yang pelit. Sebab ayah yang pelit hanya akan jadi ‘musuh bersama’ bagi ibu dan si anak. Mereka berkoalisi, meski tanpa kontrak politik, untuk menjadi haters bagi sang ayah yang ditunjukkan dalam sikap pembangkangan. Nasehat dan petuah ayah akan dicibir. Sehebat apapun prestasi ayah di luar akan dinyinyir. Persis kayak perseteruan politik di negeri kita tercinta, hater akan selalu memakai hukum praduga pasti bersalah.

Dari sinilah kaedah lama berlaku : ada uang ayah disayang. Jika tak ada uang, ya kerja dong yang. Eits, tapi jangan menuduh seolah-olah anak itu matre ya. Bukan. Apalagi kalau anak hobinya liburan ke puncak atau ke mall. Gak mungkin matre. Sebab kata orang, anak matre biasanya ke laut aje. Iya kan? Hakikatnya, setiap manusia punya jiwa pragmatis. Mencari kemanfaatan. Terlebih anak-anak. Makanya definisi ikhlas belum bisa diterapkan kepada anak secara utuh. Untuk ajarkan anak sholat kita harus siapkan banyak hadiah. Sebab anak-anak hanya memandang sesuatu dengan dua kategori : manfaat atau tidak manfaat. Dan manfaat yang dirasakan itu harus riil dan kekinian. Tidak nanti-nanti. Nah, hadiah dalam bentuk uang ataupun barang adalah wujud dari kemanfaatan yang dirasakan oleh anak.

Wajar, jika rasul menyampaikan dalam sabdanya yang singkat namun maknanya dalam. Tahaadu, tahaabbu. “Saling memberi hadiahlah, niscaya akan tumbuh cinta di antara kalian”. Ini sebagai penegas bahwa kebiasaan memberi dalam wujud barang ataupun uang akan mampu melunakkan hati manusia. Dan sejarah membuktikan beberapa ayah hebat menjalankan lakon ini dengan sempurna. Mereka sadar bahwa mereka punya keterbatasan waktu bertemu dengan anak sekaligus karakter yang sulit untuk friendly dengan anak. Dan sebagai gantinya, mereka coba cari cara lain untuk taklukkan hati anak dengan perhatian dalam wujud nafkah uang atau benda.

Tengoklah ayahanda dari umar bin abdul aziz. Saat mengetahui bahwa ia harus berpisah dari anaknya dalam jangka waktu yang lama tersebab tugas negara, ia wujudkan perhatian ke anaknya dengan nafkah sebesar 1000 dinar atau 2 milyar rupiah per bulan. Bayangkan, berapa tahu bulat yang bisa dibeli oleh umar setiap bulannya saat itu? Anda sebagai pelanggannya yang tahu jawabannya. Ada juga kisah ayah lainnya, yakni Farukh. Seorang mujahid yang tinggalkan keluarga puluhan tahun lamanya. Ia tak biarkan istri dan anaknya dalam kesengsaraan sebakda ia pergi dari rumah. Ia berikan hartanya sebesar 30.000 dinar atau 60 milyar rupiah untuk bekal hidup mereka. Ini setara dengan biaya mentraktir semua warga negara singapura makan seblak hot spesial plus segelas aqua. Agar mereka tahu betapa kayanya kuliner indonesia.

Tentu royalnya ayah dalam pemberian jangan dimaknai sebagai pengajaran anak untuk hidup mewah. Bukan itu maksudnya. Hal ini sejatinya hanyalah pembuktian bahwa ayah masih memiliki perhatian akan kondisi anak. Dan pemberian nafkah dalam jumlah besar adalah salah satu wujud perhatian ayah tersebut. Inti pesannya sederhana, bahwa ayah bukanlah lelaki yang pelit bin medit bin kikir bin koret bin bakhil. Meski tak mampu ajak anak untuk bermain atau bercerita sebagaimana lazimnya ayah-ayah yang lain, ada bentuk lain perhatian ayah yang mudah-mudahan dipahami anak sebagai wujud cinta meski belum sempurna.

Lantas bagaimana dengan ayah yang pas-pasan gajinya? Kadang untuk makan sehari-hari aja susah. Bahkan harus bersiasat. Pagi minum energen spesial seharga seribuan. Siang makan okky jelly drink penunda lapar dan malamnya minum promaag. Murah meriah tapi sebulan kemudian pingsan. Tapi tenang aja, masih ada Kartu Indonesia Sehat. Kalau gak punya, ya pakai Kartu Indonesia Sabar. Harapan itu masih ada. Iya kan?

Buat ayah yang bergaji pas-pasan, tentu melakonkan diri sebagai ayah donatur tetap bisa dilaksanakan. Sebab kata kuncinya adalah jangan pelit dan berusaha memberi kepada anak.

Ada sebuah pepatah dalam bahasa arab yang bisa kita jadikan pelajaran. “Al ihsan yu’jizul insan”. Kebaikan itu akan menaklukkan manusia. Kebaikan yang dimaksud disini dapat dimaknai salah satunya dengan pemberian. Sebagai seorang Fatherman meski dengan gaji pas-pasan, agar pemberian ayah mampu meluluhkan hati anak, maka harus memenuhi beberapa ketentuan :

1. Sering-seringlah memberi meskipun sedikit.
Sedikitnya pemberian tidak masalah bagi anak asalkan sering. Sebab batu yang keras pun bisa bolong tersebab tetesan air yang sering. Begitu juga hati anak. Akan takluk dengan seringnya pemberian. Ayah yang memiliki gaji pas-pasan bisa rutin memberi hadiah meskipun sedikit, seperti makanan kesukaan, mainan harga seribuan atau yang sejenis tanpa harus menunggu moment ultah. Jika anak bertanya, “Emangnya aku ulang tahun hari ini ya?”. Ayah tinggal menjawab, “Ayah memberimu karena cinta, bukan karena kamu ulang tahun atau menjadi juara”. So sweet…

2. Variasikan pemberian agar anak tidak bosan
Seringnya memberi akan berkurang nilainya jika Ayah tak pandai memvariasikan bentuk pemberian. Upayakan punya daftar pemberian yang nilainya murah, namun bermanfaat untuk anak. Baik berupa mainan kesukaan ataupun makanan. Jangan sampai anak tiap hari dibawain es krim terus sampai perutnya kembung. Bisa-bisa cintanya beku karena terlalu sering menerima es yang dingin. Eh emang ngaruh ya?

3. Sesekali tingkatkan nilai pemberian sesuai dengan impian anak.
Jika anak mengidam-idamkan sepeda sampai kebawa mimpi, maka ayah bisa berikan kejutan dengan hadiah sepeda tersebut. Hati anak berbinar-binar. Ternyata bukan hanya minuman bersoda yang punya tagline “Kutahu yang kamu mau”. Ayah juga. Ini amat berkesan dalam diri anak.

Sekali lagi diingatkan, bahwa Fatherman pantang punya sifat pelit dengan dalih tak ingin hidup mewah. Kesederhanaan itu bagus, namun bukan berarti pelit. Meski begitu ayah juga harus tau kadarnya agar tak terkesan memanjakan anak. Sifat pelit yang dimiliki sosok fatherman membuat anak enggan mendekat. Dan biasanya sifat pelit berdampingan dengan perilaku cuek dan kasar terhadap anak. Tatkala mereka dituntut untuk berbakti kepada ayah, tak boleh durhaka, akhirnya meluncurlah doa untuk sang ayah sebagai wujud baktinya,

“Ya Allah masukkanlah ayahku ke surga… kalau bisa secepatnya. Jangan lama-lama”.

Jlebb. Betapa anak ingin mendoakan kebaikan namun enggan berlama-lama bersua dengan ayah yang menyebalkan. Sifat pelit salah satu cirinya. So, segera ambil kartu ATM anda yang saldonya kepenuhan. Ajak anak belanja kebutuhannya. Pastikan ibunya juga diajak. Sebab belanja dianggap tidak sah jika ibu tak ikut serta di dalamnya. Percayalah, semua ibu-ibu akan dukung pernyataan saya. (bersambung)

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: