//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Pendidikan, Perubahan

Password

Sarlito Wirawan Sarwono
SINDO, 18 September 2016

Bertepatan dengan hari raya Idul Adha, keluarga besar kami, saya dan adik-adik saya bertujuh saudara, bersama anak-istri-menantu dan cucu-cucu masing-masing, berkumpul di rumah almarhumah ibu saya di Bogor. Jumlah cucu yang datang belasan orang (mungkin lebih). Ada beberapa yang sudah gadis dan masuk golongan Jawa (Jaga Wibawa), serta bayi-bayi, tetapi selebihnya adalah anak-anak tanggung yang hiperaktif, berisiknya bukan main.

Nah, kebetulan ada salah satu keluarga keponakan saya yang terlambat datang. Anak tunggal mereka, Qiara, langsung mau bergabung dengan saudara-saudaranya yang kebetulan sedang bermain di salah satu kamar. Tetapi ketika Qiara mau masuk, pintu ternyata terkunci, dan anak-anak yang di dalam minta Qiara menyebutkan password-nya dulu, yang tentu saja tidak bisa dipenuhinya, karena Qiara baru datang, tidak mengikuti permainan ini dari awal. Akhirnya Qiara menangis karena tidak dibukakan pintu, dan Nininya (adik saya) perlu turun tangan untuk membujuk rombongan cucu “kreatif” yang di dalam, sehingga pintu akhirnya bisa terbuka tanpa password, sehingga Qiara-pun bisa melenggang masuk dengan senyum-senyum.
***

Dulu, waktu saya kecil, rasanya orangtua punya segala kekuasaan untuk mengintervensi privacy (wilayah pribadi) saya. Begitu juga guru. Mereka punya hak untuk membuka tas saya, memeriksa isinya dan kalau perlu merampas isinya yang dianggap tidak layak (jaman saya dulu, yang sering dirampas adalah buku-buku komik). Mereka juga punya hak untuk masuk kamar dan memeriksa isi kamar (termasuk membongkar dan memeriksa isi lemari saya). Sebaliknya, saya dilarang keras mengintip “rahasia” orangtua, misalnya membuka amplop surat untuk orangtua untuk membaca isinya, atau membuka dompet atau tas orangtua. Kalau ketahuan, bisa sandal berkali-kali mendarat di pantat, atau berjam-jam harus mendekam di kamar mandi yang dikunci dari luar (tentunya dengan menangis keras-keras minta dibebaskan).
Tetapi itu dulu. Sekarang lain. Sekarang ada HP dan di situlah letak semua rahasia, bukan di kamar, di lemari atau di laci. Dulu pernah ada razzia HP di sekolah-sekolah. Yang kedapatan membawa HP di tasnya, langsung dirampas. Tetapi HP boleh dirampas, namun orang lain, termasuk guru dan orangtua tidak akan bisa membaca isinya, karena ada password-nya. Persis seperti Qiara yang terjebak di luar kamar, tidak bisa gabung sama saudara-saudaranya karena tidak punya password.

Mengapa begitu? Karena di jaman sekarang, kita semua punya dua dunia, yaitu dunia nyata (yang sejak dulu ada) dan dunia maya (sejak hadirnya teknologi internet). Kehadiran orangtua dan guru hanya di dunia nyata, dunia yang memang masih terkontrol oleh orangtua dan guru (sesuai doa setiap ulang tahun, “Semoga dijadikan-Nya anak yang saleh/salehah dan selalu hormat dan taat pada orangtua…. dan seterusnya”). Di dunia nyata orangtua dan guru masih relatif punya kuasa (walaupun sudah mulai tergeser juga), seperti orangtua bisa menyuruh anak bangun pagi, menyuruh sholat dan bikin PR, dan seterusnya, sedangkan sekolah mewajibkan baju seragam tertentu, baju dimasukkan ke celana, rok di bawah lutut dan seterusnya juga. Tetapi di dunia maya, mereka tidak bisa berbuat apa-apa, karena orangtua dan guru tidak eksis di situ. Padahal di situlah terjadinya segala macam yang sama sekali di luar dugaan ayau harapan orangtua.
Misalnya fenomena Awkarin (sudah pernah saya ceriterakan di rubrik ini beberapa waktu yang lalu). Gadis yang nama aslinya adalah Karin Novilda ini, awalnya berjilbab dan berkacamata, kedua orangtuanya dokter di Pangkal Pinang, dan nilai UN SMP-nya ranking III sekepulauan Riau. Tetapi begitu pindah ke SMA di Jakarta, ia mentransformasi dirinya menjadi sosok yang lepas jilbab, tubuhnya bertato, dan memamerkan kisah cinta dan gaya dia bercinta serta kata-kata vulgar di instagram-nya (dan askfm dan videoblog), yang segera menarik jutaan pengikut (semuanya remaja), sehingga dia mendapat julukan selebgram (selebriti instagram). Hampir tidak ada orangtua atau guru yang tahu akan adanya sosok seperti Awkarin ini, tetapi dialah yang menjadi ikon/idola remaja di dunia maya, bukan Nabi atau Rasul seperti yang selalu didengungkan oleh orangtua dan guru agama.
***

Masalahnya sekarang, bagaimana caranya orangtua dan guru bisa masuk ke dunia mayanya anak-anak atau murid-murid mereka? Tidak bisa dengan paksaan, atau pendekatan kekuasaan, apalagi kekerasan. Makin dikerasi makin tidak mau anak membuka rahasia password-nya. Caranya adalah dengan kelembutan dan bujukan, seperti yang dilakukan oleh Nininya Qiara. Pendekatan seperti itu tidak bisa dilakukan dadakan, tetapi harus dilakukan setiap hari dengan mengubah paradigma mendidik anak, dari otoriter, serba tahu, memberi tahu dan melaksanakan reward-punishment, menjadi pendekatan demokratis, yang lebih banyak mendengarkan anak, tidak menghakimi, berbagi dengan anak dan memecahkan persoalan bersama anak. Anak-anak yang merasa nyaman dengan orangtuanya, tidak akan segan-segan berbagi dengan orangtuanya dan gurunya di dunia maya.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: