//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Perubahan

Evan Almighty: Act of Random Kindness (ARK)

Adriano Rusfi

Anda ingin mengubah dunia, dan anda ingin melakukan itu via kekuasaan ? Saya rasa anda perlu menonton “Evan Almighty”

Evan Baxter (diperankan oleh Steve Carell) ingin melakukan itu. Maka ia berpindah dari seorang reporter TV menjadi seorang anggota Kongress Amerika Serikat. Dan ia selalu berteriak dalam kampanyenya : “Aku akan mengubah dunia !!!”. Lalu iapun berpindah ke dunia yang lebih berdaya, dunia yang lebih memungkinkannya untuk berbuat lebih. Ia kini punya mobil mewah, rumah mewah dan kawasan mewah. Di Gedung Capitol, tempat para perubah mudah memain-mainkan kekuasaan, maka iapun punya kuasa untuk mengubahnya.

Namun, sebelum tidur istrinya mengingatkannya : ia butuh doa dan Tuhan untuk mengubah dunia. Dan di kegelapan malam itu, ketika istrinya tertidur dan lampu telah dimatikan, iapun berdoa di sisi pembaringan : “Tuhan, bantu aku mengubah dunia…”. Dan itulah “salahnya” Evan : ia meminta Tuhan turut campur. Artinya, sadar atau tak sadar ia harus menerima logika dari Yang Maha Tahu tentang cara mengubah dunia, yang boleh jadi akan sangat berbeda dengan logika politik manusia yang serba terbatas namun sok tahu ini.

“Celakanya”, doanya terkabul. Tuhan (diperankan oleh Morgan Freeman) mendatanginya. Evan bahkan Ia berikan seperangkat realitas anti logika kekuasaan dan perubahan : peralatan pertukangan kuno (bukan teknologi canggih), kayu-kayu gofir masa lalu (bukan racikan-racikan metalurgi yang hi-tech), rambut-cambang-janggut lebat (bukan penampilan klimis-elegan-berkelas ala salon), jubah lusuh (bukan satu set adibusana bergaya kontemporer karya butik ternama yang mampu mengungkit karisma politik dan daya tawar), dan sebuah lahan kosong delapan petak (bukan sebuah infrastruktur lengkap dengan hardware, software, man, money and material kelas wahid).

Ia diminta untuk membangun sebuah bahtera : ARK. Ya, persis Nabi Nuh as. Tuhan telah mentahbiskannya untuk menjadi Noah of New York. Aneh, Evan ingin bergerak ke depan, tapi Tuhan memerintahkannya untuk bergerak ke belakang. Tuhan seakan ingin mempermalukannya. Betapa tidak : jangankan banjir, bahkan ramalan cuaca telah “memastikan” bahwa tak akan ada hujan enam bulan ke depan. Ia tak diminta untuk mengubah dunia, tapi sekadar untuk menyelamatkan hewan sepasang demi sepasang. Ia kini telah menjadi antitesis dari Chuck Long (diperankan oleh John Goodman), seorang Senior Congressman yang piawai bersiasat bagi perubahan dan kekuasaan. Logika kemanusiaan Alan Baxter berusaha melawan sepenuh daya. Namun Tuhan “terlanjur” Maha Tahu dan Maha Kuasa.

Lalu, pasukan digdaya macam apa yang diutus Tuhan untuk membantunya ? Hanya sebuah keluarga. Ya, hanya keluarga berkapasitas seorang istri dan tiga anak. Seakan Tuhan telah memastikan : jika engkau ingin mengubah dunia, yang kalian butuhkan hanyalah keluarga. HANYA ITU !!! Lalu mereka membangun bahtera di bawah siraman ejekan, dan bully oleh media tayang. Bahtera itu akhirnya selesai juga bermodal dua kekuatan dahsyat : iman pada Tuhan dan saling percaya antar keluarga.

Akhirnya, janji Tuhan terbukti. Kecurangan politik anggaran telah membuat bendungan Long, dekat Prestige Creek, jebol. Bahtera Evan “Noah” Baxter yang nyaris dihancurkan karena dianggap mengganggu, kini mengalir di atas arus keserakahan, bukan terseret hancur di dalamnya. Ia dan keluarganya selamat, karena percaya bahwa Tuhanlah Yang Maha Tahu “cuaca” masa depan. Ia akhirnya mampu mengubah konstelasi dunia, diawali dari perubahan cara pandangnya tentang dunia dan perubahan itu sendiri. Ya, mana mungkin mengubah dunia tapi dengan cara pandang duniawi.

Ah, Evan Almighty mengajarkan kita dengan cara sangat bijak tentang cara mengubah dunia. Bukan dengan cara-cara duniawi, tapi justru dengan cara beyond the world. Kekuasaan sejatinya tak mengubah dunia, karena ia terlalu lama terperangkap dalam keraknya dunia. Kekuatan sebuah keluarga yang dididik dengan baik, jauh lebih digdaya daripada sejuta pasukan bersenjata. Mengubah dunia justru dimulai dari kemampuan untuk mengubah paradigma, walau harus dituduh sebagai gila. Karena sesuatu yang extraordinary memang tipis bedanya dengan disorder. Dan pada akhirnya adalah sebuah ARK. Bukan semata-mata sebuah bahtera, tapi kebaikan-kebaikan kecil yang dijalankan secara spontan : Act of Random Kindness

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: