//
you're reading...
Creativity, Human being, Kemandirian, Life style, Lingkungan, Motivasi, Perubahan

Menemukan Inovasi Tumbuh Dari Manusia Bersumber Daya IPTEK

Jusman Syafii Djamal

Kemarin pagi jam 8, tiba di Schipol 15 menit lebih cepat dari jadwal bikin perjalanan jkt Amsterdam jadi menyenangkan. Saya bilang ke Captain Pilot Dan para Crewnya, Good Job Pak.

Saya dan penumpang senang tiba lebih cepat, meski penjaga pintu di terminal kaget karena dikira belum tiba. Yang sigap Dan cepat supervisi garbarata layanan prima muncul.

Padahal sebelumnya karena alasan operasional Garuda telat berangkat 20 menit. Delay yg kadangkala bikin penumpang bertanya ada apa ya. Jika ada delay tidak mudah bagi manajer airline di bandara menjelaskan nya secara rinci.

Apalagi kalau di Sukarno Hatta. Delay bisa muncul dari banyak sebab yang kadangkala sukar diurai dengan mudah. Dari soal pesawat ngadat tiba tiba atau masalah teknis.

Bisa juga delay muncul karena crew terjebak macet, atau juga tambahan karena ada ketentuan baru tentang manajemen slot atau ijin baru karena keterlambatan melebihi ambang batas.

Masalah operasional dengan pelbagai versinya.

Kini jika berangkat dari Terminal 3 ultimate, masalah infrastruktur yang belum sempurna di Terminal dengan panjang 1500 meter dan panjang 235 meter, juga jadi kendala tersendiri yang bikin manajer pengelola pusing kepala.

Persoalan dengan kelas bintang tujuh, kita menyebutnya. Merujuk pada obat sakit kepala dimasa lalu.

Terminal 3 ultimate ini memang lunar biasa besar. Ini hasil karya putra putri Indonesia dengan luas atap terbesar di Indonesia. Luas atap efektip kurang lebih 23,5 hektar. Yang direncanakan dikonstruksikan dengan konsep “struktur ringan tergantung diudara, space structure”.

Luas Atapnya saja jika digunakan sebagai lokasi solar cell akan meproduksi listrik tenaga surya 17,5 Megawatt. Kata seorang teman ahli energi suatu malam.

Terminal 3 ultimate ini merupakan contoh pembangunan infrastruktur yang dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan.

Awalnya tahun 2009 saya ketika menjadi MenHub memiliki file kajian Dan blue print pembangunan bandara Sukarno Hatta, yang dibuat oleh para ahli generasi terdahulu. Atas ijin Presiden SBY blue print itu dikonsolidasi untuk diwujutkan jadi kenyataan.

Karenanya masterplan pembangunan ditanda tangani. Konsep awalnya pembangunan dilaksanakan secara bertahap bersifat modular diharapkan tiap 18 bulan lahir terminal berkapasitas 2 juta penumpang. Modul pertama jadi Dan dibangun oleh Angkasa Pura 2 pak Edi Haryoso.

Akan tetapi tatacara modular approach ini dipandang terlalu lambat. Karenanya ketika batu pertama diletakkan dalam satu acara pembukaan 2 Agustus 2012 , semasa pak Mangindaan jadi Menhub KIB2 , bandara ini dijuluki Aerotropolis. Kota bandara.

Sejak itu terminal ini dibangun semasa Tiga MenHub. Pak Mangindaan Dari KIB2, Pak Ignatius Jonan Dan Pak Budi Karya. Dilaksanakan oleh Angkasa Pura 2.

Kini ia jadi kenyataan. Sebuah estafeta pembangunan infrastruktur di Indonesia yang mengikuti irama Continuity and Change. Transformation wave.

Terminal 3 ultimate ini master plan tidak dirancang sebagai gedung yg terisolasi. Ia bukan sekedar bangunan megah berdiri sendiri.

Bangunan terminal di bandar Udara,atau Pelabuhan atau Stasiun Kereta api dan bis, bukan semata mata gedung tempat naik turun penumpang yg terisolasi sebagai ruang publik terpisah dari jaringan ruang publik lainnya.

Jadi meski kelihatan Terminal 3 ultimate ini sudah selesai dan bisa dihuni tetapi sebetulnya belum ready 100% sebagai suatu ecosystems.

Disebut Eco Systems untuk menyatakan bahwa Terminal 3 ultimate ini berada sebagai satu jaringan proses nilai tambah, mata rantai atau a value chain. Ibarat rumah yang baru jadi dan ditempati belum bikin kita tertidur lelap.A house is not a home.

Terminal 3 ultimate ini dirancang untuk meniru Schipol , Changi Spore atau Hongkong. Bandara megah dengan jaringan pendukung tingkat keselamatan, tingkat keamanan Dan kenyamanan tinggi.

Karenanya mohon dimaafkan jika Angkasa Pura 2 dan Garuda , dua BUMN yg diminta bersinergi mempercepat proses penggunaan Terminal ini masih hadapi kendala.

Meski para pekerja sudah bekerja dengan pola 7-24 atau 7 Hari seminggu duapuluh empat jam atau 672 jam perbulan tetap saja kenyamanan penumpang dan delay jadi problem.

Terminal 3 ultimate sebagai suatu konsep bandara Aerotropolis pertama di Indonesia memang sedang dalam tahap finishing touch.

Seperti juga Tahap melahirkan bayi yg sehat dan cerdas pada finishing touch nya memerlukan 10 tahapan, yg melelahkan dan hati berdebar ayah bunda dan Dokter serta bidan. Process in the making to become somebody.

Insya Allah.

Proses Turnaround, Transformasi, Perubahan memang tidak mudah.

Ada buku menarik berjudul :”You Can’t Order Change – Lesson from Jim McNerney’s Turnaround at Boeing”, Karya Peter S Cohan. Buku ini menarik karena merupakan kisah perjalanan kepemimpinan Jim McNerney yang melakukan proses transformasi Dan “turnaround” di Boeing.

Ia adalah CEO Boeing yang diangkat 1 Juli 2005. Sebelumnya ia adalah CEO 3 M, perusahaan teknologi berbasis inovasi. Bukunya ditulis Tahun 2008. Ketika Krisis Finansial melanda dunia.

Jim McNerney punya rumus menarik untuk memimpin perubahan kearah yang jauh lebih baik. Transformasi atau proses pembangkit nilai tambah yang melintasi Batas Gerak Maju suatu perusahaan atau Turnaround berdiri diatas 3 building block.

Yang pertama : Building Block yang menyatakan Perubahan Mindset atau Perubahan prilaku perusahaan atau unit Bisnis atau juga perubahan politik ekonomi suatu Bangsa bukan barang jadi.

Seolah transformasi Mudah direncanakan dan dibuat dalam satu malam. Akan tetapi mewujutkan nya memerlukan konsistensi, tekad baja, kerja keras seperti kata Thomas Alva. Edison 1% nya Inspirasi tetapi 99% keringat dan kerja tak kenal lelah “to achieve innovation”

Jim dalam buku itu berkata:”You Cannot Order Change.”. Kita tidak mungkin mengadakan perubahan dengan hanya mengeluarkan Surat Keputusan ini dan itu. Perubahan tak dapat diperintah besok jadi.

Yang Kedua : Building Block yang menyatakan Nyawa, Mati hidupnya perusahaan atau unit bisnis atau juga suatu Bangsa adalah Manusia Bersumber Daya yang dikelolanya.

Karenanya fokus Pemimpin adalah membangun Manusia Bersumber Daya yang dikelola nya. People before Product. Benahi Manusia Bersumber Daya baru mata rantai proses nilai tambah akan mengikutinya untuk menciptakan proses Dan product teknologi unggulan.

Yang Ketiga : Building block yg mencreate ecosystem agar Manusia Bersumber Daya Iptek jadi sumber Mata air inovasi. Jika disuatu unit tidak Ada kemajuan pastilah disana tidak ada Manusia Bersumber Daya Iptek yang Mumpuni.

Dengan tiga building block seperti diatas, McNerney memiliki metode menarik ketika memimpin Boeing.

Ia mengenalkan konsep 15 % diatas target. Ia bilang manusia bersumber daya iptek itu memiliki kelebihan kapasitas 15% yang idle. Tidak dimanfaatkan. Terbelenggu oleh ekosistem.

Konsep 15% diatas target bagi setiap orang itu di align atau diselaraskan dengan target pertumbuhan revenu perusahaan setiap tahunnya 7 %. Rumus 15 – 7 ini jadi ukuran ia menetapkan sasaran.

Tak mungkin Harimau di kebun binatang yang bukan habitat nya Akan berfungsi dan bertingkah laku seperti raja hutan seperti DNA nya.

Raja hutan tak tinggal dan hidup di habitat nya pastilah jadi Macan ompong.

Dengan kata lain habitat, ecosystems, ruang kerja, tantangan dan sasaran perlu dibenahi agar Manusia bersumber Daya yang dikelola mampu mewujutkan potensi terbaiknya.

DNA transformasi dan keahlian inovasi sukar diwujutkan dengan Surat perintah dan banyak indoktrinasi ini dan itu.

Kisah Terminal 3 ultimate dan lesson learned Boeing Tahun 2005 saya share disini karena kebetulan saya menginap di hotel dimana dari kamar saya bisa menyaksikan kesibukan bandara Schipol disiang hari dan tenangnya bandara ini menjelang subuh.

Bandara ini berdenyut sebagai sebuah kehidupan, interaksi, sibuk padat, teramati hadir silih berganti. Kadangkala ada suara diloudspeaker yang mengingatkan para penumpang untuk berhati hati menjaga barang milik pribadi.

Ada warning tentang Baggage unattended , barang bawaan yang tidak dijaga yang akan dianggap sebagai ancaman dan siap di musnahkan petugas Bandara.

Dan ada warning agar dompet Dan tas jainjing dijaga dengan baik. Sebab ditempat yang ramai Dan padat pastilah barang berharga berupa uang atau pasport yang tak terawasi akan hilang dicopet ditengah keramaian.

Bandara Schipol ini ramai tapi bersih dan nyaman. Sebuah bandara yang sering dijadikan benchmark bagi pengelola bandara lain didunia.

Dari Schipol Ini Kita bisa pindah moda angkutan, naik kereta api menuju kota kota lainnya diseluruh Eropa.

Bandara ini kini seolah jadi tempat Rendezvouz dimana para remaja , orang tua bertemu dengan mereka yang dikasihinya. Ia juga jadi tempat “business meeting”.

Bagi saya bandara atau stasiun kereta api adalah A cultural place. Ruang Publik Dan Ruang Budaya yang terkelola dengan hati.

ditempat seperti ini, ditengah mesin tak berjiwa sy berharap kegembiraan yang buat hati cerah dan penuh harapan bisa muncul seperti bayi.

Jiwa yang terasah oleh pahitnya kehidupan ditengah keramaian bertemu dengan keindahan interaksi antar sesama.

Sebuah Oase bernama Airport.

Mohon Maaf jika keliru. Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: