//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Pendidikan, Renungan

Fitrah Seksualitas

Harry Santosa – Millenial Learning Center
6 September 2016

Seorang ibu muda mengeluh bahkan getun, yang dikeluhkan dan digemaskan adalah suaminya. Ini bukan perkara ekonomi, bukan masalah cinta atau lainnya, tetapi ini masalah deficit “fitrah keayahan” dari suaminya.

Suami dari ibu muda ini menyerahkan semua urusan keputusan rumah tangga pada istrinya, bahkan pendidikan anak anaknya. “Boro boro” bikin misi dan visi serta value keluarga, bahkan tidak pernah mau hadir ke acara pendidikan anak, kecuali dipaksa paksa.

Ternyata para ayah yang tidak banyak berperan sesuai fitrah keayahan, ditenggarai disebabkan oleh tidak dekatnya para ayah itu dengan ayahnya. Mereka kekurangan supply maskulinitas dari Ayahnya antara usia 0-14 tahun. Diantara akibatnya adalah sangat mengalah pada pasangannya, dalam arti memasrahkan semua urusan pada istrinya.

Ada banyak hal antara suami dan istri, memerlukan sinergi untuk melahirkan new idea atau new way yang membahagiakan semuanya bukan sekedar resolusi konflik atau kompromi namun “mangkel” atau “kesepakatan garing”. Jadi sinergi tidak akan bekerja dengan baik jika ada pasangan yang hanya bisa mengalah bukan berkolaborasi.

Apalagi dalam hal menuliskan MISI KELUARGA, maka peran suami atau peran seorang ayah amat dominan untuk menemukan, memimpin dan menunjukkannya. Para ayah yang nampak tumpul peran keayahan ini umumnya tidak dekat dengan ayahnya terutama sejak usia 7-14 tahun. Umumnya para ayah seperti ini biasanya sangat dekat dengan ibunya, maka supply feminitas sangat dominan dalam dirinya.

Itulah mengapa seringkali ditemui di dalam keluarga keluarga yang memiliki ayah supersibuk dengan leadership tinggi di luar rumah, tetapi miskin mensupply leadership bagi anak lelakinya di dalam rumah, seringkali memiliki anak lelaki yang sangat “feminim”. Intinya adalah bahwa anak lelaki yang tidak mendapatkan figur keayahan dan tidak mengalami kelekatan dengan ayahnya berpeluang besar menjadi keibuan.

Ada bahkan suami yang tidak pernah mau berpisah dari rumah orangtuanya walaupun sudah menikah dan punya anak banyak. Berkali kali dibelikan rumah, tetapi selalu kembali ke rumah orangtuanya. Dia tidak bisa berpisah dari ibunya. Dunia di luar sana begitu menakutkan dan menggelisahkannya.

Namun begitupula sebaliknya. Ada ayah yang hanya dekat dengan ayahnya dan tidak lekat dengan ibunya ketika usia 0-14 tahun. Ayah yang demikian ketika kecil maka akan kekurangan supply feminitas, mereka sangat egois dan rasionalis. Leaderhipnya terlalu dominan dan juga berakibat sama, yaitu susah bersinergi.

Seringkali istri dan keluarganya diajak rapat memutuskan sesuatu namun pada akhirnya keputusannya lah yang dipilih. Ayah seperti ini sangat sulit bersinergi, dia selalu ingin menjadi pemenang.

Memang ada beberapa ayah yang punya personality influencer sangat dominan, leadership sangat tinggi, namun dalam bersinergi atau bermusyawarah adabnya adalah menurunkan ego serendahnya, menampilkan emphaty setingginya, menggunakan seni untuk menjadi pengikut dan pendengar (followership) dalam tahap tertentu.

Followership ini didapatkan dari Ibunya. Para suami yang tidak mau mengalah, sangat dominan, tidak bisa bersinergi dstnya baik di rumah maupun di masyarakat, umumnya tidak mendapat suppy feminitas yang cukup dari ibunya saat usia 0-14 tahun.

Dalam kasus tertentu bisa jadi sangat “childdish”, sangat egois, sangat keras kepala, kasar terhadap istrinya dstnya.

Lalu bagaimana?

Para ayah yang terlalu “keibuan” maupun terlaku “egois” ini harus menyadari kekurangannya dan kembali ke peran keayahan yang sejati. Mereka para ayah yang terlalu keibuan harus mendapat “sosok ayah” yang bisa diteladani leadershipnya dan para ayah yang sangat egois harus mendapat “sosok ibu” yang bisa melembutkan hatinya walau usia mereka sudah dewasa. Dalam kasus yang parah memang harus ditangani psikolog.

Maka sebelum semua terlambat, dalam pendidkan berbasis fitrah, khususnya fitrah seksualitas, disarankan kehadiran peran ayah dan peran ibu secara seimbang di sepanjang usia anak 0-14 tahun. Itu semua agar supply maskulinitas dan supply feminitas ada secara seimbang dan proporsional sesuai tahapan perkembangan.

Salam Pendidikan Peradaban
#pendidikanberbasisfitrah
#fitrahbasededucation

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: