//
you're reading...
Creativity, Ekonomi, Entrepreneurship

Inovasi adalah Upaya Menemukan “Blind Spot” untuk bertemu Keindahan Solusi

Jusman Syafii Djamal
September 9, 2016

Teknologi ditemukan sebagai solusi atas problema yang lahir. Inovasi muncul jika kita bertemu jalan buntu. Akuisisi Teknologi lahir karena kita ingin berdiri diatas kaki sendiri, agar masalah yang dihadapi dapat diatasi dengan kemampuan diri sendiri. Lagipula keahlian menguasai teknologi diperlukan sebab teknologi sebagai solusi masa kini mungkin akan muncul sebagai problema dimasa depan. Begitu juga inovasi diperlukan sepanjang waktu. Tanpa Inovasi dan Penguasaan Teknologi tak mungkin kita memiliki sumber mata air pertumbuhan ekonomi.

Akuisisi Teknologi dan Inovasi adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Tak mungkin lahir inovasi tanpa pemahaman dan penguasaan tentang kemajuan Ilmu pengetahuan dan Teknologi.

Akan tetapi menguasai teknologi atau akuisisi teknologi tidaklah mudah. Begitu juga memiliki keahlian sebagai innovator bukan juga tugas sederhana. Diperlukan ruang imajinasi dan keterampilan untuk berkesperimentasi serta persistensi atau kegigihan. Thomas Alva Edison mengatakan diperlukan 1% Inspirasi dan 99% Perspirasi, keringat mengucur diatas kesungguhan dan kerja keras. Bukan keringat yang mengalir karena sehabis makan sambal balado yang pedas dan enak.

Diperlukan keahlian untuk memberi inspirasi dan mengelola pelbagai disiplin pengetahuan untuk bertemu penguasaan teknologi. Jalan menuju Kemandirian Bangsa banyak onak durinya.Salah satunya adalah kendala untuk membangkitkan Daya Kreativitas dan Ruang imajinasi yang seringkali menyempit, karena pelbagai kendala dilapangan. Ada kendala birokrasi, “regulation wall”, juga Manusia Bersumber Daya Iptek yang terbatas jumlahnya.

Ada juga kendala yang timbul karena keterbatasan personal dalam proses pengambilan keputusan. Orang menyebutnya ego sektoral. Ingin bertemu inspirasi yang muncul kabut penutup kunci solusi. Kita bertemu “blindspot” , pandangan mata keliru yang membuat ruang solusi kehilangan makna.

Dalam hal ini ada baiknya saya share pengalaman menarik dipagi ini, mudah mudahan bermanfaat :
Hari ini tgl 8.9.16, pagi jam 530 saya sudah keluar rumah. Sebab jam 8 saya akan hadiri undangan pak Menhub Budi Karya. Beliau untuk pertamakali sebagai Menhub melantik Perwira Transportasi Darat Laut dan Udara. Acara dipusatkan di STPI Curug. Beliau menjadi Inspektur Upacara. Beruntung ditengah jalan saya bisa ikuti konvoi mobil beliau, jadi tidak terjebak macet.

Jam 8 tepat upacara dimulai. Dibawah panas matahari pagi dipinggiran landasan bandara Budiarto Tangerang, 2000 lulusan Sekolah Tinggi Penerbangan, Darat, Laut serta Sekolah dibawah kendali Badan Pengembangan SDM Kemenhub dilantik dalam satu upacara. Megah dan meriah. Para orang tua , ayah ibu sanak saudara hadir memenuhi hanggar pesawat. Ada kurang lebih 5000 pasang mata terlihat berseri gembira. Menyaksikan keberhasilan putra putri yang dicintai nya lulus sekolah dan dilantik jadi Perwira Transportasi.

Air mata mereka menetes ketika menyaksikan putra putri mereka mencium bendera Merah Putih sebagai tanda komitmen dan tekad mengabdikan semua kemampuan dan keahlian serta fikiran mereka untuk kejayaan Indonesia. Acara turun temurun , berlangsung setiap tahun untuk mengingatkan pesan Menteri Perhubungan masa lalu ir H. Juanda yang dikenal sebagai Deklarasi Juanda. Sungai , Danau dan laut bukanlah pemisah daratan. Melainkan perekat kesatuan wilayah NKRI.
Upacara cium bendera yang muncul setelah disematkan kalung tanda lulus oleh Pak Budi Karya selaku Menteri Perhubungan sekaligus Inspektur Upacara.Acara ditutup dengan penampilan kesenian bermain Marching Band dan Drumb Band. Ada juga Reog Ponorogo dan Tari Saman yang dikemas bersama drum, terompet dan tambur. Menyenangkan lihat keterampilan dan yang lebih utama kelenturan para siswa dalam berakrobat menggigit tambur dan juga bermain Reog.

Lagu terakhir yang disajikan adalah Merah Darahku karya Gombloh dan Tanah Air. Drumb Band Sekolah Tinggi Transportasi Darat memainkannya dengan apik. Apalagi sebelumnya mereka menampilkan sebuah lagu Deep Purple yang bikin saya bernostalgia tentang masa tahun 70 an. Judulnya Smoke on the water.
Kurang lebih liriknya berbunyi :
We make a place to sweat/ No matter what we get out of this /I know we’ll never forget Smoke on the water, fire in the sky /
Lirik yang bisa disadur begini : Kita akan ciptakan sebuah wilayah yang begitu menarik dan indah. Apapun yang terjadi dan dihasilkan disini. Aku tau kita semua tidak akan lupa. Asap yang bergulung menari diatas air, api yang menyala dilangit. Semua meninggalkan kenangan…

Smoke on the water yang kemudian diikuti lagu Tanah Air dan Merah Darahku karya Gombloh. Nadanya riang gembira, menghentak jiwa tapi pesannya amatlah dalam.Tiga Lagu ini seolah memberi pesan pada para mahasiswa dan alumni yang hari ini dilantik sebagai Perwira Transportasi untuk tak melupakan Tanah Airnya. Bendera Merah Putih yang dikibarkan selama pendidikannya.

Itu juga pesan pak Budi Karya, Menhub selaku Inspektur Upacara dalam pidato sambutannya. Beliau memesankan spirit Nasionalisme dan semangat bela kepentingan kesatuan wilayah darat,laut,dan udara Negara dalam mengembangkan konektivitas, keterhubungan di 17000 pulau Nusantara ini, melalui Sisim Transportasi Nasional.

Smoke on the water, asap yang menari diatas permukaan air. Api yang menyala dilangit biru, seperti kata lirik lagu Deep Purple itu diwaktu muda selalu dijadikan spirit menyala untuk menciptakan pengalaman menarik, lokasi yang indah, persahabatan yang penuh kenangan. Dimasa kini, bisa juga diinterpretasikan sebagai spirit yang muncul dalam ruang imajinasi untuk mengembangkan dan mencari tempat indah penuh kenangan. Tempat dimana sebuah aktivitas bisnis memiliki peluang untuk menghasilkan “margin EBITDA” yang tinge.
Smoke on the water, kabut asap yang menutupi permukaan air, dapat saja mengisyaratkan tentang kendala. Keterbatasan pandangan melihat masa depan. A fog of war kalau ambil istilahnya Claustwitz. Yang menyebabkan proses pengambilan keputusan memerlukan tatacara dan kecermatan.

Saya jadi ingat dialog saya satu tahun lalu pada tanggal yang sama dengan teman lama saya Pak Adiwoso. Beliau bercerita tentang kisah seorang Maha Guru yang memberi tugas atau pekerjaan rumah pada mahasiswa disebuah Universitas ternama.

Profesor mengajarkan “decision making science”, ilmu pengambilan keputusan. Suatu hari ia ingin menguji para mahasiswanya dengan sebuah eksperimen sederhana. Ia mengambil beberapa bungkusan kopi yang paling enak, baunya membangunkan selera, rasa kopi sudah merayu untuk diteguk. Ada pelbagai kopi terbaik dari daerah Sumatera, Kopi Gayo, Kopi Mandailing dan Kopi Toradja, tersedia. Ia ingin menguji mahasiswa untuk memilih salah satu. Sebab fondasi dari pengambilan keputusan adalah memilih satu dari sekian alternatip.

Kemudian Maha Guru itu juga mengambil pelbagai jenis cangkir berbagai ukuran dan berbagai kualitas. Ada cangkir yang terbuat dari kristal ada yang keramik dan ada cangkir dari gerabah.Kopi dengan pelbagai versi dituang dimasing masing cangkir, dan mahasiswa diminta memilih kopi dalam cangkir mana. Pertanyaan nya sederhana, mana pilihan cangkir yang berisi kopi paling sedap dan enak.

Kebetulan mahasiswa yang hadir berjumlah sepuluh orang. Oleh Profesor, masing masing mahasiswa diminta memilih kobinasi cangkir dan kopi. Pertanyaannya simple : Mana kopi yang paling enak, pada cangkir yang mana. Yang menarik semua tangan menuju satu titik.Semua mahasiswa membuat target yang sama memilih kopi yang ada dalam cangkir kristal. Tak ada yang memilih kopi dalam cangkir gerabah.
Profesor minta mahasiswa ambil cangkir yang dipilih. Perebutan terjadi , gelas kristal jatuh bersama isinya bubuk kopi yang berantakan kepingan kristal berceceran dilantai. Profesor kemudian menjelaskan makna arti “trade off” dalam proses pengambilan keputusan. Pilihan tunggal dalam satu lokasi akan menyebabkan barang menjadi langka dan kompetisi berubah menjadi perebutan komoditi yang sama.

Profesornya bilang begini : Cara mengambil keputusan model begini yang menyebabkan kalian tidak lulus ujian. Banyak pilihan cangkir, dan banyak pilihan kopi tetapi mengapa yang kalian pilih cangkir yang paling mahal yakni yang terbuat dari kristal. Padahal yang saya minta adalah memilih jenis kopi yang paling enak, bukan cangkir yang paling bagus ?

Dalam pendidikan apapun jenisnya sebetulnya aktivitas belajar mengajar selalu diarahkan agar para mahasiswa mendapatkan dasar dasar proses pengambilan keputusan yang baik dan benar berdasarkan pada keterampilan penguasaan iptek.

Akan tetapi sering kali mahasiswa tidak fokus dalam mengerjakan soal soal yang diberikan oleh Maha Guru nya. Fokus nya terpecah belah, antara kehendak, harapan dan persepsi yang membuat mereka terperangkap dalam “blind spot”. Tidak fokus pada pemilihan “coffee” terenak atau substansi masalah yang dihadapinya nya melainkan pada bungkusnya. Merebut cangkir kristal bukan kopi terenak yang seharusnya jadi fokus.

Itulah yang kita hadapi sekarang dimasa ekonomi sedang melambat diseluruh dunia ini. Banyak tangan merebut sesuatu yang bukan substansi. Miss the target. Kehilangan arah tujuan. Mana substansi mana bungkus menjadi kabur. Seolah kita membidik target yang bergerak. Otak mengolah niat dalam fikiran mau minum kopi, kaki tangan melangkah menuju cangkir. Kepala Badan lepas dari kaki tangan. Kepala Badan mau minum kopi, Kaki tangan mengejar cangkir kristal.

Inilah tanda tanda krisis dalam proses pengambilan keputusan dari tiap hirarki dalam organisasi yang harus dihindari,Terutama disaat seperti hari ini dimana “dunia menghadapi masalah, bukan Indonesia” Ditiap organisasi diperlukan soliditas untuk membangun synergi. Kata Napoleon in Time of crisis Unite. Dalam masa krisis yang utama adalah kesatuan dan persatuan. Pimpinan dan staff serta anak buah harus berkordinasi, terintegrasi dan tindakan nya saling sinkron ikuti blue print dan rantai komando. Jangan sampai pimpinan puncak pada level strategis menetapkan target tinggi untuk memotivasi. Sementara manajer satu layer dibawah punya persepsi dan kehendak sendiri. Ia berimprovisasi menggiring bola, dan menggoreng target kesana kemari sambil mencoba mereka reka apa motif pimpinan menetapkan target untuk dibahas masuk akal tidak.

Ini banyak kita temui ketika Semua staff diminta rapat tak kunjung putus untuk membahas garis kebijakan pimpinan. Kadangkala rapat 24 jam sehari, 7 hari seminggu, tak juga menghasilkan tindakan nyata. Yang muncul malah kritik dan rekomendasi agar keputusan direvisi atau diubah disana sini. Akibatnya yang menderita akhirnya semua pihak yang terkait dengan keputusan itu. Begitu juga staff yang berada dilapangan terus bingung menunggu mana target yang dikejar. Ada “mismatch” antara Apa target pimpinan puncak dengan target ketua rapat.

Biasanya jika ada ketidak selarasan antar pimpinan, tentu para pekerja sambil mengusir waktu akan menjalankan aktivitas rutinnya. Mereka seolah bermain bola dengan target gawang sendiri sendiri. Terjebak dalam “blind spot”. Memilih target yang menyenangkan buat mereka sendiri. Dengan alasan lebih baik produktip daripada nganggur.

Hal sama bisa terjadi pada perusahaan atau wilayah pertumbuhan ekonomi yang berjalan tanpa target jelas dan pasti. Jika terjadi ketidak pastian dan perubahan sasaran yang berlangsung sepanjang waktu, pastilah yang ingin berpartisipasi dan berinvestasi untuk bangun kerjasama ikut bingung ambil posisi dan inisiatip.
Mereka yang bingung akan jadi pemain orkes melayu sabar menanti.
Ambil sikap wait and see. Menunggu kapan target yang ingin dicapai ditetapkan benar tidaknya. Karenanya dalam mata kuliah pengambilan keputusan kita belajar menetapkan target dengan tepat dan benar. Tidak boleh ngalor ngidul. Jika ada sasaran bergerak tentu wahana yang digunakan juga berbeda. Karenanya dalam teori pengambilan keputusan tidak diperkenankan keputusan berubah sepanjang waktu. Hari ini sasaran diarahkan ke utara, besok hari keselatan.

Ada hukum besi yang berlaku dalam menjalankan roda organisasi: “Jangan biarkan kaki tangan, lepas dari kepala badan”. Dalam hal ini ingatan berputar pada pelajaran dimasa lalu, banyak senior di TNI yang baru lulus Sesko selalu bilang begini :”ditengah situasi tak menentu, pegang rantai komando. Ini adalah tupoksi utama Leadership. Memastikan bahwa mata rantai commando dan rentang kendali berjalan semestinya.

Dalam menjalankan roda organisasi betapapun sukarnya situasi jangan lupa pedomani rumus sederhana KISS, Kordinasi Integrasi, Sinkronisasi dan Synergi”. Hanya Kordinasi melahirkan Integrasi, Hanya Sinkronisasi mememunculkan Synergi.Pelajaran dan rekomendasi tentang synergy, kordinasi, integrasi dan siinkronisasi yang pagi ini saya saksikan dalam upacara wisuda Perwira Transportasi Darat,Laut dan Udara.

Keindahan lagu smoke on the water berisi pesan untuk kita membangun dan menciptakan Wilayah yang menyenangkan semua orang, agar kita tidak melupakan Tanah Air dan Bendera Merah Putih lahir karena KISS. Kordinasi, Integrasi, Sinkronisasi dan Synergi. Yang dikemas apik dalam koreograph karya seni berupa pertunjukan Reog, Marching Band dan Drum Band , Rampak Kendang dan Tari Saman para demain drum.
Indah menarik dalam haromonisasi dan Synergi. Dimana Kepala, Badan, Kaki Tangan dan Olah Fikir bersatu dalam jiwa.In Harmonia Perfectia kata motto NASA. Harmoni hanya tercipta dalam kesempurnaan karya cipta. In Harmonia Progresio kata Motto Institut Teknologi Bandung, Harmoni tercipta dari kemajuan yang dilahirkan dengan kerja keras dan keahlian setiap orang.

KISS dapat juga berarti Keep It Simple Stupid. Jangan bodoh hadapi masalah rumit. Temukan definisi masalah secara sederhana. Fokus pada “substansi” jangan pada bungkusnya. Tidak heran dalam upaya menemukan akar masalah kita dikenalkan pada metode “fishbone”, kerangka tulang ikan untuk menelisik mana sebab mana akibat. Begitu juga “metode fault tree diagram”, diagram pohon kesalahan untuk memilah mana fakta yang membimbing kita pada akar masalah, mana peristiwa yang merupakan turunan dan bukan akar masalah.
Definisi masalah yang tepat dan sederhana akan melahirkan solusi cespleng. Tidak sekali jadi tetapi dalam mata rantai tindakan penyelesaian persoalan secara baik dan benar, tepat sasaran dan tuntas. Melalui solusi yang tepat kecepatan tindakan menjadi kata kunci, agar masalah dapat di”Contain” atau tidak melebar kemana mana jadi efek domino.

Karena itu salah satu aktivitas yang penting dalam program akuisisi teknologi dan inovasi adalah menemukan “blind spot”, mencari yang tersembunyi dibalik smoke on the water” seperti kata Deep Purple. Agar kita mampu menemukan dan menciptakan “keindahan solusi diujung lorong yang gelap disana”

Mohon maaf jika tulisan ini terasa kurang sempurna,maklum diketik langsung didalam mobil ketika saya sedang dalam perjalanan menuju jakarta, sehabis acara selesai. Jam saya menunjuk angka 1150. Diunggah melalui internet yang ada di tilpon genggam yang bisa ditransformir jadi hot spot , mobil wifi nya Telkomsel anak perusahaan Telkom Tbk.

Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: