//
you're reading...
Creativity, Entrepreneurship, Perubahan

Batas Gerak Maju Inovasi

Jusman Syafii Djamal
7 Sep 2016

Inovasi memerlukan ruang manuver. Dalam ilmu perancangan pesawat terbang, baik pesawat tempur militer maupun komersial ada istilah “Flight Envelopve”. Batas gerak maju kekuatan struktur menampung kehendak pilot untuk bermaneuver. Jika tingkah laku pesawat terbang meliwati batas itu pastilah terjadi kerusakan struktur. Pesawat akan jatuh berkeping keeping. Karenanya Pilot memerlukan proses uji keandalan terbangnya untuk menguasai “flight envelope” setiap jenis pesawat terbang yang dikenderainya.

Karenanya Inovasi memerlukan strategi. Secara historis strategi dan inovasi adalah dua disiplin pola fikir berbeda. Kata strategi selalu bermuara pada segala daya upaya untuk menemukan “favorable position”.Bertarung memperebutkan Shih kata Sun Tzu, tempat tertinggi yang tepat dan benar agar pasukan panah menembak tepat sasaran. Upaya menemukan acuan posisi dan waktu agar alokasi sumber daya yang dimobilisasi untuk mencapai tujuan dapat melahirkan “a long term competitive advantage”.

Sementara kata inovasi berarti daya upaya melahirkan ceruk pasar baru, posisi baru, bisnis portofolio baru yang berbeda dari “core competencies” masa kini. Untuk menang diruang persaingan baru masa depan. Baik kata strategi maupun inovasi secara tradisional diperlakukan sebagai dua area berbeda.

Tiap perusahaan sering kita lihat memiliki departemen terpisah. Ada Departemen yang khusus mengembangkan “strategy and corporate planning dan “future scenario”. Ada departemen focus pada Riset dan Pengembangan Inovasi. Yang satu pekerjanya selalu berdasi, rapi dan klimis ikut seminar disana sini, presentasi tentang future trends dengan maksud menambah wawasan. Yang lain staffnya selalu terlihat nerdy, rambut gondrong, pake jeans dan kaos mondar mandir dengan segala jenis model inovasi di laboratorium. Kedua type pekerja selalu terlihat terpisah dalam dunianya, tapi tujuannya satu menemukan jalan untuk membuat “keunggulan kompetitip” .

Yang satu merupakan kelompok pemikir. Thinker. Dengan arus utama pola fikir bersifat makro policy. Andalan teori nya adalah Mazhab “Five Forces Analysis” Michael Porter atau “Boston Consultant Group Growth Share Matrix for analysing Corporate Portfolio” serta “Hamel and Prahald’s Core Competencies”.

Yang grup lainnya disebut Tinker, tanpa h. Mereka focus pada masalah bersifat teknis dan mikro. Suka berekspriemntasi dengan produk. Otak atik, teardown, mempreteli produk orang lain sampai mendetail. Berupaya menemukan “mata rantai nilai tambah” yang lebih efisien, lebih produktip. Fokus pada terobosan tatacara baru dan produk baru. Tinker.Fokusnya adalah Efisiensi dan Produktivitas.

Menemukan tatacara kerja lebih ramping, dengan waste lebih sedikit, agar material dasar yang dipunyai bisa disubstitusi dengan material bekas pakai (reuse) atau hasil daur ulang (recycle). Orientasinya pada proses baru, produk baru dan biaya yang lebih efisien. Process Innovation, Product Innovation and Cost Innovation. Satu grup bergerak pada wawasan baru, grup lainnya pada kawasan baru.

Melalui dua grup ini “Board of Director” mengambil keputusan, memilih jalan terbaik dari opsi terbaik. Competitive Advantage jadi langgeng. Perusahaan yang No 1 tetap jadi no 1. Yang kalah tetap berada dibelakang. The Winner takes all jadi kenyataan.

Akan tetapi kini peta bisnis bisa berubah dalam semalam. Pecundang tiba tiba bisa jadi pemenang lomba. Yang diperkirakan kalah, ternyata ketika semua yang kalah dan para pecundang bersatu, yang menang bisa kehilangan posisi. Persaingan masa kini bisa merubah prinsip “the winner takes all” menjadi prinsip “the looser create looser”.

Persaingan berubah menjadi perjudian nasib. Seperti ikut lomba “Russian Roulet” yang dapat ditonton dalam film Deer Hunter tahun 80 an. Dimana seorang prajurit perang vietnam ikut taruhan Russia. Mengosongkan peluru Pistol Colt, dan tinggal satu. Kemudian rak peluru diputar sampai bunyi klik. Moncong ditaruh dikening. Dan klik, keberuntungan dan nyali diuji. Nasib baik peluru tak meletus, magajin berputar ditempat kosong. Jika nasib lagi apes, klik dor, kematian.

Kita bisa heran kalau menyaksikan tivi saat ini bagaimana para pecundang bergembira, pemenang jadi penonton diluar gelanggang, tak ikut main dalam proses persaingan. Rule enggagement, aturan main bisa diputar ulang oleh perubahan situasi. Kemenangan bisa bersfiat sementara.

Fenomena ini yang kemudian oleh Rita Gunter McGrath diulas dan dianalisa. Profesor Columbia Business School sebagai salah satu “leading expert” in higly uncertain and volatile environments.Rita menulis buku tahun 2013. Judulnya The End of Competitive Advantage. Penerbitnya Harvard Business Review.

Prof Rita mengulas tentang akhir dari kata Keunggulan Kompetitip. Saya menyebutnya “batas gerak maju teori keunggulan kompetitipnya Michael Porter.

Ada lima “inistiatip strategy” yang disarankan oleh hasil riset yang dilakukan Prof Rita, yakni :

Pertama : Mindset tentang “Keunggulan Kompetitip” yang langgeng dan tanpa ancaman, kini harus diputar balik. Ancaman selalu hadir tanpa diundang. Keunggulan Kompetitip bersifat sementara. Peta persaingan bisa berubah seketika. Typhoon perubahan tingkah laku pasar bisa terjadi kapan saja. Keunggulan Kompetitip memiliki batas gerak maju dan ada masa kadaluarsa yang semakin hari semakin pendek.

Katanya :”Competitive advantage is temporary position. Always in transient.” Karenanya keahlian pemimpin untuk memusatkan perhatian atau Fokus pada upaya untuk menemukan postur organisasi mampu beradaptasi, menemukan keseimbangan antara Stability and Agility. Stabilitas dan Kelincahan gerak, menjadi penting.

Ia menganjurkan apa yang disebutnya dengan istilah “Continuous Reconfiguration : Achieving Balance between Stability and Agility”. Kata Rekonfigurasi yang ia maksud adalah merubah mindset berfikir dari :”Extreme downsizing and restructuring” to “continuous morphing and changing”. Jangan tunggu perusahaan bangkrut dan hancur baru melakukan perubahan ekstrim melalui downsizing dan restructuring.

Melainkan tiap tahun harus lakukan perampingan dan pembenahan serta perubahan. Dari cara fikir “narrowly defines jobs and roles” menjadi “fluidity in allocation of talent”. Dari “stable vision with monolithic execution into Stable vision with variety of execution”.

Kedua : Healthy Disengagement. Tak ragu untuk berpisah pada kenyamanan keunggulan masa lalu. Ini adalah saran kedua yang Prof Rita berikan. Ia bilang Buku texts tentang strategy and innovation kini penuh dengan ide segar dan baru yang dapat dilakukan para pemimpin. Akan tetapi semuanya bermuara pada satu kata “Tidak ada satu buku text pun yang bercerita tentang “Stop doing a new thing”.

Dalam dunia penuh perubahan cepat, sikap nyaman dan aman dalam fase keunggulan daya saing, bersifat sementara. Perlu dbangun sistem dan mekanisme “early warning”. Ia menyatakan :” in a world of temporary advantage, stoping thing — exiting declining advantage — ie every bit as critical as starting thing.

Dalam zaman dimana keunggulan kompetitip bersifat sementara dan tidak langgeng seperti saat ini, berhenti mengerjakan segala seuatu yang tidak menghasilkan pertumbuhan bisnis sama pentingnya dengan aktivitas menciptakan bisnis baru. Semua aktivitas yang tidak menunjukkan “growth potential” or perhaps competitors have made them a commodity or perhaps they have few growth prospects, harus segera dihentikan.

Mindset :pertahankan benteng sampai titik darah penghabisan atau “defending an advantage to the bitter end” harus diubah menjadi mindset “ending advantages frequently, formally and systematically”. atau mindset berfikir :”exits occur unexpetedly and with great drama” harus diubah menjadi :”Exits occur in a steady rhytm”.

Ketiga : Using Resource Allocation to promote Deftness. Perusahaan yang memiliki paradigma “competitive advantage” bersifat langgeng tak tergoyahkan berbeda dengan perusahaan berpola fikir “competitive advantage” bersifat sementara. Terutama dalam mengelola dan tatacara alokasi sumber daya.

Pada perusahaan dengan prinsip keunggulan kompetitip bersifat langgeng selalu mengalokasikan sumber daya secara rigid, penuh prosedur birokratis, dan selalu berupaya menemukan skala ekonomis untuk menemukan efisiensi biaya. Volume besar, Pasar besar, Keuntungan yang tetap sepanjang waktu menjadi kriteria utama dalam alokasi sumber daya. Memindahkan alokasi sumber daya dengan demikian tidak mudah. Harus ada persetujuan berjenjang dan bertingkat.

Akan tetapi perusahaan dengan paradigma Keunggulan Kompetitip bersifat sementara, menempatkan soal alokasi sumber daya sebagai kunci kemajuan. “Allocate resources to promote what we call deftness — the ability to reconfigure, and change process with a certain amount ofe ease, quickly”. Menemukan metode alokasi sumber daya yang mudah dipindah pindahkan dan direkonfigure secara cepat seperti mainan lego.

Mindset : “Resources held hotages in business units” dirubah menjadi “Resources under a central governance mechanism”. Mindset Ownership of Asset diubah menjadi Access to Assets. Mindset :”squeezing opportunities into the existing structure” diubah menjadi “Organizing assets around opportunities.

Keempat : Building an Innovation Proficiency. Dimasa lalu Inovasi merupakan mata rantai aktivitas bersifat episode. Tiap episode mengikuti satu siklus hidup. Ada episode inovasi untuk menanam benih lahirkan embryo. Ada masa menyemai hasil. Ada masa bercocok tanam dan ada masa memetik. Jadi kegiatan inovasi dikelola terpisah oleh kelompok ahli yang memiliki “skill set New Product Development”.

Kini inovasi ditempatkan berbeda. Inovation is on going, systemic process not episodic. Dulu kegagalan dianggap sebagai bencana yang harus dijauhkan. Karenanya inovasi direncanakan secara terpusat dan dibuat untuk tidak gagal. Mitigasi dan analisa resiko dibuat jelimet agar tidak terjadi alokasi sumber daya untuk kegiatan inovasi. Inovasi dipandang sebagai ancaman yang bikin “cashflow bleeding”. Takut gagal jadi kata kunci memotong inisiatip.

Kini mindset itu diubah menjadi :”Inteligent failure encourage”. Mendorong kegagalan menjadi kecerdasan. Ada ekosistem untuk belajar dari kegagalan. Kegagalan dijadikan investasi.

Karenanya perencanaan program dalam proses inovasi diubah menjadi lebih berorientasi pada upaya menciptakan banyak “eksperimentasi” untuk memperbesar ruang maneuver suatu produk baru. Menemukan batas gerak maju, agar tiap produk mampu menjadi platform bisnis masa depan. Disebut perencanaan dengan “experimental orientation”. Keahlian untuk menemukan tatacara kerja baru, proses produksi baru, produk baru dikembangkan disetiap lini. Innovation Proficiency dikembangkan dengan model kerja “Revisiting the growth outlier”.

Kelima : Kini “The Leadership and Mindset of Companies Facing Transient Advantages”. Kepemimpinan dan mindset perusahaan selalu berhadapan dengan keunggulan kompetitif bersifat sementara. Tak ada kunggulan daya saing bersifat langgeng. Setiap saat lahir ancaman tak terduga dari perusahaan lain atau produk baru merusak “market share. “Zona Nyaman” bersifat sesaat.

Persaingan datang seperti air bah. Bisa menelan setiap perusahaan seketika. Yang lelet dan berleha leha tenggelam ditelan zaman. Kemenangan dan keunggulan bersifat sementara, Tidak langgeng.

Asumsi bahwa keunggulan akan terus hadir selamanya sudah usang. Keunggulan dimasa kini selalu dalam ancaman. Pola fikir ikuti arus keunggulan masa lalu, dengan memperpanjang daur hidup proses dan produk masa lalu atau “Extending a trajectory” perlu diubah. Kini paradigma untuk mengedepankan pergeseran pola fikir setiap saat perlu dilatih dan dikembangkan sebagai kredo kerja. “Promoting continual shift”. Pendekatan yang berfokus pada upaya membenahi kekuatan internal perusahaan perlu diselaraskan dengan secara agresip menempatkannya dalam kerangka perubahan dan ketidak pastian

Orientasi perencanaan skala lima tahunan berdasarkan prediksi masa depan perlu dilengkapi dengan “jalan keluar” atau “option oriented”. Perencanaan jangka panjang yang berfokus pada upaya menemukan Konfirmasi, diubah menjadi “Seeking disconfirmation”. Dengan kata lain Strategi adalah memilih aktivitas apa yang tidak perlu dilakukan.

Mudah mudahan tulisan Prof Rita yang saya share disini bermanfaat.
Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: