//
you're reading...
Creativity, Entrepreneurship, Information Technology, Perubahan

Online Business : Berkah atau Ancaman ? Industri Indonesia dipersimpangan jalan ??

Jusman Syafii Djamal
12 Sep 2016

Bisnis Online kini jadi primadona. Semua anak muda kini bermimpi jadi Jeff Bezos founder Amazon ataupun Joe Gebia founder Airbnb atau Travis Kalanick founder Uber Taxi.

Industri berbasis infrastuktur Internet, software aplikasi dan algoritma matematika kini telah mempermudah diakses perangkat mobile. Sehingga penjual dan pembeli bertransaksi di pasar dunia maya dalam cara berbeda.

Dengan proses adopsi cepat bisa lahir bursa online usaha kecil menengah. Sektor informal berbasis internet.

Terbentuk kiosk virtual penjualan barang jasa melalui papan pesan website sederhana. Kemajuan teknologi smartphone memungkinkan semua orang memiliki akses ke GPS.

Proses transaksi secara online kini berkembang menjadi kumpulan perusahaan yang menghubungkan jutaan konsumen dengan penyedia barang dan jasa secara cepat dan efisien. Tanpa perantara.

Belum pernah dalam sejarah bisnis, perusahaan kecil di garasi mobil dapat menjadi raja diraja dalam pengelolaan sewa menyewa taksi diseluruh dunia.

Dimasa depan bukan tidak mungkin seorang anak muda Indonesia mampu melahirkan supermarket virtual raksasa diseluruh dunia, bermodal aplikasi dan keahlian matematika serta ICT.

Dengan begitu Industri Nasional kita berada dipersimpangan jalan. Sebab kompetitornya tidak lagi perusahaan asing yang menanamkan modalnya di Indonesia, melainkan perusahaan asing yang berada di negaranya sendiri yang tidak menanam investasi disini.

Sekarang dengan amat mudah kita dapat membuka aplikasi layanan taxi atau juga pemesanan hotel dan penginapan secara online.

Tak peduli apakah markas besar pusat pelayanan itu tak berbendera Indonesia ataupun berada di negara lain. Yang utama, kita bisa secara cepat mengatur dan membayar taxi untuk bepergian dari satu tempat ketempat lain.

Juga kita dapat memesan penginapan untuk bermalam di kediaman pribadi orang lain. Kita juga bisa mengatur tatacara alih daya untuk keperluan pribadi dirumah. Misalnya meminta pembantu dari perusahaan cleaning service untuk membersihkan rumah. Memesan Chef memasak makanan. Atau bahkan merakit furniture dirumah kita.

Dengan kata lain tiap orang kini dapat melakukan proses “made or buy” di dunia maya. Tiap orang dapat memanfaatkan waktu luang , keterampilan dan/atau aset pribadi orang lain yang berlebih.

Kita dapat menggunakan platform digital untuk memmeminta atau berikan layanan on-demand. Baik berupa pesanan barang dan jasa untuk keuntungan semua pihak. Semua jadwal dan biayanya nya dapat diatur sendiri, tanpa hambatan.

Ketika startups dengan model bisnis inovatif muncul, pengambil kebijakan terperangah. Memerlukan waktu adaptasi.

Ada time-lag. Jarak waktu diperlukan untuk mempelajari dampak positip negatip terhadap pelaku bisnis tradisional. Bagaimana pula jika pasar domestic ikut tergerus.

Yang ditakutkan adalah munculnya kekuatan monopoli baru yang menggilas pelaku bisnis lainnya.

Policy maker kini didesak segera memerlukan upaya baru. Policy innovation. Agar ditemukan jalan bagaimana model bisnis baru ini dapat masuk kerangka peraturan berlaku dan tidak menghancurkan pengusaha Indonesia di buminya sendiri.

Misalnya , bagaimana bisnis online seperti Amazon dan Ebay yang membawa banyak isu-isu kebijakan rumit dan masih diperdebatkan, dapat diakomodasikan. Agar tercipta suatu medan kompetisi atau “playing field” yang sama dengan model bisnis kelontong yang ada saat ini. Seperti bagaimana , di mana , dan kapan peraturan pajak atas transaksi dapat diterapkan dengan adil . Jika tidak ini dapat mengakibatkan distorsi pasar .

Bisnis melalui e-commerce awalnya dimulai tahun 1990-an. Teknologi berbasis internet dalam bentuk aplikasi digital memiliki potensi menjadi competitor usaha tradisional.Pertumbuhan perusahaan digital tampaknya telah mulai menyebabkan gangguan “market share” dalam industri tradisional seperti jasa transportasi dan penginapan.Misalnya Airbnb sebagai perusahaan digital pemesanan penginapan sudah memiliki efek pada pendapatan hotel.

Dalam dekade sejak munculnya perusahaan-perusahaan seperti Uber — perusahaan jasa transportasi — dan Airbnb, sebuah platform untuk pengaturan perjalanan dan layanan pemesanan kamar, jumlah orang yang terlibat di kedua sector ini meningkat tajam. Jumlah transaksi untuk memperoleh dan menyediakan barang dan jasa melalui platform digital telah meningkat pesat jumlahnya.

Bahkan perusahaan digital ini telah memiliki valuasi yang menyaingi banyak perusahaan terbesar di dunia.

Perusahaan digital berbasis algoritma matematika ini, telah memperkenalkan berbagai aplikasi dan platform internet. Ia telah menyediakan pasar bagi proses transaksi yang aman, handal, dan efisien antara individu pelaku. Platform “match-making” digital sering memungkinkan individu untuk mengakses layanan peer-to-peer secara real-time.

Memungkinkan terjadinya proses transaksi keuangan konsumen dan penyedia jasa tanpa banyak keluar uang dari dompet. Penumpang Uber membayar dengan kartu kredit melalui aplikasi Uber. Sementara uber yang berpusat di New York membayar sopir. Hal ini beda dengan tatacara naik taksi tradisional. Di mana penumpang membayar sopir secara tunai. Bisnis Online menyebabkan pelaksana penyedia layanan tidak memiliki peran dalam mengumpulkan pembayaran dari konsumen.

Menurut suatu studi diBoston University berjudul “The Rise of Sharing Economy” yang memperkirakan dampak Airbnb di Industri Perhotelan,” setiap tambahan kenaikan 10 persen pelanggan Airbnb di Texas mengakibatkan penurunan 0,37 persen pendapatan bulanan hotel Ada juga beberapa bukti bahwa perusahaan digital seperti Arnbnb memiliki efek pada pasokan penyewaan jangka panjang apartment di beberapa daerah.

Pemilik tanah di kota-kota besar, seperti New York telah memilih untuk mengoperasikan bisnis rumah penyewaan jangka pendek melalui Airbnb. Akibatnya terjadi penurunan pasokan kamar hotel tradisional dan harga sewa properti di pasar jadi meningkat.

Perusahaan “Match making digital” berbasis online dan algoritma matematika ini disebut dengan banyak nama dan deskripsi. Di antara label paling banyak ditemui untuk koleksi perusahaan-perusahaan ini di media dan kajian akademik adalah “Sharing Economy atau Economi kolaboratif”. Penyedia layanan yang menggunakan asset sendiri yang kurang dimanfaatkan untuk menyediakan layanan pada pihak ketiga.

Sering dicirikan sebagai “berbagi” atau “berkolaborasi” dengan konsumen. Pengertian berbagi disini tidak gratis tetapi berbayar.Penyedia layanan hanya menggunakan aset mereka untuk mendapatkan uang. Di perusahaan “match making digital” penyedia layanan menanggung biaya dan risiko. Yang disebut “Sharing Economy” umumnya mengacu pada fenomena pemutaran atau pemanfaatan aset yang tidak terpakai atau underutilized yang dimiliki oleh tiap individu sebagai sumber daya produktif.

Misalnya, rumah dan mobil yang merupakan investasi signifikan namun potensi untuk menghasilkan nilai tambah kurang dimanfaatkan. Rumah yang dimiliki banyak hari kosongnya yang tak terpakai. Begitu juga ada kamar kosong meski dimiliki tidak terpakai setiap waktu.

Perusahaan Airbnb melihat potensi rumah atau kamar kosong ini sebagai asset produktip yang dapat dimanfaatkan . Ada potensi yang memungkinkan untuk terjadinya proses transaksi sewa menyewa ruang-ruang tersebut.

Daripada mobil kebanyakan dibiarkan lebih banyak berhenti ditempat parkir sementara nilai mereka terdepresiasi, alangkah baiknya jika disekolahkan melaui layanan Uber atau Lyft. Ada potensi yang memungkinkan bagi siapa saja untuk menggunakan mobil yang under utilized. Bisnis digital menawarkan layanan taksi. Supirnya adalah bisa pemilik mobil atau orang lain yang waktunya banyak luang.

Sebetulnya praktek “sharing Economy” telah dikenal di Indonesia sejak tahun 70 an. Dulu di Jakarta dikenal istilah mobil omprengan berpelat hitam yang dapat diitumpangi jika kita ingin kekantor. Turun bis di Cilitan atau turun pesawat di bandara Halim, pastilah kita bertemu “omprengan”. Membagi pemanfaatan mobil milik pribadi orang lain untuk disewa menjalankan bisnis di jakarta.

Sharing economy juga Mirip tatakelola mobil omprengan berplat hitam tahun 70 an yang meruntuhkan kejayaan taksi Jakarta Bandung 4848. Sharing Economy modern kind menghasilkan nilai tambah, melalui dukungan perangkat lunak aplikasi yang dikembangkan orang lain dan dijadikan brand tersendiri.

Model bisnis nya mash serupa seperti tahun 70 an yakni dengan memanfaatkan aset tidak terpakai bagi konsumen yang bersedia membayar. Rumah tak dihuni, apartment kosong bisa ditransformir menjadi Hotel yang menyediakan akomodasi jangka pendek. Mobil tak terpakai dan nganggur digarasi bisa diubah jadi taksi yang menyediakan transportasi fleksibel bagi siapa saja.

Jadi bisnisnya sendiri tidak ada yang baru. Yang berbeda adalah model bisnisnya yang mengalami proses evolusi dengan memasukkan unsur “gate keeper” berupa perangkat lunak transaksi yang dijamin keamanan data credit card nya.

Sharing Economy modern memungkinkan pengembangan model bisnis yang lebih fleksibel. Transaksi dalam sekali klik jari dilayar sentuh smartphone ataupun ipad. Pasar perdagangan barang dan jasa dalam genggaman.

Pada tahun 2014, sebuah studi PwC memperkirakan Sharing Economy memiliki pendapatan global sekitar $ 15 miliar pada 2014. Akan meningkat menjadi sekitar $ 335 Milyar tahun 2025.
Selain itu, PwC mensurvei kurang 1.000 konsumen “untuk memahami sikap konsumen terhadap Sharing Economy.”

Menurut data PwC 8 persen dari seluruh orang dewasa telah berpartisipasi dalam beberapa bentuk berbagi mobil pribadi untuk layanan taksi online. Satu persen telah menjadi penyedia layanan model ini. Dengan menjadi sopir atau , meminjamkan mobil mereka pada jam, hari atau minggu dimana mereka tak menggunakannya untuk kepentingan pribadi.

Layanan baru model “sharing economy” terjadi disetiap pelosok dunia. Dalam sebuah survei Februari 2015, Price waterhouse Coopers (2015) menemukan bahwa 19 persen orang dewasa di Amerika Serikat telah “terlibat dalam transaksi sharing economy.”

Airbnb,penyedia layanan kamar rumah tangga untuk disewakan jadi kamar hotel, misalnya, memungkinkan orang untuk menyewa kamar, apartemen, atau rumah.

Layanan diluncurkan pada tahun 2008. Dan pada tahun 2015 memiliki lebih dari 1 juta daftar operasi di lebih dari 190 Negara. Dalam Oktober 2014 perusahaan ini bernilai lebih dari $ 13 miliar. Sebagai perbandingan, Intercontinental Hotel Group, jaringan hotel terbesar di dunia, memiliki 674.000 kamar di lebih 100 negara memiliki kapitalisasi pasar sekitar $ 10 miliar Maret 2015.

Sharing Economy telah berkembang pesat selama beberapa tahun terakhir dan mulai menjadi fitur sehari-hari masyarakat modern.

Saat ini, 44% dari konsumen AS akrab jenis ekonomi ini. 19% dari konsumen telah terlibat dalam transaksi, dan angka-angka ini akan terus tumbuh. Model ini biasanya ditandai oleh dua pihak memasukkan transaksi yang memungkinkan mereka untuk berbagi penggunaan aset atau layanan dengan cara yang saling menguntungkan.

Bisnis ini fondasinya adalah “Membangun Ekosistem agar tercipta Trust antara pelanggan dan penyedia jasa” dan Penguasaan Teknologi ICT berbasis algoritma matematika.

Beragam setting platform dan organisasi telah datang untuk dikenal sebagai sharing economy. Paling terkenal adalah Uber , alternatif taksi yang pada tahun 2015 bernilai $ 50 miliar. Peringkatnya lebih tinggi dari 80 % semua perusahaan yang masuk Indeks Standard dan Poors.JPMorgan Chase & Co Institute merilis sebuah laporan berjudul “Platform Online Ekonomi: Big Data dan Volatilitas Pendapatan,” yang berusaha untuk memperkirakan efek dari apa yang mereka sebut “ekonomi online platform” pada turun naiknya pendapatan.

Laporan ini menggunakan sampel anonim dari 1 juta orang yang pelanggan antara Oktober 2012 dan September 2015. Dan dataset lebih dari 260.000 orang yang telah menawarkan barang atau jasa pada platform online.

Diperkirakan lebih dari 4 persen orang dewasa atau sekitar 10,3 juta orang, berpartisipasi dalam “ekonomi online platform” selama periode tiga tahun studi.Ada 1 persen orang dewasa memperoleh pendapatan dari sebuah platform online pada bulan tertentu . Institute ini memperkirakan terjadinya peningkatan 47 kali lipat dalam jumlah orang dewasa yang memperoleh pendapatan dari platform online , selama periode tiga tahun.

Kelompok riset investasi Piper Jaffray menghasilkan sebuah laporan berjudul “Sharing Economy: An In-Depth Look At Its Evolution & Trajectory Across Industries” that estimated total “sharing” revenues from short-term person-to-person (P2P) home rentals, such as Airbnb, at 2 percent of the U.S. accommodations market, which includes hotels, hostels, bed and breakfasts, cruises and other short-term and Peer to Peer (P2P) rentals.

“However, this report predicts that by 2025, P2P home rentals could represent as much as 10 percent of accommodation bookings, with revenue of $107 billion. In addition, Uber and other “ridesharing” companies are estimated to make up more than 5 percent of the $90 billion global taxi marketplace.The sharing industry as a whole had an estimated $15 billion in revenues last year, and is expected to continue to grow at an exponential pace”

“Uber dan Airbnb adalah dua profil perusahaan tertinggi yang tumbuh secara eksponensial. Tujuh tahun setelah pendiriannya, Airbnb telah diperluas ke lebih dari 190 negara dan 34.000 kota dengan katalog lebih dari 1,5 juta daftar. Tahun ini mereka diharapkan untuk meningkatkan pemesanan untuk lebih dari 80 juta pada akhir tahun 2015 naik dari 37 juta di 2014. Airbnb memiliki kinerja finansial yang mengesankan.”

Begitu kata laporannya, sengaja dikutip tanpa diterjemahkan. Takut salah artinya.Dan menurut laporan itu, pemimpin industry seperti InterContinental Hotels Group, yang masih memiliki 177 juta pemesanan, hidupnya kini tidak nyaman.

Ada ancaman lain yang juga secara perlahan menggerogoti margin keuntungannya. Situs online Expedia yang telah menjadi media perantara untuk pemesanan kamar, ternyata secara perlahan dan efektip dapat memetik keuntungan lebih banyak. Tahun lalu ia memiliki 150 juta pemesanan hotel dari 177 juta pemesanan Intercontinental.

Demikian pula, Uber telah mengambil 55% pangsa pasar taksi di market perjalanan bisnis Amerika Serikat.

Jika tidak waspada bukan tidak mungkin Taksi Uber atau taksi online akan menenggelamkan bisnis Industri jasa layanan taksi tradisional seperti Blue Bird di Indonesia.Industriawan Jasa Transportasi yang telah berusia puluhan tahun dan telah melakukan investasi serta menyediakan lapangan kerja untuk banyak supir harus berubah menyesuaiakn diri. Tanpa transformasi “market share” akan lenyap. Apalagi semua orang mengatakan ini cara baru, dan inovasi baru.

Dan ancaman kompetisi ini ibarat gajah sudah dekat dipelupuk mata, bukan lagi seperti kuman diseberang lautan.

Mohon maaf jika keliru. Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: