//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Review

Islamisasi Sekolah Umum

Catatan untuk Irwan Amrizal: Islamisasi Sekolah Umum

Adriano Rusfi
Sep 05, 2016

Seorang Irwan Amrizal menulis dalam statusnya : “Beberapa hari terakhir banyak teman yang bertanya pada saya perihal fellowship yang saya terima dari Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk)”.

Di beberapa alinea berikutnya ia memberikan penjelasan :
“Lalu, apa liputan yang akan saya buat? Isu yang ingin saya liput adalah isu yang sering kita dengar, bahkan mungkin anda alami sendiri: kecenderungan islamisasi di sekolah umum negeri. Contoh sederhana kecenderungan itu adalah doa bersama di awal pelajaran yang selalu menggunakan doa yang dinukil dari ajaran Islam. Juga maraknya atribut dan simbol Islam di lingkungan sekolah”

Dan entah dari mana, iapun tiba-tiba mengajukan sebuah klaim :
“Isu ini sudah sering dikeluhkan pemerhati pendidikan, pemerhati keberagaman, maupun pemerhati kebebasan beragama dan berkeyakinan”.
Padahal, iapun mengakui kenyataan yang justru kontradiktif dengan klaimnya tersebut :
“Tapi sejauh pencarian saya, saya belum menemukan ada laporan jurnalistik yang mengangkatnya ke permukaan”.

Jadi, siapa sebenarnya yang mengeluh ? Dirinya sendiri kah ?
Saudara Irwan Amrizal, Berdoa adalah sebuah peristiwa religi. Ia bukanlah produk hasil rekayasa sosial, atau buah dari kesepakatan bersama. Lalu mungkinkah berdoa mengalami proses nasionalisasi, profanisasi bahkan sekularisasi ? Maka, jangan heran jika dalam sebuah peristiwa kenegaraan sekalipun, sebuah doa selalu mengacu kepada agama mayoritas dari sebuah bangsa. Yang salah adalah jika setiap yang hadir dalam peristiwa kenegaraan tersebut, apapun keyakinannya, lalu dipaksa untuk melafalkan doa tersebut.

Itulah sebabnya kenapa “Islamisasi doa” di sekolah umum negeri dapat diterima dan tak pernah menjadi gejolak bagi pelakunya itu sendiri, walaupun itu telah berlangsung sangat lama. Karena yang terjadi hanyalah sebuah prosesi doa yang lafalnya dipimpin oleh pemeluk mayoritas sebuah sekolah. Dan sama sekali tak ada pemaksaan bahwa lafal tersebut juga harus dibaca oleh penganut agama lain.

Tiadanya gejolak ini karena pihak yang terlibat di dalamnya paham dan sadar bahwa doa adalah sesuatu yang eksklusif, namun di sisi lain diyakini akan lebih kuat jika terpimpin dan dilakukan bersama. Makanya tak mengherankan jika pada lembar-lembar panduan doa perjalanan di pesawat-pesawat udara sana yang ada hanyalah doa versi Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu. Tak ada panduan doa nasional, doa Garuda Indonesia, doa Sriwijaya Air, doa Lion Air dan sebagainya.

Ini hanyalah sebuah mekanisme sosial yang sangat alami, se-alami Franz Magnis Suseno yang sering mengucapkan “Alhamdulillah” saat ditanya kabarnya, sealami tetangga Nasrani saya yang mengucapkan “assalamu alaikum” saat memasuki rumahnya sendiri, sealami seorang mantan peragawati Katolik yang saat ini berhijab rapi di Penang sana. Ya, sealami seorang Danjen Kopassus yang meminta saya memimpin doa sesuai Islam, walau banyak hadirin beragama lain. Mungkin Irwan Amrizal ingin menawarkan sebuah mekanisme tak alami yang dipaksakan seperti : “Mari berdoa menurut kepercayaan masing-masing. Berdoa, mulai !!!”

Lalu, siapakah yang sebenarnya gerah dengan fenomena ini ? Yang gerah adalah kaum rendah diri yang mencoba menutupi minder kronisnya lewat kegenitan-kegenitan opini penuh retorika namun sama sekali tak rasional dan argumentatif. Yang gelisah adalah para pemburu simbol-simbol modernitas agar tampak setara dengan berhala-berhala yang dikaguminya. Yang panik adalah orang-orang yang gagal keluar dari gegar budaya yang diidapnya, sehingga tak pernah berhasil mengakhiri periode norak yang membekapnya.

Kelompok ini bahkan akan menganggap pembukaan UUD 45 yang berbunyi “Berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa” sebagai bentuk penjajahan religi dari ummat Muslim terhadap ummat lainnya. Golongan ini akan tampak murung ketika harus menerima kenyataan bahwa Menteri Agama RI harus beragama Islam. Kaum ini akan senantiasa gelisah menyaksikan bahwa doa penutup pada setiap Peringatan Detik-detik Proklamasi di Istana Negara adalah doa Islam dan tak pernah dipergilirkan dengan doa agama lainnya.

Bahwa mereka adalah Muslim dan beragama Islam, sebagaimana bentuk self-defense mechanism yang sering digunakan untuk menutupi gelisah nurani, itu sebenarnya tak menjelaskan apapun dan sama sekali tak argumentatif. Dan rasanya saya juga tak tertarik untuk terlalu dalam merewelinya. Saya sungguh sadar, bahwa hidup ini berat dan perlu banyak cara untuk mencari penghidupan demi tetap bertahan hidup. Maaf

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: