//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Pendidikan, Perubahan, Renungan

Zaman wis akhir, Isi dunia sudah gila

Sarra Risman

Ada seorang anak perempuan, kelas 3 SD. Di tandu masuk ke ruang praktek ibu saya oleh orangtuanya. Anak cantik itu lumpuh, tidak bisa berjalan. Sebelumnya dia normal, sampai 3 teman sekelasnya yang laki-laki mulai iseng. Awalnya lempar-lempar kertas, lama-lama lempar batu. Awalnya di kejar-kejar, lama-lama di sengkat kalau jalan. awalnya di colek-colek, lama-lama di dorong. Awalnya yang di tarik hanya rambut dan bajunya, lama-lama yang di tarik kursinya ketika dia mau duduk. Awalnya hanya biru, lama-lama tulang ekornya kian rapuh. Awalnya bercanda, lama-lama bully. Awalnya lucu, lama-lama lumpuh.

Zaman wis akhir, isi dunia sudah gila.

Itu kenapa saya mengajarkan anak saya membalas ketika disakiti. Karena tidak semua anak orang diajarkan sopan santun, adab dan etika bersosialisasi. Tidak semua anak orang diajarkan bahwa bercanda itu hanya apabila kedua pihak tertawa riang, makanya kata canda selalu disambung dengan kata tawa, gak ada canda-tangis. Kalau yang hepi cuma 1 pihak saja, namanya bully. Tidak smua anak orang diajarkan terus menerus, secara konsisten, sejak kecil, untuk tidak menyakiti dirinya, menyakiti orang lain, dan merusak harta benda. Tidak semua anak orang diajarkan. Banyak yang bahkan tidak diajarkan sama sekali. Karena yang seharusnya ngajarin kadang pergi. Kadang dititipi ke orang yang merasa bukan tanggung jawabnya mengajari.. yang berpikir: toh bukan anak saya ini.

Zaman wis akhir, isi dunia sudah gila.

Tidak perlu saya diingatkan akan mulianya akhlaq nabi kita untuk membalas kejahatan dengan kebaikan, itu saya sudah tau. Dan bersabar akan kedholiman, ada ayat nya juga di 16.126, dan betul, itu lebih baik. Tapi diayat yang sama juga diperbolehkan membalas yang setimpal. Seringkali yang terjadi, di zaman yang hampir berakhir ini, kejahatan yang dibalas dengan diam apalagi dengan kebaikan, jadinya seperti anak perempuan yang lumpuh diatas itu. ada manusia-manusia yang kalau di baikin, bisa baik. Tapi tidak bisa anda bayangkan betapa banyaknya manusia-manusia kecil di luar sana yang tidak selalu merespon seperti teorinya, seperti idealnya. Bagi orangtua yang mau melatih anaknya untuk mengikuti teladan Rasulullah, saya acungi jempol. Tapi entah kenapa, saya begitu ngeri membayangkan jika anak saya harus naudzubillah mengalami hal yang dilewati anak perempuan itu.

Zaman wis akhir, isi dunia sudah gila.

Kalau disakiti, anak saya diajarkan beberapa pilihan. jika tidak terlalu sakit dan dia mau mengalah, memaafkan dan bersabar, boleh saja. Tapi dia juga di kasih opsi untuk membalas jika dia rasa mampu. Ketika tidak, dia harus melapor ke orang dewasa terdekat, kalau di rumah saya, kalau di sekolah.. guru. Tentunya karena dia laki-laki, dia tidak boleh menyakiti anak perempuan, dan dimotivasi untuk tidak menyakiti yang lebih muda. Tapi ajaran yang terakhir ini ternyata jadi boomerang ketika adiknya jadi keenakan menyakiti karena abangnya tidak pernah membalas. Akhirnya saya bolehkan membalas adiknya, agar adiknya tau bahwa hukum yang berlaku di dunia itu kalau dia mencubit, ya akan dicubit balik. Walaupun abangnya lebih memilih untuk menghindar atau memegang tangan adiknya, sesuai ajaran awal kami.

Zaman wis akhir, isi dunia sudah gila.

“Ah, kan masih anak-anak”…katanya. Jika 17 adalah batasan usia yang di sebut anak-anak, maka 6 dari 14 pembunuh dan pemerkosa yuyun masuk dalam kategori ini. Dan kasus eno bisa terjadi karena pacarnya, yang juga masuk dalam kategori ‘anak-anak’ ini, tersinggung karena tidak mau diajak melakukan hubungan intim. Anak-anak jaman sekarang sudah bukan seperti anak-anak jaman kita lagi yang nakalnya benar-benar kenakalan anak-anak. Sekarang hanya karena es teh, pisang goreng, dan cemburu, manusia-manusia kecil berjiwa hampa ini saling membunuh. Zaman kita, berapa banyak sih kasus begitu. Berhentilah melihat segala sesuatu dengan spion zaman dulu. Nyetir saja bakal ketabrak kalau ngliat spion melulu, apalagi mengasuh.

Zaman wis akhir, isi dunia sudah gila.

Pasang badan ketika anak kita belum bisa membela dirinya sendiri. Kalau sampai mereka mengadu, tandanya mereka sudah mencoba dan tidak bisa. Itu warning walau tidak dengan bunyi alarm yang biasa. Ketika anak saya di dorong oleh kawannya ke kolam ikan sekolah, 1x saya biarkan. Biar dia belajar memaafkan, mencari jalan keluar, biar dia menyelesaikan masalahnya sndiri. Ketika terulang, saya bertemu dengan guru kelasnya dan berkata bahwa ini sudah kedua kalinya, dan saya hanya manusia, yang ada batas sabarnya. Jika suatu hari anak saya mendorong kawan itu ke kolam ikan, bapak guru harus tau bahwa memang saya yang memperbolehkan, karena tertera dalam alquran. Ketika 2-3x di tendang dan di tonjok oleh kawan lainnya, dia mengeluh dan diam saja, ke 4-5x saya datangi kawannya dan bilang bahwa saya tidak suka anak saya disakiti, dan saya tidak mau dengar anak saya disakiti lagi, dan saya memastikan anak itu memahami. Saya mama macan, ketika anak saya diganggu, mama nya keluar. Karena baby macan belum bisa mengaum, masih sedang diajarkan.

Zaman wis akhir, isi dunia sudah gila.

Bagi teman-teman yang mau mengajarkan anaknya menjadi pemaaf, penyabar, ma syaa allah.. bagus, silahkan saja. Kalau saya, lebih memilih anak saya bisa berjalan, membela dirinya, kelak anak dan istrinya, dan mencari cara lain untuk bisa menjadi mulia. Karena….

Zaman wis akhir. Isi dunia sudah gila.

#sarrarisman

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: