//
you're reading...
Creativity, Ekonomi, Perubahan

Mari Terbang Tinggi. Don’t Always Fly at Low Altitude ?

Jusman Syafii Djamal
10 Sep 2016

Timbul tenggelamnya perusahaan ditelan kemajuan zaman kini sudah lazim. Daftar pemimpin bisnis terkemuka yang gagal melihat peringatan dini dari perubahan structural, dapat ditulis panjang.
Misal pemimpin industri pembuat kereta kuda yang tidak percaya mobil bisa mengancam dan menggilas bisnis mereka. Eksekutip Nokia amati pengajuan paten iPhone tapi abai pada “signifikansi’ akibat yang timbul sebagai ancaman bisnis.

Begitu juga pengusaha taxi yang luput pada gerak gerik teknologi online yang dimanfaatkan Uber dari New York.

Seringkali sinyal peringatan dini bukan muncul dari dalam ekosistem langsung. Melainkan dari beberapa “outlier” atau keanehan diluar sistem.

Ketika Napster muncul dengan perangkat lunak yang canggih dan algoritma yang memungkinkan orang untuk berbagi file musik online yang diikuti oleh Apple yang memproduksi ipod, ancaman pada industri berbasis cd/dvd nyata.

Kala Amazon dan Jeff Bezos membuka toko buku online, perpustakaan dan toko buku tradisional seperti Barnes & Nobel tak sadar ada dipinggir jurang kehancuran.

Kita sebagai orang bisnis memang sering melewatkan sinyal peringatan dini . Karena kita selalu berada di ketinggian terbang jelajah yang rendah. “Flying at low altitude”. Tenggelam dalam rincian operasi bisnis sehari-hari.

Kita merasa pasti bahwa masa depan ada dalam genggaman, karena kita paling berpengalaman, manusia bersumber daya berbasis iptek yang dimiliki masih solid dan “revenue stream” juga masih mengalir meski agak tersendat.

Padahal transformasi bisnis terjadi sama sekali tidak ada hubungannya soal usia perusahaan.

Juga tidak terjadi dikala down turn ataupun upswing economy. Seberapa muda atau tua perusahaan tidak penting. Yang utama tetaplah kemampuan adaptip untuk lahirkan cara efektif , berubah secara tepat waktu menyesuaikan diri pada paradigma baru dan zaman baru.

Transformasi bisnis, bukanlah sekedar soal merekrut ahli jenis baru memanfaatkan keahlian pihak ketiga atau okulasi, pencangkokan benih unggul, keterampilan baru ke organisasi yang ada.

Banyak perusahaan dimasa kini secara substansial perlu mengubah struktur,mekanisme dan tatacara bagaimana mereka dikelola , dan dipimpin serta diorganisir.

Salah satu “blind spot” yang dipandang sebelah mata adalah pendorong atau Instrumen perubahan yang merupakan pencipta disrupsi terbesar dimasa kini. Yakni kemajuan wahana matematika yang disebut algoritma dan perangkat lunak canggih terkait dengan nya.

Belum pernah terjadi sebelumnya kekuatan proses pengolahan data dan informasi telah terkomputerisasi melalui kemajuan wahana matematika algoritma ini.

Kini telah tersedia banyak variasi kekuatan prediksi pola perubahan perilaku konsumen yang terwujut dalam perangkat lunak dapat dikelola sebagai suatu oportunitas bisnis. Baik untuk kepentingan bisnis retailer, pemeliharaan kesehatan maupun operasi mesin industri dan mata rantai nilai tambah lainnya .

Kombinasi dengan kemajuan perangkat teknologi lain seperti digitalisasi, internet, mobilitas wahana broadband, sensor, dan kemampuan prosessor dalam olah data angka dan informasi yang lebih cepat dan lebih murah,

Algoritma secara dramatis mengubah struktur ekonomi global dan gaya hidup masing-masing orang . Muncul konsep “cloud computing” dan “big data”. Menyimpan Algoritma dan mesin keputusan mendorong proses olah data dengan jumlah data dalam skala petabyte, ditempat terpisah.

Dalam server yang dikelola pihak ketiga. Phenomena Big Data.
Kemampuan olah fikir manusia dan kecerdasan otak kini meningkat kapasitasnya melalui pemanfaatan algoritma. Sehingga dapat menangani problema pengambilan keputusan dengan kecepatan cahaya .

Melalui proses iterasi tanpa henti, terdapat alternatip untuk memeriksa variasi segala resiko konsekuensi pada orde kedua dan ketiga dari pilihan keputusan tertentu.

Kemudian menghasilkan output yang dapat dikelola oleh pikiran manusia untuk menerima , menolak , atau mengulang proses analisa. Sama seperti otak manusia algoritma dapat diprogram belajar dari kekeliruan hasil keputusan yang disajikannya.

Dimasa depan dapat meningkatkan kemampuan prediksi atau menelurkan alternatip keputusan yang lebih baik. Artificial intelligence dapat belajar dari kekeliruan. Semua kemajuan ini muncul dalam beberapa dekade terakhir .

Penggunaan algoritma paling menonjol sejauh ini adalah perannya yang secara radikal mengubah bisnis ritel dengan kemampuan over the top transaction melalui bisnis online seperti Taxi Uber, Grab Bike, Arnbnb dan lain sebagainya.

Kita masih terlena dalam zona nyaman. Sibuk tenggelam dalam perdebatan bagaimana caranya ikan dilaut di laut Indonesia tak dicuri bangsa lain. Fokus pada yang kasat mata.

Sementara bisnis online, over the top transaction , “perahu intangible” milik perusahaan yang dikuasai dan berpusat di negara lain, telah melenggang kangkung berlayar disamudera pasar domestik menggerogoti market share pengusaha Indonesia tanpa investasi manusia bersumber daya dan membayar pajak ini dan itu, di Indonesia.

Selain itu di Negara lain pelbagai eksperimentasi Artificial Intelligence dan Internet of Things berlangsung dengan investasi Riset Pengembangan Milyaran Dollar, di Indonesia biaya Inovasi, Riset dan Pengembangan belum menyentuh angka 1% GDP. Itupun sudah kena dipangkas karena anggapan bahwa Riset dan Pengembangan Produk dapat ditunda ketika ekonomi tumbuh. Fikiran bahwa Inovasi dan R&D adalah Engine of Growth, hilang.

Sekarang didunia pengembangan dan penguasaan teknologi, revolusi sedang memasuki tahap baru dan akan berdampak sangat luas. Kemajuan teknologi “driverless car” yang mengisyaratkan kemampuan mesin berkomunikasi dengan mesin lainnya tanpa campur tangan manusia, telah melahirkan dampak tergusurnya pekerjaan supir taksi di New York misalnya.

Di Jepang, sedang dicoba kemampuan robot untuk mengganti peran pelayan retoran di Tokyo. Bila itu terjadi pasar tenaga kerja pelayan toko dari lulusan SD, SMP dan SMK Indonesia ke negara maju makin menyempit.

Mesin memiliki kemampuan belajar melalui kecerdasan buatan dan membuat keputusan yang konsisten berdasarkan Rule and Guideline yang telah ditetapkan dan diproses melalui algoritma . Kemampuan ini telah dengan cepat berkembang menjadi hubungan potensial antara miliaran dan miliaran perangkat di Internet yang terus berkembang dari Atraksi Internet of Things ( IOT ) , yang mengintegrasikan perangkat lunak , mesin pengolah data dan perangkat keras lainnya . Atau sensor jaringan dan perangkat lunak dan mesin pengolah data.

Konsumen kini mampu menggunakan ponsel pintar untuk pengaturan lifestyle mereka. Melalui smartphone dalam genggaman , thermostat dan jaringan wifi mampu dimanfaatkan untuk memeriksa suhu diruang kantor dari dalam mobil. Menjejaki aktivitas anak anak di rumah dari mana saja melalui perangkat smartphone dan jaringan cctv .
Yang lebih canggih , manajer “supply chain” dapat memantau dari jarak jauh dan menyesuaikan proses adaptasi mesin industry yang dikelolanya.

Kemampuan komunikasi mesin ke mesin or devices to devices interaction telah meningkatkan kapasitas dan kecepatan pengambilan keputusan, atas peristiwa yang terjadi dilapangan. Perusahaan yang memiliki kemampuan matematika baru terutama dibidang algoritma ini memiliki keuntungan besar dibandingkan mereka yang tidak.

Mereka tidak hanya disebut Digital Company melainkan bisa dikategorikan sebagai Rumah Matematika. Mereka menciptakan ketidakpastian struktural untuk semua industri dan perusahaan di dalamnya . Google , Facebook dan Amazon diciptakan sebagai perusahaan digital dan rumah matematika.

Apple menjadi perusahaan digital dan rumah matematika setelah Steve Jobs kembali sebagai CEO.Tren ini akan terakselerasi dimasa depan. Kini Uber Taxi, Alibaba muncul dalam deretan konvoi yang sama.

Sementara kita di Indonesia masih senang jadi penonton dan konsumen. Ngapain repot ikuti dan kuasai teknologi. Tunggu saja dipasar kapan munculnya. Lebih baik mengotak atik dan berasyik masyuk dengan kejayaan dimasa lalu.

Kata Broery dalam lagu ciptaan Rinto Harahap : Didalam tidur didalam mimpi. Meski berbeda rasa, Aku begini Engkau Aku begitu, Meski buah nangka berdaun sirih. Sama saja……

Padahal dalam ruang kantor masing masing, secara sendiri sendiri, para Pemimpin Bisnis Tradisional disektor riel kini hidup dengan rasa takut yang konstan muncul tetapi tak terucapkan.

Ketakutan bahwa kodrat industri mereka tiba-tiba bisa berubah. Mereka tidak akan sempat melihat perubahan datang. Sebab ia hadir tiba tiba dan datang menyergap. Seperti kambing yang terpana saat harimau mengaum dan menerkam dalam hitungan detik.

Kini para industriawan terutama di Indonesia hidupnya seperti pedagang kaki lima di pasar. Penuh ketidak pastian. Selalu berfikir kapan pasukan Tibum akan menggusur lapak mereka.

Pedagang di pasar Klewer misalnya, meski kiosk nya baru dibangun akan ketar ketir kapan saatnya mall modern menghilangkan kesempatan bisnisnya.

Sementara owner mall modern akan terus bertanya, bilamana bisnis mereka bangkrut diganti toko online Amazon yang beroperasi lintas negara. Pengusaha taksi tradisional selalu bertanya tiap detik kapan kiamat kecil hadir.

Bisnis taksi tradisional dengan supir dan perusahaan yang dikelola sendiri akan hilang dari peredaran diganti taksi pelat hitam yang dikelola dari New York bernama Uber Taxi. Industri Telkom juga begitu. Early warning ancaman Google yang berpusat di Amerika dengan ekspansi eksperimen balloon dan “driverless car” nya belum diantisipasi.

Semua orang menyatakan itu hal biasa dan kita aman aman saja.
Ada keluhan yang muncul dengan pertanyaan menarik begini :” Mengapa “Policy adjustment” dalam bentuk paket ekonomi dengan banyak iilid yang tadinya diharapkan dapat menjebol tembok regulasi yang menghalangi tumbuh berkembangnya Industri Nasional, kini seolah telah melenceng dari arus fikiran awalnya.

Yang terjadi dilapangan seolah keinginan menjebol benteng pertahanan industri dalam negeri, dan membuat pasar domestic kita jadi tak ramah pada produk dalam negeri sendiri, Dengan pelbagai paket kebijakan yang intinya adalah langkah liberalisasi 100 % tanpa “proteksi dan gate keeper”.

Ada trend menguat, menerapkan kebijakan yang seolah memberikan peluang besar bagi yang ingin berinventasi infrastruktur sendiri.
Akan tetapi bagi mereka yang telah punya investasi infrastruktur di Indonesia , bisa tidak beroleh kesempatan Return on Investment atas pembangunan infrastruktur yang dilakukannya dimasa lalu.
Mixed Signal. Fokus pada teman yang baru, lupa sahabat lama yang setia.

Dalam situasi seperti begini, bukan tidak mungkin, investor lama jadi Gigit jari. Pasar yang dikembangkan dan infrastruktur yang telah dibangun setahap demi setahap dalam program “multiyear”, ditelan pesaing yang datang melenggang melalui serangan udara. Baik melalui bisnis online, maupun aturan yang datang tiba tiba tanpa permisi. Hal sama dialami oleh industriawan tekstil, pengusaha batik tradisional dan lain sebagainya.

Tanpa perencanaan strategis yang dibarengi perubahan visi dan alokasi sumber daya, Kegelisahan diam diam yang dipendam bisa merayap jadi “uncertainty”.

Dalam situasi stagnasi kita tidak bisa hanya bertumpu pada insting indera keenam. Tidak bisa keputusan untuk berkata “wait and see”, terus didengungkan tanpa antisipasi dan perencanaan tindakan nyata dalam perusahaan. Sebab ketidakpastian apa yang ditunggu, mana yang dillhat kalau ditanya akan tambah bikin bingung.

Perlu perencanaan strategis dan tindakan nyata yang sistimatis untuk Flying High. Terbang lebih tinggi, agar Ancaman tak kasat mata diam diam seolah hadir dibawah kaki, dapat menghilang.
Sebab kalau tak begitu kata orang Medan:”Takut awak “Belanda” menyergap dileher tanpa permisi”. Oh mak Jang, …

Mudah2an saya keliru. Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: