//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Pendidikan, Renungan

Libur Syariah

Harry Santosa – Millenial Learning Center
20 Sep 2016

Beberapa orangtua bahkan sebagiannya Ustadz yang tentu memahami agama dengan baik, mengeluhkan perilaku anak anaknya saat libur atau menjalankan liburan dari Pesantren Berasrama atau Boarding School.

Dengan jujur mereka bercerita, mereka sangat gemas melihat anaknya yang sudah ditempa dengan keras di asrama untuk patuh pada syariah, lantas mengapa ketika liburan mereka seolah “libur syariah”. Misalnya susah sholat tepat waktu dan harus disuruh suruh, menjadi malas belajar dan malah banyak bermain yang tidak produktif atau mengurung diri di kamar.

Kasus yang juga bikin mangkel adalah ketika mereka melakukan kunjungan ke Pesantren Boarding School. Mereka diam diam melihat Isi Hape para siswa, ternyata isinya tidak jauh beda dengan isi hape anak anak ABeGe pada umumnya, ada konten pornografi, konten idola artis, konten musik yang tidak pantas dsbnya.

Kasus “Libur Syariah” ini seolah mengingatkan kita tentang “Libur Belajar”, yaitu betapa bahagianya banyak anak anak kita bila tiba liburan sekolah. Liburan sekolah sudah lumrah dimaknakan sebagai “Libur Belajar”. Ada miskonsepsi yang sesat dan menyesatkan yang tertanam dalam benak anak anak akibat sistem pendidikan (persekolahan) yang memberhalakan konten akademis formal.

Ketika “belajar” dianggap proses pengisian kumpulan konten yang harus dijejalkan dan ditelan banyak banyak sesuai target, maka fitrah manusia malah menolaknya dan membencinya, lalu Libur Bersekolah kemudian dianggap sebagai Libur Belajar.

Begitupula Belajar Agama atau Syariah, ketika belajar agama dianggap proses pengisian konten agama yang harus dijejalkan dan ditelan banyak banyak sesuai target, maka kemudian fitrah anak malah menolak dan membencinya, lalu ketika liburan tiba, merekapun menjalani “Libur Syariah”.

Begitulah mindset Schooling telah memformat isi kepala kita semua melalui penjajahan yang panjang, bahwa pendidikan adalah persekolahan, dan bahwa persekolahan adalah proses pengisian konten sebanyak banyaknya dengan target yang sangat kaku dan formal. Dalil gacoannya adalah “makin banyak, makin hebat, makin cepat makin jago”.

Jangan main main, mindset begini menjadi penyakit sosial karena terbawa kemana mana oleh para alumninya. Mereka bisa libur syariah ketika membahas anggaran untuk memperoleh dana organisasi atau bisnis dengan berkorupsi. Mereka bisa libur syariah ketika berada di hotel yang jauh dari anak dan istri. Mereka bisa libur syariah ketika menjadi pemimpin pemerintah yang harus menggadaikan aset bangsa kepada asing. Mereka bisa libur syariah ketika uang bicara. Taqwa menjadi pakaian yang bisa dilepas kapan saja semau nafsunya.

Ini sudah terjadi di kalangan para pakar dan sarjana yang dihaslikan oleh sistem persekolahan formal modern. Mereka bisa menggadaikan dan melacurkan keilmuannya untuk kepentingan pribadi, bisnis, dstnya. Tidak perlu kita membawa kerusakan itu pada peradaban kita.

Karenanya mari kita kembalikan makna pendidikan sejati, bahwa pendidikan adalah menumbuhkan kesadaran yang tinggi untuk berperan dan berkarya terbaik yang beradab dan berakhlak bagi peradaban, dimulai dengan menumbuhkan secara alamiah semua aspek potensi fitrah anak anak dan diri kita dengan paripurna.

Berhentilah membangun pendidikan yang fokus pada konten ilmu dan pengetahuan, tetapi fokuslah pada membangkitkan gairah dan cinta pada Allah, pada RasulNya, pada Ilmu, pada peran dan karya yang bermanfaat dan menebar rahmat. Anak yang cinta belajar karena fitrah belajarnya tumbuh hebat akan belajar sepanjang hidupnya dan membuat karya karya terbaik bagi peradabannya.

Anak yang cinta Allah dan RasulNya karena fitrah imannya tumbuh indah akan menjalankan dan membela syariah sampai mati. Anak yang mengenal dirinya dengan sebaik baiknya karena fitrah bakatnya tergali, akan beraktifitas positif dan produktif serta manfaat sepanjang hayatnya.

Ingatlah bahwa kita tidak selalu ada untuk anak anak kita, pada ghalibnya kita akan wafat lebih dulu. Anak anak kita akan menghuni zaman yang bukan zaman kita dan kita tidak pernah mampu mengunjunginya. Maka tumbuhkanlah fitrah fitrah anak anak kita sehingga mereka tidak pernah libur menjadi Hamba Allah dan Khalifah di Muka Bumi sepeninggal kita nanti.

Salam Pendidikan Peradaban

#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
#fitrahbasededucation

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: