//
you're reading...
Ekonomi, Perubahan, Review

Flexibilitas Ruang Fiskal : Counter Cyclical atau Cyclical ?

Jusman Syafii Djamal
29 Agustus 2016

Di kedai Kopi di pinggiran pantai dekat Amsterdam saya berbincang dengan teman lama Asril Fitri. Ia kebetulan jadi kawan satu kapal, teman seperjalanan kali ini. Teman saya ini punya pengalaman unik.

Awalnya ia mengambil mata kuliah jurusan Elektro di Fakultas Teknik UI. Tapi sepanjang karier hingga pensiun ia banyak mendapatkan tugas pekerjaan di bidang keuangan.

Dari basic engineering ia memperoleh virus “teliti dalam bekerja”, sebagai seorang sarjana elektro ilmu pembangkit energi dan aliran arus listrik jadi fokus.

Mungkin virus ini yang menyebabkan ia dapat menyesuaikan diri dan memiliki fleksibilitas untuk pindah jalur profesi. Dengan S2 “business and finance” di Inggris ia memiliki keterampilan untuk menelisik feasibility study program pembangunan infratruktur dan pengembangan teknologi.

Kini ia sudah pensiun dari pekerjaan rutin di kantor karena usia sudah 60 tahun.

Meski sudah berstatus Pensiunan, ia tetap berupaya untuk menjaga kesehatan fisik dan keterampilan olah fikir dengan olah raga dan menemukan tempat kerja yang masih terbuka bagi usia senja. Katanya ” sy i ngin ikuti jejak Prof. Emil Salim Guru Besar UI , meski usia sudah diatas 80 tahun, berkat kedisiplinan menjaga ritme hidup and tak berhenti olah fikir , beliau diberi kesempatan Allah untuk tetap trengginas dan tangkas dalam berdiskusi sharing ideas dipelbagai forum”

Dari pengalaman teman seperti pak Asril dan contoh yang ia berikan dalam obrolan omong kosong dipinggir jalan pada hari minggu saya bisa belajar lebih banyak tentang “flexibility and Adaptability to survive”.

Kebetulan dalam perjalanan menyusuri kota Amsterdam ini saya menemukan suasana yang jauh berbeda. Ada nuansa kelesuan aktivitas ekonomi. Disaat seperti ini dalam pergantian musim panas menuju musim gugur biasanya dengan mudah ditemukan keluarga yang memborong baju celana dan keperluan keluarga yang sedang didiskon karena produk baru muncul kepermukaan.

Produk musim semi dan musim panas mulai kadaluarsa, barang kebutuhan musim gugur dan musim dingin mulai muncul.

Pergantian musim biasanya jadi penggerak “market demand” dan melahirkan “supply side”. Akan tetapi kini seolah “market demand” di Eropa tak mampu memancing “supply side” berupa import dari negara seperti Indonesia, Vietnam dan China. Negara yang sedang tumbuh ekonominya memerlukan pasar tempat aliran produksi bermuara. Kelesuan terasa kasat mata.

Apa pengamatan saya keliru, bisa saja. Sebab ini pengamatan sesaat bersifat momen opname yang bisa keliru.

Pulang kehotel saya sempat mampir ke kiosk majalah dan koran yang mudah ditemui dipinggir jalan. Ada majalah Blomberg yang relevan untuk dibaca. Judul tulisannya :” A Cautius Return to Fiscal Stimulus”. Kembali ke Stimulus Fiskal dengan hati hati dan penuh hitungan”.

Tulisan yang mendeskripsikan kecendrungan Otoritas Moneter pelbagai Negara yang sedang kehabisan siasat dan inisiatip untuk membuat pasar bergerak lebih cepat.

Dengan “market demand” yang tidak tumbuh di Eropa dan Amerika , produksi barang yang ada seolah mampet diujung muara. Tahun 2008 ketika financial crisis terjadi banyak pengambil kebijakan ekonomi makro menerapkan “policy counter cyclical”.

Menggunakan instrument fiskal untuk membuat ekonomi wilayah lebih liquid. Dengan kata lain Liquidity ditambal dengan kebijakan Higher public spending dan lower tax “. Banyak kasus memperlihatkan “Expansionary Budget” ternyata mampu mengurangi dampak lesunya ekonomi.

Seperti kata Asril, salah satu persfektip electrical engineering yang dapat dimanfaatkan dalam mengatur keuangan adalah building block tentang pengertian Pembangkit Energi dan Jaringan Distribusi Arus. Volume of Money dan Flux aliran dana ke ruang publik, untuk atasi Resistensi lesunya daya beli sepanjang mata rantai distribusi ke pasar tempat pembeli dan penjual bertemu, bertransaksi.

Dalam hal ini Fleksibilitas dan Adaptation diperlukan.

Sayangnya dipelbagai negara kecendrungan untuk ikuti kebijakan “cyclical” atau ikuti trend pasar lebih menguat. Logika policy cyclical berdiri diatas pendekatan Austerity.

Mengencangkan ikat pinggang. Hemat budget, kurangi pengeluaran dan tingkatkan pungutan pajak jadi instrument yang kasat mata jadi pilihan. Apalagi jika Deficit Spending ikut menghantui.

Tak heran jika Chairman Federal Reserve Amerika Janet Yelen, bulan juni lalu “curhat” ke Senat dan bilang :”Fiscal Policy had not played a supportive role”. Otoritas Moneter sudah kehilangan tenaga untuk gerakkan ekonomi.

Kalau fiskal juga dicekik bagaimana Ada likuiditas dipasar, begitu keluhannya. Bulan Juli European Central Bank’s Chief Economist Peter Praet said :”Monetary Policy cannot be the only remedy to our current economic challenges”.

Kini baik Donald Trump maupun Hillary Clinton dalam kampanye Pemilu Presiden sudah kelihatan ingin ikuti jejak langkah Indonesia.

Dua duanya ingin mengenjot pembangunan infrastruktur. Membangun kembali dan meremajakan Pelabuhan, Bandara, Jembatan, Kereta Api.
Menggunakan instrument fiscal sebagai stimulus. Kebijakan counter cyclical jadi pilihan.

Ada penghematan Anggaran untuk alokasi yang bisa ditunda, tapi tidak berarti stimulus likuiditas ke masyarakat terkendala. Bisa berbentuk jaring pengaman sosial, tarif pajak yang lebih rendah, pembangunan infrastruktur dan last but not least upaya monetary policy pengatur inflasi, jumlah uang dan kecepatan peredaran uang dimasyarakat yg mampu membangkitkan sektor riel.

Asril ingatkan sy tentang general equation nya Keyness GDP = Goverment Spending + Investasi + Konsumsi Masyarakat + Export – Import

Begitu kurang lebih dialog hari ini. Mohon Maaf jika keliru.
Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: