//
you're reading...
Human being, Kemandirian, Lingkungan, Pendidikan, Renungan

Memagangkan vs Mengasramakan

Harry Santosa – Millenial Learning Center
15 Sep 2016

Barangkali kita lupa bahwa Rasulullah SAW sudah Magang berdagang bersama Pamannya ke Syams (Syiria) sejak usia 11-12 tahun. Karenanya tidak aneh ketika Beliau menikah pada usia 25 tahun, Beliau sudah melakukan setidaknya 80 ekspedisi dagang ke LN dan memiliki Business sendiri sejak usia 15-16 tahun.

Pemagangan bersama maestro atau ulama adalah model pendidikan terbaik untuk anak anak menjelang AqilBaligh antara usia 10-14 tahun, agar mereka ditempa kemandirian dan kemampuan mengemban Kehidupan ketika berusia AqilBaligh yaitu pada usia15 tahun.

Dalam pemagangan bukan hanya sekedar mendapatkan Skill & Knowledge atau Ilmu semata tetapi juga pendampingan spiritual dan pemberian hikmah serta Adab secara langsung dari para Maestro. Para Maestro ini menjadi Mentor Kehidupan yang memberi banyak hikmah sekaligus menjadi sosok Orangtua yang menyayangi. Inilah yang disebut mendapatkan adab para ulama sebelum ilmunya.

Pemagangan (Apprentice) inilah yang ditradisikan oleh Peradaban Islam selama ratusan tahun. Anak yang berminat atau berbakat pada bidang tertentu langsung Magang kepada Ahlinya. Maka tidak aneh jika peradaban Islam sampai abad ke 19 ditaburi para pemuda yang sudah punya peran peradaban ketika masih berusia belasan tahun.

Misalnya jika berbakat pada Ilmu Tafsir, langsung Magang dengan Ahli Tafsir.Jika berbakat pada Kedokteran atau Sains langsung Magang kepada Pakarnya. Begitupula bidang perdagangan, bidang Arsitektur dan Teknik dan bidang bidang lainnya.

Para Ulama Minangkabau ternyata juga mentradisikan Model Pemagangan ini dengan model Merantau. Anak anak menjelang AqilBaligh, usia 11-15 tahun sudah keluar kampungnya untuk merantau setelah ditempa ilmu dasar agama, silat dan berkebun atau berdagang di Surau sejak usia 7 tahun.

Sisa sisa tradisi Merantau masih terlihat hari ini dari banyaknya Restoran Padang hampir di seluruh penjuru Nusantara. Lihatlah, tidak pernah ada Sekolah Tinggi Restoran Padang, namun hampir setiap pekan barangkali lahir restoran Padang baru di setiap tempat.

Jarang yang tahu bahwa ada jenjang jenjang Pemagangan di Restoran Padang, sejak jenjang yang terendah yaitu mencuci gelas dan piring, lalu menyajikan minum dan kobokan, menata makanan di etalase, menyajikan makanan dengan piring bertumpuk indah di tangan sampai lengan dan bahu, sampai kepada jenjang Ahli Memasak dan Belanja atau mengatur keuangan.

Model Pemagangan di dunia modern hari ini dianggap sebagai model terbaik yang dijalankan banyak perusahaan perusahaan Konsultan besar seperti McKinsey, AT Kearney dsbnya, termasuk perusahaan IT raksasa seperti Apple, Google, Microsoft dstnya. Kehebatan tidak bisa diajarkan saja tetapi ditularkan.

Bayangkanlah, jika model pemagangan seperti ini dijalankan dengan manajemen yang rapih, melibatkan seluruh pakar di dunia, maka anak anak Muslim usia pre AqilBaligh 10-14 tahun, akan mendapatkan mentor kehidupan terbaik yang mumpuni. Mereka akan mandiri, beradab dan bersinar dengan karya karyanya menebar rahmat dan manfaat ketika mereka berusia 15-16 tahun.

Lalu mengapa kita lebih suka Mengasramakan anak anak usia 11-14 tahun dengan alasan kemandirian daripada memagangkannya kepada para Maestro dan Murobby? Apakah kemandirian dalam benak kita adalah sekedar untuk kemandirian urusan pribadi dan rumah? Atau urusan kemandirian dalam kehidupan yang lebih luas?

Mohon maaf, sependek yang diketahui, hampir tidak ada bahkan memang tidak ada pemagangan pada Maestro atau Mentor kehidupan dan pengganti sosok orangtua yang disediakan di sekolah berasrama kecuali guru guru akademis umum dan agama serta pendampingan wali murid seperti halnya persekolahan biasa pada umumnya. Hampir tidak ada bakat dan kemampuan berkarya atau berperan yang dikembangkan.

Beberapa asrama seolah diniatkan menjadi tempat “Karantina” atau instalasi gawat Nahi Munkar, bukan menjadi tempat “Inovasi karya kita” atau instalasi Amar Ma’ruf. Sebagian lagi seolah menjadi tempat para elitis bagi anak anak kelas sosial menengah ke atas.

Beberapa sekolah berasrama bahkan menerapkan peraturan ketat “tangan besi” dengan alasan bahwa anak memerlukan disiplin. Namun barangkali mereka lupa bahwa kedisplinan pada anak itu dibentuk dengan kesadaran dan motivasi terdalam bukan pemaksaan kepatuhan.

Kesadaran dan motivasi terdalam akan muncul pada aktifitas yang relevan dengan bakat dan minat, pada kelekatan relasi atau empati yang kuat antara mentor dan anak, serta pada alasan yang kuat karena kepemimpinan yang empatettik dan otentik dari para Mentor atau Maestro sehingga memiliki misi yang sama.

Tulisan ini bukan kritik tetapi mengingatkan, bahwa alangkah baiknya jika sekolah berasrama bisa meniru konsep Pemagangan ala Rasulullah SAW ini. Sehingga alumninya tidak tiba di masyarakat sebagai orang yang “mati”, tidak tahu harus berbuat apa dan berkarya apa untuk masyarakat dan peradabannya padahal banyak ilmunya.

Sekarang, terserah kita. Pilihan dan tanggungjawab di tangan kita masing masing. Mau memagangkan atau mengasramakan? Atau membuat sendiri yang mengkombinasi keduanya.

Salam Pendidikan Peradaban
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
#fitrahbasededucation

Image may contain: text

 

 

 

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: