//
you're reading...
Human being, Renungan

Memanusiakan Manusia

Eka Firmansyah·
September 19, 2016

Sebagai penganut fatalisme yang taat, hampir bisa dikatakan, saya tidak pernah mengantar istri saya ke Salatiga saat sang surya masih bersinar. Lazimnya selepas isya saya baru berangkat menyusuri Jalan Magelang, menembus Merbabu, untuk tiba di sebuah kota kecil yang sejuk. Tapi diluar kelaziman, Sabtu lalu, saya memilih berangkat siang hari, pukul 11.00. Meskipun lebih macet, ada pemandangan baru yang terlihat.

Sepanjang Jalan Magelang, sejak dari Sleman, kendaraan tidak berhenti saling susul seperti semut berbaris. Semua asyik dengan gayanya. Baik penampilan hingga gaya berkendaraan. Ada yang pasang penampilan sangar, ada yang kalem. Ada yang walau jalannya lurus tapi mengemudi terus berbelok, zig-zag. Di lain waktu ada mobil penuh stiker dan diceperkan habis yang sungguh membuat saya bingung, lha wong mobil 2000 cc kepenak empuk koq ya dibuat tidak enak? Ada sepeda motor yang exhaust nya di-by pass sehingga suaranya terdengar hingga 1 km, dan berbagai tingkah polahnya.

Mungkin, mereka melakukan semua itu demi satu maksud, eksistensi mereka diakui. Dalam bahasa ababil, mereka tengah mempertaruhkan eksis atau tidaknya mereka. Yang dalam benak saya, muncul pertanyaan, “kalau mereka sibuk eksis berarti mungkin, dalam kehidupan keseharian, mereka tidak dianggap ada…” Sungguh merana.

Di Kota Magelang, di samping Pos Polisi New Armada, tampak seorang anak kecil duduk bersila di atas rumput. Di dekatnya seorang ibu dengan selendang tampak terus memandang ke arah utara seperti menunggu sesuatu. Pasangan ini tampak aneh ditengah drama pertunjukan eksistensi transportasi pribadi di depannya. Mereka menunggu transportasi umum. Yang saya pikirkan adalah, bila semua orang melakukan perlombaan gaya demi eksistensi dengan kendaraan pribadinya, bahkan hingga mengabaikan peraturan dan keselamatan, si ibu dan anaknya adalah kelompok yang tidak bisa ikut bergaya karena naik transportasi umum. Ini artinya, sang ibu dan anak tidak eksis. Ini artinya, si ibu dan anak tidak dianggap manusia lazimnya.

Sungguh malang nasib si ibu dan balita. Meskipun Magelang adalah kota yang sejuk dan terletak di lembah para dewa dengan empat puncak gunung berapi di sekitarnya, tapi siang hari pukul 12.00 tetap saja panas. Dan seorang balita duduk bersila di rerumputan menunggu angkutan umum yang entah kapan datangnya. Wajahnya, seperti lazimnya anak-anak, tersenyum dan bermain. Tapi sebagai seorang bapak, tetap saja tidak tega melihat anak kecil berpanas-panas di siang hari. Si ibu tampak lebih menderita. Untuk lebih mendramatisir pengamatan ini, saya membayangkan bahwa dalam benak, sang ibu berbisik lirih, “andai punya motor, tentu tidak sesusah ini…” Dan bisikan seperti ini sangat meremukkan hati suami manapun yang mendengarnya.

Semakin jauh menyusuri jalan menembus Kaki Gunung Merbabu, semakin banyak pemandangan sejenis. Ada kakek dan nenek renta menunggu di pinggir jalan, seorang berpakaian seragam guru, anak-anak pulang sekolah, dan banyak orang lain menunggu angkutan umum ditengah drama eksistensi para pemilik kendaraan pribadi. Yang mengganggu hati saya adalah bila pertunjukan ini berlangsung keterlaluan. Ini hanya menyisakan dendam buat para penonton. Kelak, saat Gusti Alloh memberikan rejeki kemampuan memberi kendaraan, mereka akan membalas dendam. Dan lazimnya balas dendam ala Film Bollywood….. keras dan tanpa dipikir.

Perjalanan singkat disiang hari ini memberikan pengalaman baru dalam hati saya. Bahwa transportasi masal, sesederhana apapun, membantu mengurangi jarak antara yang mampu dan yang kurang beruntung. Seperti dalam ilmu elektro, semakin sedikit beda potensial, akan semakin kecil potensi hubung singkatnya sehingga semua tentu menjadi aman. Transportasi masal yang baik, akan memungkinkan perasaan menjadi manusia terpelihara. Sarana ini memberikan rasa aman dan terlayani. Rasanya cukup. Seperti 10 tahun lalu, saat kami merantau di tanah matahari terbit. Kami ini adalah golongan susah itu. Yang uang di kantong hanya cukup untuk sekedar makan. Kami merasa hidup kami cukup karena transpor masalnya baik. Kami merasa dimanusiakan karena kemanapun kami pergi, bisa dilayani sebagai lazimnya manusia. Semoga Alloh memberikan rahmat kepada para pemimpin yang masih berkenan memikirkan transportasi masal untuk rakyatnya.

Aaa-miin….

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: