//
you're reading...
Creativity, Entrepreneurship, Kemandirian, Perubahan, Review

Angkutan Umum Massal untuk atasi Kesenjangan Ekonomi Desa Kota.

Jusman Syafii Djamal

Dalam kunjungan ke Hangzhou kota yang akan menjadi tuan rumah G20 , saya diajak mengunjungi kota Yiwu. Untuk melihat pusat retailer terbesar di dunia. Luas tokonya 4,5 juta meter persegi. Terdiri dari lima distrik menjadi satu. Semua toko seperti outlet dari industri manufaktur yang ada di China. Ada distrik yang khusus menjual produk tekstil. Ada mainan anak anak. Barang elektronik. Kerajinan ukir ukiran dan lukisan. Dan juga produk buatan negara lain. Harga toko meski beli satu dua barang sama dengan beli barang dalam partai besar. Jumlah tokonya jika tiap jenis dikunjungi selama 10 menit dan satu hari 7 jam katanya baru akan habis dikunjungi dalam tiga tahun. Pusat grosir terbesar didunia.

Mengunjungi kota Yiwu yang berjarak 180 km dari Hangzhou kurang lebih, saya naik kereta api berkecepatan 305 km perjam. Persis sama seperti kereta cepat Shinkanzen buatan Jepang yang menjalani rute Osaka Tokyo. Nyaman dan menyenangkan, Tak berisik dan dilengkapi wifi. Saya membayangkan kereta cepat ini akan dibawa menyusuri rute Jakarta Surabaya melalui jalur Selatan, pada suatu ketika. Mudah mudahan teknologi kereta cepat ini dapat dikuasai oleh engineer muda yang bekerja di INKA Madiun.

Engineer Kereta Api China mengadopsi teknologi kereta cepat dari Jerman dan Jepang. Teknologi ini dikuasai secara bertahap, bertingkat dan berkelanjutan dengan proses akselerasi. Kereta cepat yang saya ikuti pernah mengalami kecelakaan karena disambar petir. Sebuah ketololan kata para ahli. Sebuah ketergesaan dan kecerobohan kata yang lain. Tapi itu masa lalu kata ahli kereta api ketika berbincang dengan saya.

Engineer China memang tak banyak bicara. Sukar bagi mereka untuk menjelaskan apa yang dikerjakan. Mereka bekerja seperti prajurit tempur. Tiap medan dipelajari dan dikuasai satu demi satu. Mereka seolah kerja dalam diam. Diakhir tahun 2012, dunia dikejutkan oleh kehadiran kereta cepat china yang memliki jalur terpanjang di dunia. Sepuluh Ribu Kilometer dibangun dalam tempo enam tahun. Dalam tempo tak lebih dari 10 tahun insinyur China mengejutkan kalangan industri kereta api dunia.

Langkah Ambil Tiru dan Modifikasi yang dijadikan wahana peningkatan kemampuan teknologi ternyata efektip dilaksanakan disana. Meski hingga kini pusat engineering nya masih tidak dapat lepas dari Jerman, akan tetapi program pembangunan infrastruktur yang terstruktur sistimatis dan masif yang dijalankan pemerintahnya, menyebabkan para insinyur kereta api China kini memiliki jam terbang lebih dari 21000 jam. Mapan sebagai seorang ahli, dan teknisi padat pengalaman. Kini mereka masuk dalam top ranking yang patut diperhitungkan karena penguasaan teknologinya telah masuk kedalam phase paripurna.

Ketika naik kereta cepat China atau Shinkanzen di Jepang saya sering bertanya dalam hati mengapa Indonesia tak membuat kereta cepat 350 km perjam Surabaya Jakarta atau dari Anyer sampai Panarukan. Sebuah jalan kereta untuk mengikuti jejak jalan raya pos yang dibangun pada masa pemerintahan Gubernur-Jenderal Herman Willem Daendels.

Akan tetapi seorang teman saya ahli kereta api dari Jerman mengatakan sebaliknya.Ketika berbicara liwat tilpon tahun 2007 dan saya bertanya tentang kereta api, ia malah bertanya begini :” Mengapa anda memerlukan kereta cepat 340 km perjam ?

Kata teman saya yang pernah dipercaya untuk merevitalisasi perkeretaapian di Eropa itu, :”Jusman if you have to revitalize and restructure a transports systems. You have to look at the existing infrastructure. Don’t copy other countries.Look at your fundamental need and try to figure out why the old generation built such a beautiful train infrastructure ??

For whom that infrastructure, serve ?

Dari rangkaian dialog itu saya mulai melihat jaringan kereta api yang ada di Jawa, Sumatera dan Aceh. Saya amati tinggi jembatannya, lihat kota kota yang dihubungkannya, dan ukur jarak tracknya serta pelajari jenis gerbong dan lokomotifnya. Apa yang ditemui menarik.

Paradigma kereta api di Indonesia memang bukan dirancang bangun untuk menghasilkan kecepatan tinggi. Kereta api muncul di Indonesia karena ingin melayani kepentingan perdagangan antar kota kecil dengan kota besar. Ia dirancang dan ditujukan untuk rakyat kecil. Untuk golongan ekonomi lemah yang ingin membawa hasil buminya ke kota besar.

Boleh dikatakan hampir 70 persen penumpang adalah kelas ekonomi hanya 30 % yang kelas eksekutip dan bisnis.

Jalan rel pertama di Indonesia diresmikan pada tanggal 10 Agustus 1867. Jalan sepanjang 25 km ini menghubungkan Semarang dengan desa Tanggung menggunakan trak standar (1.435 mm).Pembangunan jalan rel ini kemudian dilanjutkan sampai Yogyakarta dan diresmikan pada tanggal 10 Juni 1872.Lebar trak sempit pertama kali digunakan di Indonesia pada jalur yang menghubungkan Jakarta dan Bogor yang dibangun antara 1871-1873.Lebar trak yang digunakan adalah 1.067 mm seperti yang digunakan di Afrika Selatan.

Pada masa pendudukan Jepang, beberapa jalur rel trak standar seperti jalur Solo-Yogyakarta dan Semarang-Solo diganti menjadi trak sempit 1.067 mm.Di samping lebar trak 1.067 mm, di Indonesia juga pernah terdapat beberapa jalur rel dengan lebar trak 750 mm dan 600 mm.Jalur trak 750 mm digunakan di Aceh.Lebar trak 750 mm juga digunakan di perkebunan tebu di pulau Jawa.

Dengan model rekayasa dan rancang bangun jaringan kereta api bertrak standard hasil peninggalan Belanda dan Jepang seperti itu sebetulnya langkah revitalisasi kereta api di Indonesia sebaiknya tidak diprioritaskan pada kelas eksekutip dan bisnis, melainkan pada kenyamanan kelas ekonomi. Bukan malah menghapuskannya.

Melalui jaringan kereta ekonomi yang nyaman dan aman, untuk mengubungkan kota kota kecil dengan kota besar. Antara suburb dengan metropolitan. Para pegawai kecil, buruh kontrakan, pedagang kecil masih dapat memiliki rumah di pingiran kota kecil yang masih murah dan mencari kerja di kota besar.

Dengan konsepsi ini , karenanya yang lebih pas adalah membangun network yang berorientasi pada commuter train. Yang menghubungkan tiga kota besar berjarak 200 km seperti bandung jakarta, sukabumi bogor jakarta, semarang tegal, jogja solo , purworedjo Dengan kecepatan rata rata 80 km perjam, sehingga lama perjalanan 200 km ditempuh dalam satu setengah jam tanpa macet. Stasiun digunakan untuk reuni keluarga sambil bersenda gurau.

Ketika tahun 2007-2009 dalam program Revitalisasi Kereta Api, Fokus diarahkan pada penambahan kereta jarak pendek, ekonomi dan perbaikan rel serta jembatan dan stasiun. Double track dilaksanakan untuk meningkatkan frekwensi dan lintas sebidang dikurangi. Untuk kurangi kemacetan di jakarta, paling tidak diperlukan 150 buah jembatan layang, antara bekasi jakarta, depk jakarta dan tangerang jakarta untuk menghindarkan tumbukan dan lintasan sebidang. Yang tak kalah penting adalah menjadikan stasiun kereta api menjadi tempat Rendezvouz, pertemuan antara keluarga, antara sahabat dan sesama warga bangsa.

Paradigma Connectivity yang dikembangkan oleh ahli perkeretapian di Indonesia sejak dulu memang bukan fokus pada pembangunan jalur kereta cepat. Melainkan kereta api komuter. Penghubung desa dan kota. Pengkait jaringan kota kecil dan kota metropolitan. Antara kota besar dengan pinggiran kota. Menempatkan angkutan umum massal bagi para pekerja yang tinggal dikota kecil bersebelahan dengan kota besar. Pekerja tinggal di sukabumi, tangerang atau depok yang lebih murah standard of livingnya untuk mencari nafkah di Jakarta.

Para petani kecil berkebun sayur, berternak ayam atau menanam bunga di kawasan puncak dan bekasi dan membawa sayur mayur nya ke Jakarta. Kereta api dirancang sebagai wahana konektivitas desa dan kota untuk ikut mengentaskan kemiskinan. Sebab melalui konektivitas yang teratur, nyaman dan aman serta terjangkau daya beli karcisnya, para pedagang kecil, para pegawai kecil dan pengguna kereta api ekonomi ini akan mampu membangun network kerjasama yang bukan tidak mungkin melahirkan aktivitas ekonomi yang terus bergeliat bersama pertumbuhan ekonomi Bangsa secara keseluruhan.

Tak heran dimasa lalu kita pernah punya kereta ayam sayur. Kereta yang berjalan dipagi hari dari stasiun Sukabumi tempat petani sayur dan peternak ayam membangun bisnis keluarga. Dari stasiun itu pedagang sayur dan pedagang ayam berkumpul di gerbong ekonomi menuju pasar di Bogor atau Jakarta. Mencoba memperbesar pangsa pasar nya. Melalui jaringan seperti ini rumah makan tegal, rumah makan padang mendapatkan mata rantai pasokan bahan baku berbiaya rendah.

Sementara untuk pegawai kecil dan penjaga toko kereta seperti ini akan menjadi wahana transportasi yang tidak menguras daya beli mereka. Dan untuk pegawai menengah tentu saja akan tersedia kereta yang lebih nyaman dan lebih membuat pakaian tidak lusuh jika sampai di kantor. Dengan kata lain ada kereta api yang berjenjang dan bertingkat yang disesuaikan dengan daya beli masyarakat.

Esensi dari transportasi massal dan konsep Revenu Managemen yang sering terlupakan. Yakni kalau ada orang tak punya daya beli tinggi kenapa harus membeli ticket berharga mahal. Kalau ada yang puny uang mengapa harus membeli ticket murah. Tiap orang memiliki kriteria biaya dalam mengejar kenyamanan.

Apa pengamatan ini benar ?

Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: