//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan, Perubahan

Menikam Kolonialisme dan Merdeka dengan Buku

Najwa Shihab
Jurnalis Televisi. Duta Baca Indonesia 2016-2020.
.
Menikam Kolonialisme dan Merdeka dengan Buku
Kamis, 18 Agustus 2016

Pada bulan kemerdekaan seperti sekarang, saya ingin mengajukan pertanyaan: “Dapatkah kita membayangkan kemerdekaan tanpa buku?”

Mari kita menelisik peran para perintis yang menyiapkan fondasi kebangsaan kita.

Dimulai sejak akhir abad 19, satu per satu bermunculan tokoh-tokoh yang awalnya hanya memikirkan cikal bakal Indonesia hingga akhirnya mewujud menjadi Indonesia Merdeka.

Dari RA Kartini dan Abdoel Rivai hingga Raden Mas Tirtoadisoerjo di pergantian abad 19 ke abad 20. Berlanjut ke Dr Wahidin, Douwes Dekker, Agus Salim hingga Cokroaminoto ke generasi Tan Malaka, Bung Karno, Bung Hatta, hingga ke angkatan berikutnya seperti Bung Sjahrir, Muhammad Yamin, Amir Sjarifuddin, sampai angkatan muda yang melahirkan peristwa Rengasdengklok.

Mereka memikirkan dan mencita-citakan Indonesia yang Merdeka karena setidaknya dua alasan.

Pertama, faktor pengalaman. Penjajahan, bagi generasi mereka, adalah pengalaman konkret sehari-hari, yang pedih dan perihnya terasa hingga ke kulitnya sendiri.

Kedua, faktor pengetahuan. Dari pengalaman konkret itu, mereka mempertajam dan memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan.

Melalui bahan bacaan, mereka mengetahui rekan-rekannya di negara-negara lain — seperti di Filipina, Tiongkok, India dan Turki– juga sedang giat-giatnya melawan penjajahan.

Melalui bahan bacaan pula, mereka menyadari bahwa kolonialisme tak dapat diterima oleh kemanusiaan, sehingga perlawanan kepada penjajahan adalah keharusan bagi mereka yang tercerahkan.

Menikam kolonialisme

Mereka semua umumnya membaca Max Havelaar, novel abad-19 karangan Multatuli yang disebut Pramoedya Ananta Toer sebagai buku yang menikam kolonialisme.

Mereka membaca karya-karya besar dari berbagai belahan dunia. Dari buku-buku biografi negarawan dan politikus, buku-buku teori filsafat, ekonomi dan politik, hingga karya-karya sastra klasik.

Para perintis kemerdekaan Indonesia adalah orang-orang dengan pikiran yang terbuka, yang matanya memandang jauh ke ujung cakrawala, yang isi kepalanya penuh dengan ide-ide besar yang datang dari berbagai penjuru dunia.

Simaklah pledoi “Indonesia Menggugat” yang dibacakan Bung Karno di pengadilan kolonial di Bandung atau pledoi “Indonesian Vrij” yang dibacakan Bung Hatta di Den Haag.
Baca juga surat-surat yang dikirim Bung Sjahrir dari pengasingan di Digoel atau catatan-catatan Tan Malaka dari berbagai negara kala berusaha meloloskan diri dari kejaran intel-intel kolonial.

Perhatikan risalah Kongres Pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda maupun risalah sidang BPUPKI yang membicarakan rancangan dasar negara.

Semuanya berisi daftar pustaka yang luar biasa kaya dan daftar referensi yang melimpah ruah. Dokumen-dokumen itu menjadi bukti betapa Indonesia dilahirkan para pembaca buku. Dokumen-dokumen itu menjelaskan hutang kita kepada buku.

Kini sudah 71 tahun Indonesia menikmati kemerdekaan. Kini sudah berjarak 86 tahun dari masa ketika Ibu Inggit Garnasih dengan nekat menyelundupkan buku-buku ke dalam sel penjara Bung Karno di Banceuy.

Didirikan oleh para kutu buku dan penulis buku, sudahkah Indonesia membayar hutangnya kepada dunia pustaka?

Indonesia memang hampir bebas dari persoalan tuna aksara yang sudah menyusut drastis hingga tersisa hanya sekitar 5-6% saja. Kendati demikian, meningkatnya angka melek huruf tidak serta merta meningkatkan minat baca.

Menurut data dari The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), budaya membaca masyarakat Indonesia berada di peringkat terendah di antara 52 negara di Asia.

UNESCO melaporkan pada 2012 kemampuan membaca anak-anak Eropa dalam setahun rata-rata menghabiskan 25 buku, sedangkan Indonesia mencapai titik terendah: 0 persen! Tepatnya 0,001 persen.

Artinya, dari 1000 anak Indonesia, hanya satu anak yang mampu menghabiskan satu buku dalam setahun.

Ini persoalan penting, ini perkara genting. Soal minat baca memang terlihat tidak semendesak persoalan energi atau pangan. Tapi bagaimana menyiapkan masa depan negeri ini jika tingkat literasi begitu rendah?

Seorang petinju di Papua memutuskan menggendong buku-buku untuk diantarkan kepada masyarakat yang ingin membaca. Ia naik turun gunung berjalan kaki, dengan buku-buku yang dimasukkan ke dalam noken, demi menjawab kebutuhan masyarakat yang kesulitan mengakses bacaan.

Di lereng gunung di Bandung Selatan, seorang pedagang tahu menggunakan gerobaknya untuk mengantarkan buku-buku kepada warga kampung yang membutuhkan.

Di lereng Gunung Slamet, seorang bapak berkeliling dengan delman siap meminjamkan buku kepada siapa saja yang berkenan membaca.

Di Mandar, sekelompok pemuda gigih mengantarkan buku-buku melalui perahu ke pulau-pulau yang jauh dari buku.

Di Surabaya, Jakarta, dan di kota-kota yang lain, ada orang-orang dengan semangat serupa yang gigih mengkampanyekan pentingnya membaca. Tanpa dibayar, bahkan mesti keluar uang untuk membeli buku dan ongkos ini itu, mereka dengan keras kepala mengantarkan buku-buku kepada siapa pun yang mau membaca.

Negara tidak bisa diam. Saatnya berbarengan bergerak. Bukan besok, lusa, apalagi tahun depan. Tapi sekarang. Sebab menyiapkan generasi yang mencintai ilmu pengetahuan adalah tugas besar bersama. Sekarang!

Penulis: Najwa Shihab

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: