//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Pendidikan, Perubahan

Tahu Bulat (Seri Fatherman Bag. 8)

Oleh: bendri jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)

Kita masih bahas sosok Fatherman dengan topi peran EntertainMan. Dan sampailah kita di jurus terakhir EntertainMan sang lelaki penghibur yang akan menaklukkan hati anak. Ingat, lelaki penghibur ini maknanya yang positif. Bukan lelaki penghibur versi ibu-ibu sosialita yang punya tas jinjing senilai sama dengan APBN mahasiswa kost-kostan selama 5 tahun. Bagi ibu-ibu pencinta brondong ini, definisi lelaki penghibur adalah yang badannya kekar, dada bidang, perut sixpack, kulit bersih kinclong ditambah kemampuan memperagakan beladiri ala Iko Uwais. Apalagi kalau bisa menyanyikan lagu romantis Michael Bolton “When a man loves a woman”, bisa membuat mereka teriak histeris saking terpesonanya. Untunglah Fatherman tak perlu itu semua. Meski perut buncit, kulit busik, dan kalau nyanyi dianggap sedang kumur-kumur, masih tetap bisa menjalankan perannya sebagai lelaki penghibur bagi buah hati mereka. Asal tau jurusnya, maka topi peran EntertainMan bisa dijalankan dengan mudah.

Agar mudah mengingat jurus sakti yang dimaksud maka kita bisa singkat menjadi akronim BBM. Yaitu Bermain, Bercerita dan Menjelajah. Untuk bermain dan bercerita sudah kita bahas sebelumnya. Berarti jurus terakhir yang harus dikuasai oleh ayah adalah Menjelajah. Dan urusan menjelajah ini belajarlah dari Belanda yang sukses menjelajah Indonesia selama 350 tahun. Ups sori itu mah menjajah. Beda banget, meski fungsinya sama. Menjajah bisa menaklukkan sebuah negri sementara menjelajah bisa menaklukkan buah hati #eaaa

Menjelajah dalam urusan pengasuhan anak adalah mengeksplorasi kebutuhan dasar anak akan rasa ingin tahunya. Mereka akan terus mencari jalan untuk puaskan rasa penasarannya. Yup betul. Setiap anak terlahir kepo. Pengen tahu banyak hal. Sampai kadang orangtua keteteran menghadapi pertanyaan mereka. Setiap hal harus dijelajahi oleh mereka. Ini alamiah. Sebab saat proses pembentukan mereka dalam rahim pun diawali dengan sperma yang menjelajah dan mencari tahu dimana lokasi sel telur. Sampai akhirnya terjadilah pembuahan. Ini kalau nikah dengan lawan jenis ya. Kalau buat kaum homo ya tuh sperma bakal mati penasaran karena tak pernah bertemu sel telur. Yang ada malah ketemu…hmmm you know lah. Gak enak kalau disebutin. Bisa hilang selera makan nanti.

Saat anak lahir ke dunia naluri jelajahnya tak berhenti. Banyak dokter menyebutkan bahwa si bayi akan berusaha mencari dengan kemampuan sederhananya dimana puting ibunda berada sebagai sumber makanan utama baginya di awal kelahiran. Ajaib kan? Inilah naluri kepo. Yang kadang malah dianggap nyebelin oleh sebagian orang tua. Padahal kepo itu bagian dari kepolosan alias fitrah. Ketika anak penasaran dan selalu ingin tahu, maka tugas ayah sang Fatherman adalah memuaskan rasa penasarannya hingga anak berucap “oooo” bulat. Inilah yang dimaksud dengan tahu bulat sebagai judul tulisan. Bermula dari rasa ingin tahu berujung kepada gumaman “oooo” bulat. Bedanya dengan yang dijual abang-abang di atas mobil bak adalah untuk membuat “tahu bulat” ini tak bisa dadakan dan biayanya bisa jadi lebih dari lima ratus rupiah. Kenapa? Karena ayah membutuhkan waktu dan ongkos lebih untuk memuaskan rasa ingin tahu anak. Dimana terkadang tak cukup dituntaskan dengan penjelasan via buku ataupun video di yutup, si ayah harus mengajak anak ke dunia luar agar makin terpuaskan jiwa anak.

Tengoklah tayangan dora explorer yang ratingnya tinggi itu. Diminati oleh banyak anak di penjuru dunia karena mengajak mereka menjelajah dan mengeksplorasi banyak hal di sekitar mereka. Setiap episode memberikan kesan dan informasi baru. Anak makin bertambah tahu. Tak lagi menjadi katak dalam tempurung namun menjelma menjadi katak di atas badan burung yang menjelajah kemanapun dia suka.

Dalam melakukan penjelajahan bersama anak, maka rumus yang dipakai oleh ayah adalah jalan-jalan plus edukasi. Gak musti jauh. Sebab definisi jalan-jalan bagi anak bukan plesiran sambil foto selfie dengan mulut dimonyongin lima senti. Jalan-jalan bagi mereka adalah eksplorasi. Yang penting anak terpuaskan rasa ingin tahunya. Bahkan menjelajah isi rumah bisa menjadi sesuatu yang mengasyikkan melalui permainan mencari harta karun. Jadi makna jalan-jalan disini ya betul-betul jalan. Sesekali lari bolehlah. Hiburan model beginilah yang memuaskan. Fisik bergerak, akal terpuaskan karena mendapatkan pencerahan di setiap penjelajahan. Ditambah hadiah kejutan saat mendapatkan harta karun.

Saat anak mulai beranjak baligh, maka makna jalan-jalan sudah mulai meluas dan menjauh. Jika selama ini sekedar menjelajah isi rumah dan lingkungan terdekat, maka ayah harus sudah mulai mangajak anak menjelajah yang lebih jauh. Anak sudah mulai naik kendaraan seperti pesawat, bis atau kereta. Dan inilah moment yang amat berkesan dalam diri anak. Yang jelas, ayah sang fatherman harus ingat misi awal mengajak anak jalan-jalan. Yakni menjelajah. Dimana unsur edukasi tak boleh diabaikan.

Beberapa hal yang bisa disiapkan oleh ayah saat jalan-jalan bersama anak di antaranya :

1. Mengetahui seluk beluk lokasi yang dituju
Ayah harus banyak googling atau tanya tanya ke orang yang tepat tentang lokasi yang jadi tujuan jalan-jalan bersama anak. Hal ini agar ayah bisa menjadikan moment perjalanan sebagai bahan bercerita dan menambah pengetahuan bagi anak. Dan saat anak bertanya “Kok ayah tahu?” maka ayah bisa menjawab “Ayah gitu loch!” sambil bertepuk dada kayak tarzan. Tapi jangan teriak auoooo ya. Ditangkap trantib setempat bisa-bisa.

2. Mempersiapkan kebutuhan saat perjalanan
Agar misi edukasi berjalan dengan baik, maka sepanjang perjalanan jangan sampai ayah direpotkan dengan berbagai masalah karena persiapan yang kurang matang. Akibatnya anak kecapekan, sakit, bahkan kelaparan. Tetap dapat pelajaran sih. Namun tak sesuai dengan perencanaan awal. Jika bisa diantisipasi sejak awal akan lebih baik. Jangan sampai cerita tentang jalan-jalan hanya cerita tentang tidur di hotel dan makan saja. Kurang seru. Bukan pengetahuan yang bertambah, malah rasa rasanya berat badan yang bertambah.

3. Cerdas melihat momen
Banyak sekali pembelajaran sepanjang perjalanan yang bisa dieksplorasi oleh ayah. Kejadian seperti macet atau kecelakaan bisa jadi bahan diskusi ke anak untuk mengenalkan safety riding. Termasuk melihat sesuatu yang ‘ganjil’ saat perjalanan. Rumah makan yang namanya unik dan lucu, seperti “Rumah Makan Ganteng”, “Unit Lapar Darurat”, dan yang lainnya bisa jadi bahan obrolan yang mengasyikkan bersama anak. Ayah bisa mengembangkan imajinasi anak disini dengan membuat kreasi nama rumah makan yang unik jika anak jadi pengusaha kuliner saat dewasa.

4. Jauhkan segala penghalang kedekatan
Kadang nilai sebuah jalan-jalan menjadi tak berarti ketika gadget tak henti dipantengin oleh ayah. Atau sewaktu di mobil, anak malah nonton TV atau juga dengarkan lagu dan radio. Untuk sesekali boleh saja. Namun jika sering dan tak ada dialog sepanjang perjalanan. Hambar rasanya perjalanan tersebut. Seperti masak mie instan tanpa bumbu. Anyep rasanya. Udah pernah nyobain kan? Coba aja.

5. Abadikan Moment
Teknologi canggih di HP dengan fitur video dan foto bisa menjadi alat untuk merekam moment indah saat jalan-jalan bersama anak. Saat tiba di rumah, kejadian atau moment tersebut bisa diulang dan dibahas kembali guna menerbitkan perasaan kebersamaan. Hal ini bahkan bisa berpengaruh positif saat anak sudah dewasa.

Sekali lagi, jadilah ayah yang bisa mengajak anak menjelajah bersama. Jangan biarkan anak jalan-jalan sendirian. Ajak anak menemukan jawaban atas rasa ingin tahunya sekaligus menambah pengetahuan baru bagi anak. Agar anak pun kelak akan menjadikan ayah sebagai narsum utama di saat ia dewasa. Dimana saat ada pertanyaan yang sulit dipecahkan, ia berusaha mencari tahu jawabannya dari sang ayah. So, jika selama ini ayah selalu bicara “Anakku yang mau jalan, hati-hati ya!” Maka gantilah dengan ucapan “Anakku yang di hati, kita jalan-jalan ya!” (bersambung)

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: