//
you're reading...
Creativity, Human being, Information Technology, Kajian, Life style, Lingkungan, Perubahan

Berdialog dengan Hati, Tapi Hati Hati jangan Melukai.

Jusman Syafii Djamal

Diketinggian jelajah 37000 kaki diatas permukaan Laut saya mencoba keunggulan penggunaan internet Garuda Indonesia. Saya sedang dalam perjalanan menuju Bandara Schipool Amsterdam. Terbang nonstop dengan Boeing 777. berangkat jam 2245 WIB, diperkirakan and tiba lebih cepat jadwal (8.25 pagi local time).

Captain Pilot telah menyapa penumpang Dan memberi informasi tentang cuaca, ketinggian terbang jelajah Dan perkiraan waktu tiba ditempat tujuan. Perjalanan lima jam pertama Dari 14 jam jarak tempuh diperkirakan sedikit terguncang guncang atau bumpy karena turbulensi. Berikutnya setelah liwati wilayah udara Turki akan mulus smooth kata Captain Pilotnya.

Happy Landing begitu doa yang dipanjatkan.

Dalam perjalanan saya membaca Majalah Time. Cover depannya menarik judulnya “Why we are losing the Internet to the culture of hate”. Mengapa kini akal sehat kalah. Internet yang tadinya diperkirakan menjadi wahana pencerahan dan dialog, kenapa kini jadi ajang bully membully. Mengapa kultur kebencian diam diam menyusup jadi habit ?”. Begitu pertanyaan Joel Stein dalam tulisannya berjudul Tyranny of the mob di halaman 25 hingga 30.

Sebuah artikel yang bikin penggunaan internet diatas ketinggian jelajah 37000 kaki ini jadi lebih interesant, menarik. Melalui sambungan Internet diatas terbang jelajah Garuda dari Jakarta Amsterdam, ternyata keterhubungan atau connectivity dengan internet tak punya batas wilayah Dan waktu. Connectivity in Every Corner of the world

Meski begitu seperti kata Joel Stein dimajalah Time, Mudah mudahan kebencian atau hate tidak jadi dominan feature dunia maya. Perlu dikembangkan ecosystems virtual world yang mampu membatasi gerak maju kebencian Dan haters. Sehingga internet kembali “back to basic” jadi wahana pembangkit senyuman, bukan pencipta kedongkolan.

Sebab kecerdasan bersama tak mungkin muncul dari saling bertukar hinaan dan hujatan.

Untuk memanfaatkan wahana Internet sebagai ruang dialog dan menghindari hujatan Saya teringat pada nasihat alm Mayjen Himawan Sutanto ketika beliau menjadi Pangdam Siliwangi Dan saya menjadi mahasiswa, beliau bilang begini ditahun 1978 :”meski kita berbeda pendapat dan sudut pandang janganlah putus tali silaturahmi antar sesama.

Kita perlu bekerja keras untuk terus menerus merawat ruang dialog dalam batin sesama elemen Bangsa. Sebab dialog berarti menemukan persamaan dalam pebedaan”.

Karena itu saya selalu anjurkan generasi anak saya agar melatih keterampilan membangun komunikasi. Cara sederhana adalah dengan selalu berinteraksi dan menemukan realitas dilapangan. Tak Peduli apakah mereka ingin jadi saudagar, atau ingin jadi insinyur perlu banyak jalan jalan ke pasar untuk berlatih ilmu pergaulan. Ilmu hidup yang muncul jika Kita sering saling sapa dengan akal sehat tanpa prasangka.

Mau berkunjung ke pasar tradisional , atau Mall atau toko toko pinggir jalan sangat perlu luangkan waktu berbincang bincang dengan pemilik atau penjualnya. Sebab melalui pengamatan dan pertanyaan yang diajukan paling tidak kita bisa memahami apa yang sedang jadi trend. Misal apakah kini kita sedang berada dalam masa pertumbuhan ekonomi atau perlambatan ekonomi.

Dapat juga trend terlihat dari apa yg kasat Mata. Jika orang rame belanja maka uang beredar ditempat itu pasti tinggi, dan kecepatan berputarnya juga tinggi. Jika pembeli tidak ada dan penjual terkantuk kantuk menunggu yang tidak akan datang, pastilah ada sesuatu yang sedang terjadi. Kita bisa mengamati dengan cermat Apa banyak pembeli atau lebih banyak penonton.

Tatacara managemen toko mengelola juga terlihat dari tingkah laku para penjual. Misal Apa pelayannya bergairah untuk melayani pembeli atau lebih senang mengobrol satu sama lain. Bergosip. Kualitas pelayanan bisa juga dipelajari dari situ.

Melalui pengamatan seperti itu kita bisa mempertajam pengetahuan tentang apa yang dimaksud dengan metode observasi. Dan menemukan fenomena menarik dari kehidupan sehari hari. Awal dari teknik membaca medan dan cuaca kehidupan sekitar.

Selain itu kunjungan ketoko toko yang jual barang produk teknologi TV, Komputer, Kulkas dan produk elektronik konsumer lainnya, misalnya akan mengasah keahlian untuk membedakan apa feature teknologi yang jadi keunggulan industri manufaktur buatan Jepang, Korea atau Tiongkok untuk dibenchmark ke industri manufaktur Indonesia. Apakah sepatu, jacket kulit, tas, loudspeaker, radio, tv, tablet, tilpon buatan Indonesia sudah maju atau tidak.

Pengamatan pada realitas fisik seperti perbedaan warna terbang gelapnya tampilan, kehebatan pesona gambar yang ditampilkan oleh layar LEd atau Ultra High Definition TV akan memberi banyak pengetahuan yang dapat ditelusuri.

Apalagi jika sempat bertukar fikiran dengan para teknisi Dan penjual yang mampu bercerita tentang proses evolusi perubahan teknologi yang menyertainya.

Paling tidak melalui pengamatan pada banyaknya produk dengan variasi jenis yang kita temui di toko toko, kita bisa menelusuri sebab musabab kenapa kini Tiongkok, Korea Selatan seolah bisa menyalip Jepang . Dan kini seolah produk Amerika atau Eropa tenggelam tak kelihatan. Dimana posisi Dan letak industri manufaktur Indonesia ditengah persaingan pasar domestik tersebut ?

Dari pengamatan sederhana melaui “window shopping” semacam itu kemudian kita memanfaatkan internet untuk mengetahui Mengapa ada bangsa yang baru tumbuh industrinya pada tahun 1978 seperti Tiongkok dapat tumbuh dobel digit ? Mengapa inisiatip Deng Xiaoping membangun kawasan industri disekitar Coastal Zone dekat Hongkong dan Shanghai , bisa terus menerus memproduksi teknologi dan jadi factory of the world, sementara Batam Dan kawasan Industri lain yang Ada di Indonesia tidak jadi center of growth ?

Belajar mengasah daya observasi dengan cara Windows Shopping dan memanfaatkan kemajuan teknologi internet untuk mempertajam daya analisa itu seperti belajar berenang. Ada buku berenang, ada kolam renang dan ada pelatih renang. Kita bisa belajar gerakan berenang dengan observasi dan mencontoh apa yang dilakukan oleh orang lain. Tetapi menjadi perenang kita memerlukan kolam renang. Ngga bisa kita berenang tanpa kolam renang atau kali atau danau.

Begitu juga dengan upaya Penguasaan teknologi hanya mungkin dilakukan dalam realitas “kolam renang: yang bernama industri.

Dalam industri kita belajar tentang arti membuat produk, makna proses produksi dan proses ditribusi barang, Hanya dengan industri kita mampu tumbuh berkembang sebagai enjineer “product development”, “design product” atau “production”.

Melalui industri kita tau makna pengembangan jaringan mata rantai pasokan dan mata rantai nilai tambah. Melalui industri kita belajar tentang kekuatan tarik menarik “market forces”.

Karenanya Teknologi hanya mungkin dikuasai jika ada kesempatan bagi generasi muda untuk “menunggang kuda” perubahan teknologi yang tiap saat muncul dalam industri. Harus ada kolam renangnya.

Teknologi tumbuh berkembang dalam proses belajar tanpa henti — proses belajar yang ditekuni melalui langkah sistimatis terencana dan berkelanjutan dengan tahapan “observing” mengamati dan mengerjakan, menggunakan (by observing , by doing or by operating) tentang cara bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan sebesar besarnya bagi penyelesaian persoalan yang dihadapi, yang semakin lama semakin terdiferensiasi dan semakin kompleks dalam lingkungan yang terus berubah sepanjang masa.

Kata Peter Dicken :” Technological change is a form of learning – by observing, by doing, by using – of how to solve specific problems in a highly differentiated and volatile environment”.

Begitu juga dengan Kecerdasan memanfaatkan teknologi seperti internet dan application online lainnya. Kecerdasan bersilancar di dunia maya dan memanfaatkan google mesin pencari untuk menemukan rujukan web, posting yang kredibel dan menjauhkan sumber informasi abal abal hanya mungkin lahir jika metode learning by doing dikembangkan. Ada sistimatika yang teratur dan bermetode yang tumbuh Dari kebiasaan yang baik. Kaizen, Continuous Improvement.

Etika dan tatacara berdebat serta berbeda pendapat di internet bisa muncul seperti di kedai kopi di Aceh. Kepala panas mengolah kata, hati dingin menjaga tali persaudaraan Kita bisa membangun komunitas di dunia maya tanpa menonjolkan kebencian. Meski didunia maya bisa muncul akun anonim tanpa identitas, tapi tatacara dialog yang penuh akal sehat bisa lahir jika local wisdom digunakan. Misal di Jawa Barat keindahan dialog terjadi dalam ecosystem yang mengedepankan prinsip Siliwangi:”Silih Asih, Silih Asuh Dan Silih Asah”. Ada emphaty muncul dalam proses berdialog .Baik dengan internet dan what’s app atau tatap muka.

Kita berharap dimasa depan, Internet dapat dimanfaatkan menjadi ruang pencerahan Jika Local wisdom yang bermuara pada dialog dari hati ke hati tetapi penuh kehati hatian menjaga Marwah Dan Martabat sesama, diterapkan.

Pour your heart in meeting of mind.

Apa benar begitu ?

Turbulensi diatas ketinggian jelajah 37000 kaki dengan kecepatan 800 km/jam membuat mata sedikit terpejam. Ada baiknya internet diatas udara ini ditutup, selain menghemat ongkos juga untuk istirahat.

Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: