//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Perubahan, Renungan

Tanda – Tanda Kecancuran Bahasa Indonesia

(TANDA-TANDA KECANCURAN BAHASA INDONESIA)
Sarlito Wirawan Sarwono
Sindo, 11 Sep 2016

Pada suatu waktu saya menerima pesan WA seperti ini, “Selamat pagi, saya dengan Beni, dari panitia XYZ, bermaksud mengundang pak Prof untuk … bla-bla-bla”. Begitu juga pada saat berkenalan, ada beberapa orang yang sambil berjabat tangan berkata, “Saya dengan Beni”. Tentu saja Beni-beni itu sebenarnya hanya ingin mengatakan “Nama saya Beni”.
Tetapi kalau ditelisik lebih lanjut, arti yang benar dari kalimat “Saya dengan Beni” adalah seorang saya (katakalah namanya Fulan) bersama seorang kawan Fulan yang bernama Beni. Jadi bukan “Nama saya Beni”.

Membingungkan, kan? Tetapi inilah yang menjadi trend sekarang: Membingungkan! Betapa tidak, di layar TV pun, seorang reporter menyapa seseorang yang akan diwawancarainya, “Ibu…, ibu dengan ibu siapa, bu?”. Saya heran mendengar pertanyaan itu. Wong ibu itu sedang sendirian, kok ditanya “dengan siapa?”. Anehnya, si ibu bisa menjawab dengan benar. “Saya ibu Ani”. Waduh … siapa ini yang sudah tidak waras pikirannya? Saya atau dunia?
***

Di tahun 1970an, ketika saya sedang belajar untuk S3 saya di Universitas Leiden, Belanda, saya ditempatkan di sebuah ruangan di Kampus Station Plein no. 1, bersama dua orang kandidat lain (mereka lulus di Universitas Leiden, saya lulus di UI), yaitu saudara Tamrin Tamagola (sekarang menjadi salah satu nara sumber top Indonesia urusan sosial-politik) dan seorang Belanda totok bernama Pieter Barnefeld. Pada waktu itu (dan saya kira sampai sekarang juga), kalau ada telpon di ruangan kami dan yang mengangkat Pieter, dia langsung berkata, “Met Pieter”, artinya “Dengan Pieter”. Maksudnya tentu saja agar si penelpon langsung tahu dengan siapa dia bicara. Kalau memang mau bicara dengan Pieter, dia bisa langsung bicara, sedangkan kalau mau bicara dengan Tamrin atau saya maka Pieter akan memanggil kami. Jadi tidak ada kalimat-kalimat basa-basi, seperti “Assalamualaikum wa barakatuh”, yang dijawab dulu “Walaikum salaaam…”, dan baru masuk ke pertanyaaan. Walah kelamaan!! Buang-buang waktu!!! (menurut saya orang Belanda selalu dan terlalu menghargai waktu).

Saya tidak menyangka bahwa kebiasaan menyapa ditelpon “Met Pieter”, menular ke Indonesia setelah sekian puluh tahun, tetapi sudah berubah makna sama sekali. Bahkan mungkin antara dua kebiasaan itu, “Met Pieter” dan “Saya dengan Beni” tidak ada hubungannya sama sekali. Namun, buat saya, phrasa “Saya dengan Beni” yang diartikan sebagai “Nama saya Beni” adalah gejala yang mengerikan. Suatu indikator dari runtuhnya kisi-kisi tata bahasa Indonesia, yang pada suatu saat nanti akan menjadi kehancuran bahasa Indonesia, sehingga salah satu pilar Sumpah Pemuda (satu bahasa: Indonesia) juga akan meleleh, dan membuat kesatuan dan persatuan NKRIpun terancam.

Betapa tidak. Mahasiswa saya, yang sudah S2 dan S3, tidak bisa lagi membedakan antara “kita” (aku dan engkau atau kalian) dan “kami” (aku dan kawan-kawanku, engkau tak termasuk), yang khas Indonesia karena tidak ada dalam bahasa Barat, termasuk Bahasa Inggris dan Belanda. Bahkan dalam wawancara di TV banyak pejabat, apalagi artis, yang mencampur adukkan kedua istilah itu. Contoh lain, dalam sebuah tayangan di TV lagi, reporter menjelaskan bahwa para pengemudi “menghiraukan” rambu lalu lintas, sehingga memarkir kendaraannya sembarangan (tentunya yang dimaksud “tidak menghiraukan”). Atau contoh lain lagi, sekarang banyak orang tidak tahu bedanya antara Muslim dengan Islam. Banyak yang mengatakan “Umat Muslim”, padahal seharusnya “Umat Islam”, karena yang punya umat adalah agama (Islam), bukan orang perorangan yang kebetulan beragama Islam (Muslim). Atau yang ini, “Sekitar 3000 massa mengepung Istana”, padahal sebetulnya yang dimaksud adalah “Massa (kata jamak) yang terdiri dari sekitar 3000 orang (tunggal) mengepung istana”. Atau “500 armada bus antar-kota disiapkan untuk angkutan lebaran”, Padahal yang dimaksud hanya 500 unit (tunggal) bus, bukan armada (jamak). Kalau satu armada terdiri dari 100 bus, berarti ada 50.000 bis yang disiapkan untuk angkutan lebaran.

Kalau mau diteruskan, masih banyak sebetulnya contoh penggunaan bahasa Indonesia yang keluar dari pakem Tata-bahasa maupun pengucapan kata-kata bahasa Indonesia. Masih diperlukan penelitian untuk memastikan faktor penyebab dari potensi bencana bahasa ini, tetapi menurut dugaan saya, faktor medialah penyebabnya. Sampai dengan tahun 1960an media massa di Indonesia masih sangat terbatas pada RRI dan beberapa media cetak. Tahun 1962 mulai ada TVRI, sebagai satu-satunya media elektronik audio-visual yang dijaga betul bahasa Indonesianya oleh pakar-pakar linguistik seperti Prof. Jus Badudu dan para penyiarnya pun seperti Sambas, Rusdi Saleh, Hasan Azhari Oramahi dan Tatik Tamzil dan Anita Rahman, bahkan para pelawak seperti Bing Slamet hanya bertutur dalam bahasa Indonesia yang baku. Karena semua orang menonton TVRI, maka semua orangpun bertutur baku, meniru TVRI.

Sekarang, begitu banyak stasion TV dan radio. Semua saling berebut pasar, ditambah lagi lahirnya media-media sosial, baik dalam format berita (.com) maupun perorangan (Blog, Face Book, Instagram, Line dll), dan juga media audio visual (youtube). Media massa TV dan radio, tidak lagi sempat menyeleksi calon penyiar dan reporter berkelas, sehingga yang bahasa Indonesianya belepotan pun sekarang bisa tampil sebagai reporter profesional. Apalagi rubrik-rubrik infotainment yang menayangkan artis-artis ganteng dan cantik, yang penuh isyu miring, tetapi sekolahnya paling baru SMP atau SMA, bahkan ada yang cuma lulus SD. Bahasa Indonesia mereka jelas amburadul. Padahal merekalah yang ditiru oleh pemirsa TV dari seluruh Indonesia. Bagaimana bahasa Indonesia kita tidak akan hancur lebur?

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: