//
you're reading...
Creativity, Ekonomi, Entrepreneurship, Kemandirian, Perubahan

Policy Innovation dalam Unit Bisnis : Food for thought

Jusman Syafii Djamal

Inovasi kebijakan unit bisnis kini jadi topik. Sebab ekonomi sedang mandeg. Stagnant. Banyak ahli berpendapat bahwa kita kini ada dalam masa transisi. Perpindahan ecosystem berbasis analog ke digital technology. S curve Shift.

Jika satu unit bisnis tidak tumbuh revenu dan market share nya, sebab musabab nya bisa jadi bukan karena semata mata faktor ineficiency atau juga tingkat produktivitas yang rendah.

Karenanya jika Secara mikro seolah kita terbentur dgn soal mengapa penetrasi pasar terus mengkerut, bleeding financial muncul terus, dan produk yang dihasilkan tak mampu bersaing dan tak menggerakkan revenu? Maka selain Langkah pembenahan internal terus dilakukan dan Semua unit bisnis menempatkan mikroskop ke kondisi internal, jangan lupa menempatkan teleskop melihat bintang dilangit, persoalan makro

Sebab bisa saja muncul paradox.

Dalam realitas terlihat nyata bahwa Generasi muda para pekerja dan manjer yang lahir di era 70-80 an keatas memiliki daya kreativitas yang jauh lebih tinggi dibanding generasi ayah bundanya. Index Inovasinya lebih tinggi.

Tapi mengapa dalam buku kinerja dan neraca rugi laba perusahaan tak lebih baik dari tahun sebelumnya. Malah mengkerut ?

Apakah Salah strategi produk kah ? pemasaran kurang giat dan trengginas bekerja kah ? Atau quality, cost delivery tidak sesuai requirement, karena ada kekadaluarsaan dalam alat peralatan utama , mesin mekanisme dan prosedur kerja ??

Secara Nasional kita amati,Generasi anak anak saya di Indonesia, juga ternyata lebih rajin dan lebih cerdas dalam bekerja.

Sebagai Generasi Y mereka Kelihatan seolah lebih malas dari generasi sebelumnya. Easy going, gaya hidup bohemian, terperangkap dalam gadget dan smartphone, akan tetapi disisi lain cermat menggunakan waktu. Ada tendensi keahlian melahirkan “disruption”, terobosan ditikungan masalah. Lebih innovative.

Kemandegan ekonomi secara global saat ini, kata banyak ahli bukan lahir karena produktivitas dan efisiensi tidak terjadi.Masalh muncul ditataran makro Bagunan ekonomi pelbagai bangsa didunia terguncang bukan karena struktur nya tidak kokoh. Melainkan karena ada pergeseran paradigma dan peta geopolitik. Mirip seperti, Bangunan diatas bukit tergelincir bukan karena berdiri ditempat yang keliru. Tetapi tanpa diduga longsor akibat hujan turun melebihi takaran dan disusuli gempa pergeseran lempeng tektonik.

Karenanya banyak rekomendasi yang menyatakan bahwa kita perlu mengetahui anatomi masalah masa kini dengan sudut pandang berbeda. Zaman berubah, teknologi lebih cepat kadaluarsa dan konfigurasi peta geopolitik ekonomi juga berubah cepat.

Misalkan,Tidak terbayang misalnya sebelumnya mengapa Inggris bisa memilih Yes untuk pilihan Referendum Exit dari Uni Eropa atau tidak. Sukar dicerna mengapa Partai Republik di Amerika kehilangan pesona dan hanya punya calon Presiden Donald Trump yang cendrung ingin membawa Amerika untuk membangun tembok pemisah Mexico Amerika hanya karena pusing dengan masalah banjir immigrant. Padahal Amerika adalah Negara yang didirikan oleh para immigrant dan tumbuh berkembang bersama imigrant.

Selalu lahir paradox.

Karenanya banyak rekomendasi yang disampaikan oleh para ahli agar para pengambil kebijakan jangan keliru sudut pandang. Ahli makro ekonomi harus sering berdialog dengan ahli mikro ekonomi, agar synergi dan inovasi kebijakan muncul kepermukaan.

Sebab kalau tidak, obsesi kita akan kemajuan Negara dan Bangsa lain akan terkendala oeh pandangan dan fikiran serta survey tentang kelemahan bangsa sendiri, yang terus menerus mengemuka dan dipompa di mass media.

Akhirnya yang muncul diatas meja para policy maker adalah soal soal kecil disekitar absensi dan kemalasan para pengawai. Lemah ini dan lemah itu. Isue tentang kendala internal tentang hidup boros, pekerja tak disiplin dengan waktu absensi, pekerja tertidur dan kemalasan kecil yang terus mengalis minta diatasi sepanjang waktu.

Mengatasi kemalasan dan membangun disiplin pastilah sesuatu yang perlu dilakukan. Agar kita tidak boros anggaran dan sumber daya yang serba terbatas.Tetapi janganlah terus dibesar besarkan menjadi hantu disiang bolong. Sehingga semua sidik jari dan segala pintu ditutup sehingga pegawai tidak boleh keluar kamar kerjanya.

Masalah internal tiap unit dan kaitan nya dengan unit lain itu Ibarat pepatah semut diseberang lautan kelihatan, gajah dipelupuk mata tak tampak diartikan secara keliru. Yang sering kita coba telusuri dan temukan adalah semut diujung lautan yang tampak seperti dipelupuk mata. Kecil tetapi besar. Akibatnya yang dikucek mata yg seolah dirubung semut karena dianggap mengganggu.

Mata terus dikucek kucek. Sampai gajah dididepan hidung yang sedang menjulurkan belalai dan tadinya dipandang sebelah mata. Alias tidak teramati gerak geriknya, mengamuk.

Dengan kata lain jika Salah menggaruk semut, mata sendiri jadi buta ketika gajah berada didepan hidung. Kunci mobil terjatuh ditempat gelap yang ditelusuri area dibawah lampu parkir. Sementara Tekanan perubahan iklim ekonomi global terus mendera, belum lagi usai tiga empat tahun kedepan.

Dalam persfektip global kita seringkali terperangkap pada kebijakan yang terus mencoba mengulang keberhasilan obat masa lalu.

Mengobati sakit kepala dengan aspirin, tanpa peduli bahwa sakit kepala dapat muncul dari sebab lain yang tak bisa diatasi oleh aspirin semata.

Ambil contoh Defisit APBN yang telah direvisi tiga kali tentu tidak lah mungkin dicari sebabnya hanya dengan memotong pos pengeluaran SPJ , Seminar , Workshop serta kunjungan kerja. Padahal mungkin ada alokasi lain yang jauh lebih besar yang dapat direschedule atau disesuaikan dengan keadaan.

Begitu juga kalau Pajak berkurang, jangan terus yang ditubruk kenaikan hanya cukai rökok sampai petani tembakau kehilangan pekerjaan, atau pungutan pbb hingga pensiunan tidak bisa tinggal didaerah elite lagi. Padahal pastilah ada sesuatu yang ada dilain tempat yang bisa dibidik. Bukan semua yang didepan mata lantas ditubruk, seperti minum kopi didepan meja.

Dalam hal seperti ini kata inovasi kebijakan relevan untuk dibicarakan.

Inovasi banyak definisi nya. Semua ahli fikir memiliki pendapat berbeda tentang kata yang sederhana ini. Dalam tulisan ini saya mengambil formula sederhana : Inovasi = Questioning + Action atau Bertanya ditambah Kerja Nyata. Formula tambah kurang kali bagi, ini digunakan untuk membedakan kata Inovasi dari Filsafat. Sebab rumus nya terbalik. Kalau Filsafat sama dengan Bertanya dikurangi Tindakan Nyata. Philosophy = Questioning – Action.

Beda formula ini diturunkan dari pengamatan terhadap tingkah laku anak anak didik atau anak kita sendiri ketika berusia balita hingga 13 tahun. Dalam usia seperti itu Anak anak banyak mengajukan kata kata yang bersifat pertanyaan. Kata kata seperti Apa, Dimana, Siapa, Bagaimana dan Mengapa seolah tak pernah luput setiap detik.

Hanya orang tua yang jengkel yang kehilangan kesabaran dan menyumpal mulut anak anak dengan omelan dan gerutuan ini dan itu sehingga anak anak tak mungkin sempat bertanya kembali

Padahal dengan mengajukan pertanyaan anak anak sedang menuju taraf membangun kecerdasan. Melatih prosessor dalam otaknya untuk mengolah informasi dan data. Agar Neuron tumbuh dan jaringan kecerdasan meningkat tajam mengalahkan superkomputer.

Anak anak kita banyak mengajukan pertanyaan karena sedang berenang di sungai pengetahuan.Kalau kita mampu membangun ekosistem atau milleu belajar mengajar yang pas atau kondusif, pastilah anak anak muda Indonesia ini akan pintar Berfikir dan Bertindak Nyata. Jika pertanyaan banyak Kehilir terus menerus tidak puas dan bertanya mengapa dan mengapa, ia kehilangan kesempatan untuk melakukan tindakan nyata. Pertanyaan makin bermutu mengarah kearah sebab musabab peristiwa. Ia bisa menjadi Filosof.

Sementara jika pertanyaan banyak Kehulu. Dan cenderung mengarahkan pada upaya menemukan alternatip jawaban dari pertanyaan Apa, Mengapa dan Bagaimana ia akan menjadi Inovator. Merubah masalah dengan menempatkan problema diatas sudut pandang berbeda untuk merubah proses, mekanisme dan struktur masalah untuk menemukan produk baru di pasar persaingan berbeda.

Jika seoang anak terlatih untuk terus berada diitengah antara banyak bertanya dan banyak bekerja nyata. Insya Allah ia akan menjadi TechnoSof. Filosof yang mengenal Teknologi atau Teknolog yang paham Filsafat. Atau jika terus ada ditengah spektrum banyak bertanya dan banyak kerja nyata ia bisa menjadi Ekonom atau Businessman dan Entrepreneur mumpuni. Atau juga posisi tengah antara banyak berfikir dan banyak bekerja nyata ia secara bertahap akan menjadi ahli strategi Militer dan Prajurit TNI yang handal.

Pertanyaan dan kerja nyata untuk selalu Cinta Negara dan Mampu membangun keunggulan serta mempertahankan daya saing ditengah perubahan zaman.Sebuah konfigurasi kecerdasan yang diperlukan untuk mengetahui anatomi masalah masa kini untuk merajut tindakan menuju masa depan yang lebih baik.

Dengan definisi sederhana tentang inovasi seperti itu kata Questioning ang Think menjadi “engine penggerak” perubahan. Bertanya melahirkan proses berfikir dan meningkatkan keahlian membaca keadaan. Rajin membaca keadaan secara tepat dan benar akan menemukan anatomi dan episteme.

Spirit untu membaca keadaan lahir dari rasa ingin tau untuk menjawab pelbagai tanya yang sedang ada dikepala. Apa yang sedang terjadi, dimana peristiwa terjadi, bilamana, kenapa jadi begini bagaimana kalau begitu dan mengapa harus yang ini mengapa tidak yang itu.

Denan kata lain Inovasi muncul sebagai esensi penggunaan kata Iqra ayat yang turun pertama kali di Gua Hira, keahlian untuk membaca fenomena dan mensyukuri segala ciptaanNya, dan memiliki daya adaptasi dan kecepatan mitigasi (Agility) untuk proses transformasi.

Dalam hal ini, kita perlu belajar dari para wartawan dan Chief Editor yang selalu skeptis jika meliput berita. Atau kita perlu memiliki daya analisa untuk merangkai tiap titik masalah seperti keahlian ilmu detektip yang dimiliki oleh Sherlock Homes dalam Novel. Atau anggota FBI dan Bareskrim yang mirip dalam cerita filem serial tv CSI, Criminal Science Investigation. Untuk mengurut data dari hulu hingga hilir untuk menemukan pola agar peta masalah dan sekaligus alternatip solusi, dapat ditemukan. Kesemua proses itu disebut Questioning, yang jika diikuti oleh Action atau Kerja Nyata akan melahirkan inovasi.

Temuan baru, jalan baru, persfektip baru dan konfigurasi masa depan baru yang jauh lebih baik. Dalam persfektip seperti diatas barulah fondasi Berdikari dalam bidang ekonomi yang jadi visi Presiden Jokowi dan semua elemen Bangsa, dapat terwujut dimasa depan. Insya Allah.Tentu dengan prasyarat Asal kita tidak terjebak untuk terus menerus menyalahkan dan tidak percaya pada keahlian bangsa sendiri. Kita tidak perlu selalu menaruh mikroskop pada rincian masalah kecil yang bersifat kendala internal.

Dan itu berarti kita perlu mencoba menemukan persfektip baru dalam bersilancar diatas arus dan gelombang perubahan. Apa itu dan bagaimana wujutnya ? Tak ada seorangpun bisa secara sendiri memahaminya.

Diperlukan ruang dialog untuk menemukan inovasi kebijakan .
Policy Innovation perlu ditumbuhkan.

Apa benar begitu ? Mohon Maaf jika keliru. Salam

LikeShow more reactions

Comment

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

People

%d bloggers like this: